100. Akrala

4.1K 234 29
                                        


.
.
.
.
.
Akrala sedang mempersiapkan diri mereka untuk melakukan live, sudah lama sejak mereka melakukan live bersama, dan kali ini live mereka juga cukup spesial.

Savian, Jeffrey dan Danish sibuk memperhatikan anggota lain yang sibuk dengan obrolan mereka, ketiga nya bukan tidak ingin bergabung, namun mereka tidak dapat memahami apa yang sedang di bicarakan oleh lima anggota itu.

"Bang, mereka ngomongin apa sih?" Jeffrey dan Savian sama-sama menggeleng.

"Gak tau, coba aja tanyain sana?" Danish mendengus dan memilih untuk duduk bersandar pada pundak Jeffrey di banding harus menghampiri kelima abang nya.

"Males ah, nanti bang Yasa nempel-nempel kayak ulat bulu." Savian tertawa kecil mendengar gerutuan Danish.

"Ya udah kalau gitu kamu duduk sini aja sambil nungguin, sebentar lagi kita mulai." Danish mengangguk dan membiarkan Jeffrey menepuk-nepuk lengannya.

"Danish!" Danish melirik sebal saat suara nyaring Wiya memanggil namanya.

"Jangan deket-deket." Wiya langsung merengut saat Danish mengatakan itu.

"Mau peluk sebentar dong cil, boleh ya?" Danish melirik ke arah Savian, namun yang tertua hanya tertawa pelan, terlihat tidak keberatan sama sekali. Danish beralih melirik Jeffrey, dan kekasihnya itu hanya mengangguk kecil.

"Sebentar aja loh ya!" Wiya mengangguk antusias.

"Iya sebentar aja, sini." Danish terpaksa bangkit dari duduk nya dan langsung memeluk Wiya.

Grep

"Gue kangen meluk lo kayak gini cil, maafin gue ya." Danish hanya mengangguk kecil.

"Udah di maafin, tapi jangan di ulangi, sakit bang." Wiya tersenyum tipis dan mengangguk.

"Iya, gak bakal gue ulangi."
.
.
.
.
.
Danish rasa Akrala akan semakin berkembang setelah ini, kenapa Danish bisa mengatakan hal itu, karena di lihat dari mana pun masing-masing anggota Akrala mulai benar-benar serius dal bermusik.

Mereka sudah meninggalkan duka mereka, mereka sudah merelakan kepergian Janesh yang selama tiga tahun ini membayangi langkah mereka.

Danish bisa melihat jika anggota Akrala yang lain terlihat lebih lepas, lebih ceria dan lebih dewasa, masalah yang terjadi kemarin sepertinya mendewasakan mereka.

"Ngelamun lagi." Danish berdecak pelan saat lagi-lagi Jeffrey mengagetkannya.

"Gak ngelamun bang!" Jeffrey jelas tidak percaya dengan jawaban pemuda mungil itu.

"Iya iya gak ngelamun tapi gue duduk di sini lebih dari sepuluh menit aja gak sadar." Danish merengut, entah kenapa hari ini Jeffrey terlihat sangat menyebalkan.

"Jangan bikin gue kesel ya bang." Jeffrey hanya tertawa dan langsung memeluk tubuh mungil Danish.

"Duh lucu banget sih, pacar siapa ini?!" Danish memberontak, ingin melepaskan pelukan Jeffrey dari nya.

"Aahh bang Jefy, lepasin gue!" Jeffrey tidak menuruti ucapan Danish, dan memilih tetap memeluk erat Danish.

"Gak bakal gue lepasin." Danish tetap mencoba melepaskan pelukan Jeffrey padanya.

"Udah lah cil, diem dulu sebentar. Kalau gak nanti lo gue cium disini." Danish seketika langsung terdiam, ya meskipun dia suka di cium oleh Jeffrey, namun jika harus di cium di depan banyak orang tentu saja dia mau.

"Gak usah macem-macem bang!" Jeffrey tertawa pelan saat mendengar pekikan Danish.

"Danish kenapa?" Danish yang mendengar Firly bertanya padanya langsung menatap melas ke arah sang manager.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang