43. Syuting tanpa Mada

4K 356 8
                                        


.
.
.
.
.
Kenzo menatap pintu kamar Danish dan Savian yang tertutup rapat, sudah dua hari pintu itu tidak terbuka sama sekali. Danish mengurung dirinya disana tanpa mau keluar sedikit pun.

Tidak ada yang tau apa yang membuat Danish menjadi seperti itu, Jeffrey juga mengatakan jika dia tidak tau akan hal itu.

"Belum keluar juga?" Kenzo menggeleng saat Savian bertanya. Saat pemuda itu kembali ke asrama kemarin, dia bahkan tidak bisa masuk ke dalam kamar nya.

"Gak ada satu pun diantara kita yang bisa ngebujuk Danish buat keluar dari kamar, anak itu bahkan belum makan dua hari bang." Savian menghela nafas panjang, dia bingung sebenarnya Danish kenapa?

Savian menatap Jeffrey yang baru masuk kedalam asrama, di tangannya terdapat sebuah kantung plastik berisi beberapa bungkusan dari rotikopi.

"Bang Sav, itu buat Danish?" Savian mengangguk saat Jeffrey menunjuk pada segelas susu yang ada di tangannya.

"Iya, dia gak mau makan, jadi paling gak dia bisa minum susu. Tapi gue bingung kasih nya gimana, dia sama sekali gak mau buka pintu." Jeffrey ikut menatap pintu coklat di hadapan mereka itu.

"Biar gue coba bang, kalian tunggu di sofa aja. Mungkin Danish lagi gak mau diganggu dulu." Savian mengangguk dan menyerahkan gelas berisi susu itu pada Jeffrey.

"Semoga di buka ya, kalau di buka, bilangin kita khawatir." Jeffrey mengangguk dan mulai mendekati kamar Danish dan Savian.

Tok

Tok

Tok

"Danish, cil. Ini gue Jeff, buka pintunya ya." Jeffrey mencoba memanggil pelan, dia tidak ingin membuat Danish yang sedang sensitif kembali menangis.

Tok

Tok

Tok

"Cil, gue sendiri kok, gak ada yang lain."

Klik

Mata Jeffrey melebar saat mendengar suara kunci pintu di buka, pemuda itu menatap ke arah Savian, Kenzo, Ersya dan Wiya yang ada di sofa dan memberi kode bahwa Danish membuka pintu kamarnya.

Cklek

Jeffrey masuk ke kamar Danish dan Savian dengan perlahan, pemuda itu tidak lupa menutup rapat kembali pintu itu.

"Danish."

Grep

Lagi-lagi Jeffrey mendapat pelukan erat dari Danish, beruntung Jeffrey sudah sempat meletakan gelas susu yang di bawahnya ke atas nakas.

"Gue bawain rotikopi tuh, makan dulu ya?" Danish menggeleng dalam pelukan Jeffrey.

"Cil, lo harus makan. Lihat nih lo balik kurus lagi, padahal cuma dua hari. Bang Sav buatin lo susu, di minum ya?" Danish melepaskan pelukan Jeffrey dan menatap ke arah segelas susu dan tiga bungkus rotikopi yang ada di atas nakas.

"Maaf bang." Jeffrey menggeleng.

"Lo gak perlu minta maaf cil, gue ngerti dan paham banget apa yang buat lo kayak gini. Tapi lo gak bisa sedih terus kayak gini, ayo bangkit! Setelah itu lo bisa balas mereka, gue siap bantuin lo. Ada Aska sama Alicia yang selalu siap buat bantuin lo." Danish terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Jeffrey.

"Lo bakal bantuin gue kan bang? Janji?" Jeffrey mengangguk, bahkan menautkan jari kelingking nya pada kelingking Danish.

"Iya gue janji, gue bakal selalu ada buat bantuin lo. Sekarang minum susu nya ya?" Kali ini Danish mengangguk dan hal itu membuat Jeffrey menghela nafas lega.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang