74. Kejutan

2.8K 295 9
                                        


.
.
.
.
.
Ketujuh anggota Akrala tampak terkejut saat mereka langsung di arahkan kearah restoran hotel, mereka akan makan malam sebelum kembali memainkan game.

"Bang, ini beneran kita makan dulu? Gak nanti aja?" Yuvan menatap ke arah Irham yang mengangguk.

"Gak, kita akan merekam kalian di awal setelah itu kalian bisa makan dengan tenang sebelum memulai game." Yuvan akhirnya mengangguk.

Yuvan tau jika anggota Akrala yang lain tidak sesemangat biasanya, hal ini tentu saja di karenakan mereka belum mendapat kabar apapun dari Danish.

Tap

Yuvan menoleh saat pundaknya di tepuk oleh Savian, anggota Akrala tertua itu mengulas senyum dan meminta Yuvan untuk segera duduk.

"Sudah ayo syuting dulu."

"Gue gak selera bang, ini semua makanan kesukaan Danish." Savian mengangguk, mereka memang akan memakan seafood kali ini, dan itu adalah hal favorite Danish.

Proses syuting mereka berjalan lancar diawal, karena mereka memang hanya akan mengambil gambar diawal, setelah itu anggota Akrala kembali di biarkan makan dalam hening.

Tidak ada yang membuka suara, bahkan Wiya yang sebelumnya sangat berisik langsung berubah diam. Masing-masing anggota Akrala tenggelam dalam pikiran mereka, memikirkan kemungkinan terburuk jika mereka harus tetap jalam tanpa Danish.

"Gue kangen sama Danish." Gumaman Ersya membuat yang lain langsung menatap ke arah pemuda itu.

"Kita semua kangen sama dia Ya, tapi kita cuma bisa nunggu kabar aja." Ersya mengangguk, benar kata Kenzo, mau bagaimana pun mereka menolak jika Danish sudah memutuskan maka mereka hanya bisa menerima.

"Udah lanjutin dulu makannya, habis ini kita akan mulai syuting lagi."
.
.
.
.
.
"Danish, kamu yakin mau pergi kesana?" Rina mengelus lembut kepala Danish.

"Iya ma, Danish yakin." Rina tersenyum sendu, dia tidak rela jika putra bungsunya yang baru saja pulih harus pergi dari rumah.

"Kamu sudah menghubungi mereka?" Danish menggeleng.

"Danish sengaja gak hubungin mereka ma, karena Danish tau mereka pasti akan tanya macam-macam, Danish gak siap buat jawab nya."

Pluk

Danish mendongak saat kepalanya di tepuk pelan oleh Balthasar.

"Udah gak usah di pikirin, semua keputusan ada di tangan mu, mereka gak akan bisa nolak yang mereka bisa hanya menerima." Danish mengulas senyum dan mengangguk.

Sebulan terakhir ini Danish sudah berdamai dengan keluarganya, Danish mengatakan jika dia memaafkan mereka semua, dan semua itu karena buku harian Janesh.

"Ya udah, gak ada ketinggalan kan?" Danish menggeleng. Lagi pula dia tidak perlu membawa banyak barang, dia bahkan hanya membawa satu koper sedang dan sebuah tas kecil yang diisi oleh dompet, hape, beberapa barang penting juga obat-obatan nya.

"Papa sudah nunggu di bawah." Danish membiarkan tubuhnya di peluk oleh Rina, entah kenapa sejak mereka meminta maaf Rina senang sekali memeluk tubuhnya.

"Kalau kamu kekurangan uang langsung bilang ke mama atau pala ya nak, jangan pakai uang kamu sendiri, biarin mama sama papa nebus semuanya." Danish hanya tersenyum tipis.

"Cukup jangan jauhin Danish, dan jangan perlakuin Danish kayak dulu aja itu udah cukup ma. Danish gak akan minta yang lain, cukup perlakukan Danish seperti anak kalian saja, Danish sudah bahagia." Rina rasanya ingin menangis, anak yang dulu selalu dia tuntut sempurna bahkan semuda itu mengucapkan maaf.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang