.
.
.
.
.
Savian menghela nafas lega saat tau jika Danish baik-baik saja dari Firly, kejadian di lokasi pemotretan itu sudah menyebar dan hampir semua staff tau akan pingsan nya Danish di toilet.
Bahkan menurut beberapa staff yang kebetulan melihat interaksi Danish dengan Sandi dan managernya, mereka mengatakan jika Sandi memaksa Danish mencoba kukis miliknya, padahal Danish sudah menolak.
"Sandi sialan, dia maksa Danish padahal dia tau kalau Danish alergi kacang!" Savian mengepalkan tangannya erat, dia marah dan kesal, seharusnya dia menuruti ucapan Danish untuk menjaga jarak dengan Sandi.
"Savian sudah, tenangkan emosi kamu. Jika kamu belum tenang, kamu tidak boleh bertemu Danish." Savian menghembuskan nafas panjang, mencoba menenangkan emosi nya yang keluar.
"Danish benar-benar baik-baik saja kan bang?" Erhan mengangguk, dia sudah mendengar kabar dari Firly jika Danish baik-baik saja dan tidak perlu di rawat inap.
"Firly bilang Danish baik-baik saja, reaksi alerginya tidak buruk karena Danish dengan cepat memuntahkan kembali kukis itu." Savian bisa bernafas lega sekarang.
Savian hanya diam saat menghampiri Danish di ruangan yang sudah di beritahukan Firly, meskipun tidak harus menginap tapi mereka harus tetap menyembunyikan indentitas Danish.
"Danish." Pemuda mungil yang sedari tadi hanya diam itu akhirnya menoleh saat mendengar suara Savian.
"Bang Vian." Savian mendekat dan mengelus kepala Danish.
"Ada yang sakit?" Danish menggeleng pelan.
"Gue gak papa bang, cuma lemes." Savian kembali menghela nafas saat mendengar jawaban Danish.
"Danish kamu makan kukis buatan Sandi?" Danish mengangguk saat Erhan bertanya.
"Kenapa di makan?" Danish langsung memasang wajah kesal.
"Itu anak maksa bang, bahkan managernya juga ikutan maksa meskipun saya sudah menolak." Savian semakin terlihat marah saat mendengar ucapan Danish.
"Mulai sekarang jangan dekat-dekat dengan Sandi, Dan. Gue gak mau lo celaka lagi." Danish merengut saat Savian mengatakan itu.
"Gue gak pernah deket-deket dia bang, dia ngeselin soalnya."
.
.
.
.
.
Danish dan Savian pulang ke asrama seperti biasa, seolah tidak pernah ada kejadian pingsannya Danish tadi.
Danish memaksa Savian, Erhan dan Firly untuk tidak mengatakan yang terjadi tadi pada anak-anak Akrala yang lain.
"Langsung mandi terus istirahat Dan, mumpung yang lain belum pulang." Danish mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi, karena Savian memilih membereskan kamar mereka terlebih dahulu.
"Jangan mandi lama-lama Dan, nanti kamu berubah jadi ikan." Savian tertawa saat mendengar gerutuan Danish dari dalam kamar mandi.
Cklek
"Bang Vian ngeselin!" Savian kembali tertawa saat Danish keluar dari kamar mandi setelah sepuluh menit.
"Udah sana istirahat." Danish mengangguk dan segera berjalan mendekati Savian.
Cup
"Makasih bang." Savian memejamkan matanya saat Danish mengecup pipi kanan nya. Kalau begini cara nya bagaimana dia bisa mengubur perasaannya pada leader mungil itu.
"Iya sama-sama, gue mau mandi dulu."
Beruntung nya Savian adalah orang yang bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik, jika tidak sudah pasti Danish akan cepat menebak ekspresinya.
"Bang Vian, nanti sore gue mau jalan-jalan sama bang Dabi!"
.
.
.
.
.
Danish menatap Mada aneh, sejak mereka keluar dari asrama sore tadi, Mada selalu saja memperlakukan Danish dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
