87. Sidang

2.4K 277 18
                                        


.
.
.
.
.
Danish berkali-kali menghembuskan nafas berat, pagi ini dia akan pergi ke pengadilan, berhadapan dengan orang tua juga adik nya.

Meskipun saat ini dia adalah Danish, namun jiwanya tetap seorang Agra, pemuda yang sebenarnya menyayangi keluarga nya namun terasingkan.

Danish memejamkan matanya, ingatan demi ingatan tentang perlakuan keluarganya saat dia masih berada di raga nya sendiri kembali berputar di kepala Danish. Rasanya ingin sekali Danish melupakan hal itu, karena cukup ingatan Danish asli saja sudah membuatnya sakit, kini di tambah oleh ingatan tentang raga nya sendiri.

"Maafin Agra bun, mungkin Agra bunda sama ayah akan bilang kalau Agra durhaka jika tau. Ini memang Agra, jiwa Agra, tapi raga Agra sudah meninggal bun, putra sulung bunda sudah meninggal di bunuh oleh putri kesayangan bunda." Danish tertawa kecil, namun jika ada yang melihat tawa itu, mereka akan tau jika tawa itu adalah tawa miris.

"Agra kenal bagaimana kalian, kalian akan lakukan banyak cara untuk melindungi Vanka, tapi Agra juga anak kalian. Sedikit banyak sifat licik kalian ada di diri Agra, jadi jangan salahkan Agra kalau nanti nya Agra juga melakukan banyak cara untuk melawan kalian dan membuat kalian menyesal."

Grep

Danish terdiam saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya, namun Danish tau tidak ada yang bisa masuk ke studio nya selain Jeffrey.

"Bang Jefy." Jeffrey yang memeluk tubuh mungil Danish hanya berdehem.

"Hm?"

"Aku gak akan kalah kan bang?" Jeffrey mengangguk.

"Ya, kamu akan menang. Bukti yang kamu berikan sudah sangat kuat, lagi pula Vanka memang melakukan plagiat. Kamu gak perlu khawatir, perusahaan penerbit yang bersangkutan juga akan memberi kesaksian."
.
.
.
.
.
Danish menatap gedung pengadilan di hadapannya lekat, gedung pengadilan itu tidak ramai, sama sekali tidak ada paparazi di sana karena pihak Danish yang ingin menyembunyikan hal itu.

"Danish, sudah siap? Sidang akan di mulai tiga puluh menit lagi." Danish hanya mengangguk, pemuda mungil itu mencoba mempertahankan wajah datar nya.

"Apa itu pihak tersangka?" Pertanyaan Yuvan membuat semua yang ada di sekitar Danish mengikuti arah pandangan Yuvan. Sepasang suami istri dan seorang gadis tampak menghampiri mereka.

"Ada apa?" Erhan yang mengenali mereka segera bertanya sebelum mereka benar-benar berdiri di hadapan Danish.

"Kami ingin berbicara dengan Danish." Danish menatap datar pada pria paruh baya yang sangat dia kenali itu.

"Apa yang anda inginkan?" Suara Danish membuat Erhan yang semula ingin menjawab menjadi diam memperhatikan.

"Nak, apa tidak bisa jika laporan nya kamu tarik saja? Apa kamu tidak kasihan melihat putri kami?" Danish mengepalkan tangannya, bahkan Jeffrey, Yuvan, Mada, Savian, juga Erhan yang ada di sana di huat kesal oleh ucapan wanita di hadapan mereka itu.

"Kenapa saya harus kasihan pada orang yang sudah mencuri milik saya?" Ucapan Danish yang ketus membuat semua yang ada disana terkejut.

"Aku tidak mencuri!" Danish menaikan sebelah alisnya saat Vanka tiba-tiba menyentak nya.

"Lalu apa namanya jika mengambil karya orang dan mengakui karya itu menjadi milik mu, jika bukan pencuri?" Vanka mengepalkan tangannya erat saat mendengar Danish mengatakan hal itu.

"Jaga kata-kata mu nak? Kamu tidak tau apa yang akan terjadi di dalam sana!" Danish hanya mengedikan bahunya acuh, namun tangan pemuda mungil itu menahan tangan Jeffrey dan Mada yang sudah akan merangsek maju.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang