.
.
.
.
.
Agra kira kejadian disaat usia Danish lima belas tahun itu adalah yang terakhir yang akan dia lihat, namun ternyata salah. Karena lagi-lagi Agra di buat pusing saat situasi kembali berganti.
Kali ini Agra melihat Danish menangis sendirian di kamarnya, rambut hitam pemuda itu tampak sedikit panjang. Kamar yang dulunya sangat kosong sekarang hampir sepenuhnya terisi oleh rak berisi piala ataupun piagam yang terpajang di dinding kamar.
"Dek, udah atuh jangan nangis lagi. Bi Minah tau adek sedih, tapi kasihan kak Janesh kalau adek nangis kayak gini." Bi Minah menepuk pundak Danish setelah menghampiri sang majikan.
"Kenapa harus kak Janesh yang pergi bi? Kenapa buka Danish aja? Mama papa pasti gak akan sedih kalau Danish yang pergi." Bi Minah menggeleng.
"Ibuk sama bapak pasti juga sedih kalau adek pergi, mereka juga sayang sama adek." Danish menggeleng.
"Gak, mereka gak sayang sama Danish, mereka cuma sayang kak Altha sama kak Janesh."
"Bibi, hati Danish sakit, ada yang kosong disini waktu denger kabar kaka Janesh pergi. Kenapa kak Janesh pergi duluan? Kenapa gak nungguin Danish? Katanya mau terus sama Danish, kak Janesh bohong!" Bi Minah tidak tega mendengar isakan pilu Danish, namun dia tidak bisa melakukan apapun selain menenangkan majikan kecilnya itu.
Agra akhirnya tau, dia melihat saat dimana Janesh pergi, tiga tahun sebelum dia berada di tubuh Danish.
"Ayo dek, anter kak Janesh ke rumah terakhirnya, kak Janesh pasti seneng kalau diantar sama adek." Bi Minah meminta Danish berdiri dan keluar kamar.
Tidak ada yang aneh menurut Agra, suasana duka sangat terasa di sana. Terutama saat jenazah Janesh mulai berangkat ke pemakaman, banyak sekali teman-teman nya yang datang, bahkan Agra juga bisa melihat anggota Akrala hadir dengan mata sembab, tentu saja mereka sangat sedih, mereka kehilangan adik kecil sekaligus leader mereka seminggu sebelum debut.
Isak tangis kembali terdengar saat jenazah Janesh mulai masuk ke liang lahat, kedua orang tua, Balthasar, anggota Akrala bahkan Erhan menangis sat itu, hanya Danish yang diam dengan tatapan kosong ke arah makam.
Pemuda itu bahkan mengabaikan semua mata yang menatapnya bingung, karena ini pertama kalinya dia menunjukan diri sebagai saudara kembar Janesh.
Setelah kembali dari pemakaman, Erhan menemui kedua orang tua Janesh dan Danish secara pribadi, entah apa yang mereka bicarakan tidak ada yang tau.
Hingga malam hari nya, mereka memanggil Danish dan menyampaikan hal yang sangat mustahil Danish lakukan.
"Kamu akan bergabung dengan Akrala menggantikan posisi Janesh." Danish tampak terkejut mendengar hal itu.
"T-tapi kenapa pa? Danish bahkan gak bisa main musik dan gak ngerti musik sama sekali kayak kak Janesh." Prabu menatap tajam pada Danish.
"Papa gak peduli, kamu harus mau menggantikan posisi Janesh di Akrala." Danish menggeleng.
"Danish gak bisa ma, pa, Danish mau jadi dokter dan Danish udah terima beasiswa buat pergi ke harvard. Papa sama mama yang minta Danish ngelanjutin kuliah disana kan?" Danish masih mencoba menolak, lagi pula dia tidak ingin menghancurkan kerja keras anggota Akrala yang lain.
"Batalkan, tidak penting menjadi dokter! Yang penting kamu gantikan posisi Janesh!" Danish tetap menggeleng.
"Tapi ini mimpi Danish pa."
Brak
"Papa gak peduli dengan mimpi kamu yang gak berguna itu, yang papa pedulikan adalah mimpi dan kerja keras Janesh gak boleh hilang, jadi kamu harus mau gantiin Janesh di Akrala! Papa gak terima penolakan!" Danish mengepalkan tangannya sembari menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia diacuhkan, ucapannya tidak pernah mendapat dukungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
