90. Kehancuran sebuah keluarga

2.8K 281 10
                                        


.
.
.
.
.
Jeffrey menatap layar ponselnya yang menunjukan sebuah platform sosial media, pemuda itu baru saja mengupload sebuah video tentang Sandi yang memaksa Danish untuk mencicipi kue buatannya, di barengi juga sebuah caption yang mengatakan jika karena hal itu Danish harus di larikan ke rumah sakit karena alerginya kambuh.

Jeffrey melakukan semua itu setelah berunding dengan Saka, sahabat Agra itu menyarankan Jeffrey untuk membuka semuanya.

Menurut Saka, Sandi harus di hujat dulu sebelum mulai diadili, karena jika langsung proses hukum itu tidak akan memberikan hukuman jera untuk pemuda pick me itu.

"Danish." Danish bergeming, pemuda itu sama sekali tidak merespon panggilan Jeffrey ataupun anggota Akrala yang lain.

Jeffrey melihat sekeliling nya, memastikan jika tidak akan ada anggota lain yang masuk ke ruang rawat Danish selama dia mengajak Danish berbicara.

"Agra." Danish menoleh perlahan saat Jeffrey memanggil nya Agra, hal itu membuat Jeffrey tau jika jiwa Agra sedang lelah berpura-pura.

"Capek ya?" Danish mengangguk kecil, tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.

"Capek bang, gue capek! Salah gue apa? Kenapa gue gak pernah boleh bahagia? Kenapa ayah sama bunda sebenci itu sama gue?" Jeffrey mendekati Danish yang sedang menunduk.

Grep

"Nangis aja, luapin semuanya biar hati lo tenang. Gue disini Gra, gue bakal terus ada disini buat lo. Gue gak akan ninggalin lo, apapun keadaan lo nanti." Danish menggeleng dalam pelukan Jeffrey, dia tau Jeffrey patut mendapatkan orang yang lebih baik dari nya.

"Gak! Lo gak akan ada sama gue terus! Suatu saat lo pasti ninggalin gue bang! Saat lo nemu orang yang lebih baik dari gue, orang yang masih suci gak kotor kayak gue!"

Deg

Jeffrey yang mendengar teriakan Danish memilih mengeratkan pelukannya pada pemuda mungil itu, hatinya sakit saat mendengar Danish menyebut dirinya sendiri kotor.

"Gak akan! Gue akan selalu sama lo, lo gak kotor, lo sempurna di mata gue apapun keadaan lo. Jadi gue mohon jangan berpikir kayak gitu lagi ya? Hati gue sakit." Danish menangis keras setelah mendengar Jeffrey mengatakan hal itu.

"Gue capek bang! Gue capek! Kenapa mereka gak pernah ngertiin gue, mereka udah ambil semua yang gue punya, tapi gue gak pernah sedikitpun lihat penyesalan di mata mereka." Danish merancau dalam pelukan Jeffrey beruntung Danish tidak menyebut Agra saat ini, karena anggota Akrala yang lain tengah berdiri di ambang pintu kamar rawat Danish.

"Ada anggota yang lain Dan." Jeffrey memutuskan berbisik pada Danish, agar pemuda yang lebih muda itu tau.

"Gue pingin nyusul kak Agra sama kak Janesh, gue capek bang." Suara Danish memang lirih namun masih bisa di dengar oleh semua yang ada disana.

"Kalau capek istirahat cil, tapi inget jangan nyerah, gue sama yang lain ada disini buat nungguin lo."
.
.
.
.
.
"Pihak Himmel memutus kerja sama dengan kamu Sandi, pemotretan selanjutnya dengan Akrala akan menjadi project terakhir kamu dengan Himmel." Ucapan sang manager membuat Sandi mematung tidak percaya.

Hanya dalam waktu tiga hari hampir semua brand memutuskan kontrak dengannya, bahkan sudah banyak jadwal nya yang di cancel karena masalah video nya viral.

Banyak hujatan yang datang padanya, hingga membuat Sandi takut untuk keluar dari rumah sang manager.

"Kenapa kamu melakukan itu San? Lihat kamu sendiri yang rugi." Sandi menunduk dan menangis saat sang manager memarahinya.

"Maaf bang, semua itu Danish duluan yang provokasi, dia bilang aku gak boleh deketin kak Savian." Sang manager memijat pangkal hidung nya.

"Ayo buat klarifikasi bang, semua orang pasti percaya aku!" Sang manager menggeleng.

Akrala (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang