.
.
.
.
.
Yuvan selalu saja merasa bersalah saat melihat Danish, apa lagi setelah pingsan nya pemuda mungil itu.
Yuvan terlihat mendekat namun akhirnya memilih menjauh dari Danish, pemuda jangkung itu takut akan menyakiti Danish.
"Kalau lo mau deketin ya sana loh Van, jangan cuma ngeliatin disini aja." Yuvan menunduk saat mendengar ucapan Kenzo.
"Bang Yuyu!" Kenzo tersenyum saat melihat Danish menghampiri mereka, namun Yuvan langsung berbalik dan berlalu pergi.
Danish yang melihat itu langsung menghentikan langkah nya, senyum yang sebelumnya terpatri indah juga langsung menghilang.
"Bang Yuyu benci lagi sama gue ya?" Danish bergumam pelan, dengan tatapan yang fokus pada punggung Yuvan yang menjauh.
"Danish." Danish mendongak dan menemukan Kenzo ada di hadapannya, pemuda mungil itu mencoba tersenyum saat melihat kakak terbaik nya itu tersenyum.
"Kamu ada perlu sama Yuvan?" Danish menggeleng pelan.
"Gak bang, manggil aja tadi, kalau gitu gue keluar dulu ya bang, mau ke studio." Kenzo mengangguk saat Danish melangkah menjauh. Danish baru saja berbohong padanya, jelas sekali jika dia terlihat sedih saat Yuvan tidak menghiraukan panggilannya.
"Loh Danish mau kemana?" Ersya yang baru saja keluar kamar langsung bertanya pada Kenzo.
"Ke studio katanya, udah jangan di ganggu dulu." Ersya mengernyit.
"Ada apa sih?" Kenzo memberi kode pada Ersya dengan menatap ke arah Yuvan yang sedang duduk di sebelah Mada.
"Yuvan masih ngehindari deket sama Danish?" Kenzo mengangguk, hal itu membuat Ersya berdecak kesal.
"Ck, bego!" Kenzo tersenyum saat melihat Ersya kesal pada Yuvan.
"Yuvan Mahardhika lo ngebuat Danish sedih!!" Yuvan terkejut mendengar teriakan Ersya. Jelas saja terkejut, karena Ersya tidak pernah berteriak seperti itu padanya.
"Maksud lo apa?"
"Tingkah lo ini ngebuat Danish sedih! Sana susulin dia ke studio, terus ajak jalan! Minta maaf, jangan sampe lo nyesel kalau dia ikut ngejauh dari lo!" Mendengar hal itu Yuvan dengan cepat meraih jaket nya dan segera menyusul Danish ke studio.
"Giliran di bilangin gitu aja panik, dasar bego."
.
.
.
.
.
Danish terkejut saat Yuvan mendatangi nya dan mengajak nya jalan-jalan secara tiba-tiba, padahal jelas sekali jika tadi Yuvan menghindarinya.
"Bang Yuyu kenapa? Kesambet setan beruang ya?" Danish kan jadi ngeri melihat perubahan sifat Yuvan saat ini.
"Gue gak kesambet, udah ayo ikut. Anggep aja ini permintaan maaf gue karena udah ngacangin lo." Danish merengut, jika dia ingat dia jadi sebal sendiri pada Yuvan.
"Lagian ya, kenapa sih bang Yuyu pake ngacangin gue? Gue ada salah gitu?" Yuvan menggeleng.
"Bang Yuyu bikin gue bingung, gue takut kalau bang Yuyu balik kayak dulu lagi." Yuvan kembali merasa bersalah saat mendengar suara Danish yang melirih di ujung kalimatnya.
"Maafin gue ya, makanya sekarang gue ajak lo jalan-jalan, terserah lo mau kemana deh." Danish menatap Yuvan lekat.
"Terserah gue ya? Beneran?" Yuvan mengangguk.
"Okey kalau gitu tunggu sebentar, gue mau ambil jaket!" Yuvan tersenyum senang saat Danish mengiyakan ajakannya.
"Kalau gue bilang nanti, dia gak bakal ngejauh dari gue kan?"
.
.
.
.
.
Yuvan hanya pasrah saat Danish mengajaknya ke pantai, karena sejujurnya Yuvan tidak terlalu suka pantai. Tapi sepertinya Danish suka berada di pantai saat sore seperti ini, pemuda itu terlihat bahagia hanya karena kaki telanjang nya menyentuh pasir pantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanficAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
