98. Mencoba berdamai

2.2K 219 11
                                        


.
.
.
.
.
"Kamu harus mulai mencoba berdamai dengan Wiya, Danish. Kalian bertemu setiap hari dan akan berinteraksi dengan nya, kamu tidak bisa terus ketakutan seperti ini kan?"

Ucapan Firly dua hari lalu kembali terngiang di kepala Danish, memang ketakutannya terhadap Wiya sedikit mengganggu. Terutama saat mereka harus berinteraksi di depan kamera, Danish harus berakting seolah semua baik-baik saja.

Bukan keinginan Danish seperti ini, namun sebagai korban pelecehan seksual yang harus bertemu dengan pelaku setiap hari jelas membuat batin sang korban tersiksa.

"Gue harus damai kayak gimana sama bang Yasa, sedangkan kalau gue liat bang Yasa dari jarak dekat di belakang kamera aja gue merasa terancam." Danish menghela nafas panjang, beruntung saat ini dia ada di studio nya seorang diri.

"Gue harus apa? Gue juga gak mau terus terusan kayak gini." Danish memejamkan matanya dan mencoba terlelap, siapa tau saat bangun nanti dia akan memiliki cara untuk berdamai dengan Wiya.

"Gue kangen hidup sebagai Agra, diem di kostan tanpa harus banyak gerak. Tapi gue juga seneng jadi Danish sekarang, gue bisa main musik tanpa larangan."
.
.
.
.
.
Danish tidak tau apa yang membuatnya melakukan hal nekat seperti ini, datang ke studio tari untuk menemui Wiya yang sedang latihan seorang diri.

Danish tau cara nya cukup gila, karena dia sendiri belum yakin jika tubuhnya tidak akan memberikan respon seperti yang sebelumnya.

Danish mematung di depan pintu kaca yang akan membawanya ke ruang latihan, ruangan yang selama beberapa bulan ini tidak permah dia masuki lagi karena trauma nya. Ruangan dimana semua mimpi buruknya bermula.

Cklek

Danish membuka pintu perlahan, di dalam sana terlihat Wiya yang sedang sibuk berlatih dance dengan serius hingga tidak menyadari kehadiran Danish disana.

Danish mengepalkan tangannya, mencoba menahan segala rasa takut dan segala macam emosi yang mulai muncul.

Tit

Wiya mematikan musik yang sedari tadi menemaninya berlatih, tidak ada suara apapun yang terdengar kecuali deru nafas Wiya.

Sret

Wiya mematung saat dirinya berbalik dan menemukan Danish tengah berdiri di ambang pintu studio yang sudah tertutup.

Wiya panik, tidak ada tempat yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi dari Danish disini, satu-satunya pintu keluar ada di belakang Danish.

"Danish." Danish semakin mengeratkan kepalan nya saat mendengar Wiya memanggil namanya, rasanya sama seperti malam itu, saat Wiya memanggil namanya.

"Danish, kenapa disini?" Wiya terlihat panik, dia takut jika Danish kembali tersiksa dengan ketakutan nya seperti saat itu.

"Kenapa?" Wiya mematung saat mendengar suara lirih Danish.

"Kenapa lo ngelakuin itu ke gue bang?" Wiya menunduk setelah Danish menyelesaikan pertanyaannya.

"Sorry, maafin gue, gue mabuk saat itu. Maafin gue Dan."

Bruk

Wiya berlutut di tempat nya, kepalanya tertunduk tanpa berani menatap ke arah Danish.

"Lo ngehancurin gue bang, lo ngehancurin kepercayaan yang gue bangun susah payah ke lo." Wiya mengepalkan tangannya, hatinya terasa sakit saat mendengar hal itu secara langsung dari Danish.

"Lo bikin gue ketakutan setiap malam sejak hari itu, lo bikin gue sakit, kenapa lo seneng ngeliat gue sakit??!!" Wiya meneteskan air matanya saat mendengar Danish menaikan suara nya.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang