55. Tak harus memiliki

2.8K 313 14
                                        


.
.
.
.
.
Tidak mudah merubah tatapan yang biasa Savian berikan pada Danish setelah pengakuan pemuda itu semalam, meskipun Savian tau jika Danish menyukai Jeffrey namun terasa sangat berat saat harus merelakan.

Savian ingin egois dengan berjuang lebih keras untuk mendapatkan hati pemuda mungil itu, tapi dia sadar jika mungkin nantinya dia bisa saja menyakiti Danish karena hal itu.

"Bang Vian, ayo!" Savian tersenyum dan mengangguk saat Danish sudah siap. Mereka akan ke salon langganan Akrala pagi ini, dan anggota yang lain masih tertidur.

"Mau ganti warna apa?" Danish tampak berpikir sejenak sebelum menggeleng.

"Gak tau bang, gue bingung." Savian hanya tersenyum, selama ini dia tidak tau apa yang dilakukan Erhan saat mengantar Danish mengganti warna rambutnya.

"Di pikirin dulu aja mau ya warna apa." Danish mengangguk sambil sesekali menatap layar ponselnya.

Savian memperhatikan tingkah Danish dari ekor matanya, karena dia sendiri juga masih harus fokus menyetir.

"Oh!" Savian menoleh pada Danish saat mendengar seruan kencang pemuda mungil itu.

"Kenapa?"

"Bang, kalau gini aja gimana? Bagus gak kira-kira?" Savian mengerjap saat Danish menunjukan salah satu video berisi cuplikan film yang menunjukan karakter utamanya, bukan itu yang membuat Savian terkejut, tapi warna rambut sang pemeran utama yang membuat Savian terkejut.

"Lo yakin?" Danish mengangguk mantap, dia sudah sangat tertarik dengan warna rambut itu.

"Iya gue mau itu aja bang."
.
.
.
.
.
"Bang bagus kan ya?" Savian mengangguk setuju saat Danish menatap ke arahnya. Harus Savian akui jika Danish terlihat manis dengan rambut oreo miliknya.

"Anak-anak pasti kaget liat rambut lo nanti." Danish tertawa kecil sebelum memilih mendekati Savian.

"Biarin aja bang, kan bagus." Savian tersenyum dan mengangguk.

"Ya udah ayo balik ke asrama, hari ini seharian kita istirahat." Danish mengangguk, sebenarnya dia juga cukup lelah.

"Bang beli rotikopi dulu ya?" Savian mengangguk kecil.

"Iya nanti kita beli dulu, tapi lo tunggu di mobil aja biar gue yang masuk." Danish hanya bisa setuju atas ucapan Savian.

Savian beberapa kali melirik ke arah Danish yang terlihat bahagia, bagi Savian seperti ini saja sudah cukup. Danish tidak perlu tau bagaimana perasaannya terhadap pemuda mungil itu, asal Savian bisa bebas dekat Danish seperti ini. Masalah perasaannya biarlah menjadi urusannya sendiri, Savian akan bahagia jika melihat Danish bahagia.

"Bang Vian, gue mau empat ya roti nya?" Savian mengangguk sebelum turun dari mobil.

Senyum Danish menghilang saat Savian keluar dari mobil, sebenarnya alasannya ingin mengganti warna rambutnya karena dia sedang pusing. Danish sedang memikirkan bagaimana cara agar Savian tidak dekat-dekat dengan Sandi.

"Danish?" Danish tersentak saat mendengar suara Savian.

"Kenapa?" Danish menggeleng sambil tersenyum manis, meskipun hal itu tidak mampu membuat Savian tenang.

"Pulang ya bang." Savian mengangguk.

"Capek ya?" Danish terpaksa mengangguk saat Savian mengelus kepalanya.

"Sabar, kita langsung pulang habis ini."
.
.
.
.
.
"Danish!"

Sret

Danish segera menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Savian, dia sedang tidak ingin meladeni Wiya saat ini.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang