.
.
.
.
.
Pemuda itu menatap nanar pada sebuah novel yang baru saja rilis dan di pajang di sebuah toko buku terkenal di kota nya, dia mengenal sinopsisnya, sangat mengenal. Bahkan alur cerita yang di dapat dari novel itu pun dia sangat mengenalnya.
"K-kenapa bisa?" Pemuda itu dengan terpaksa membeli novel yang di bacanya itu, dia ingin memastikan sesuatu.
"Tidak ada yang berbeda dari novel ini kecuali nama tokoh dan judulnya, tapi –"
Deg
Pemuda itu mematung saat melihat profile penulis di halaman belakang novel, foto dan nama yang tertulis disana sangat dia kenal.
"Jovanka Nesya." Pemuda itu mengepalkan tangannya, dia marah bercampur kecewa.
Brak
Pemuda itu memilih pergi dengan membawa novel itu, tujuannya saat ini adalah menemui sang penulis yang namanya tertera di novel itu.
"Agra mau kemana?!" Pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari sahabatnya yang baru saja akan ke rumah nya.
"Anak itu kenapa? Katanya sakit?"
Hanya butuh waktu dua puluh menit, untuk Agra sampai di sebuah rumah mewah yang sangat dia kenal.
Bagaimana tidak, jika di rumah itu dulu dia tumbuh dengan segala hal yang sangat menyakitkan.
"JOVANKA NESYA!!" Suara Agra langsung menggelegar begitu dia masuk kedalam rumah. Pemuda itu tidak peduli jika nantinya dia akan kena marah oleh penghuni rumah itu atau tidak.
"Agra?" Agra menatap datar pada seorang wanita yang baru saja keluar dari dapur.
"Kamu pulang nak? Kenapa teriak-teriak?" Agra menghindar saat wanita itu akan memeluknya.
"Dimana anak kesayangan bunda itu?" Wanita itu tau ada yang salah dengan putra sulung nya itu.
"Vanka? Kenapa cari Vanka?"
"Bilang aja dimana anak kesayangan bunda itu?" Agra masih berusaha tidak berteriak karena dia menghormati sang ibu.
"Ada di dalam, ayo masuk." Agra hanya menurut saat ibu nya meminta masuk.
"Novel kamu terbit loh dek, peminatnya banyak."
"Iya yah, bahkan ada yang minta sekuelnya buat di terbitin juga."
"Kalau gitu terbitin sekalian dek."
"Iya yah, nanti Vanka pindah dulu folder nya biar enak editnya."
Agra semakin mengepalkan tangannya saat mendengar percakapan itu, percakapan yang terjadi antara ayah dan kakak adik perempuannya itu.
"Apa selama ini ayah sama bunda ngajarin lo jadi pencuri Jovanka Nesya?"
Deg
Ucapan dingin Agra membuat ketiga orang yang ada disana terkejut.
"Agra?"
"Agra, apa maksud kamu ngomong kayak gitu?" Agra menatap sang bunda sebelum beralih menatap tajam pada gadis seusianya yang terlihat gugup di sofa.
"Agra jangan bicara yang tidak-tidak!" Agra menaikan sebelah alisnya saat mendengar sentakan sang ayah.
"Mau sampai kapan kalian terus membela anak ini? Dia bahkan melakukan hal yang sangat buruk dengan mencuri milik orang lain." Vanka mengepalkan tangannya erat saat mendengar hal itu dari mulut Agra.
"L-lo gak usah nuduh sembarangan!"
Brak
Agra membanting novel yang di bawanya ke atas meja, hal itu menghasilkan tatapan bingung dari kedua orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
