20. Tidak ada yang bisa mencegah

6.9K 610 15
                                        


.
.
.
.
.
Savian menatap lekat pada Danish yang masih saja terdiam, pemuda itu membawa Danish ke studio pribadinya. Niatnya hanya ingin menenangkan Danish karena ucapan Mada yang sangat keterlaluan tadi.

"Danish." Savian memutuskan mendekati Danish, karena bagaimana pun dia tau Danish pasti terkejut mendengar ucapan Mada tadi.

"Dia bener kok bang, lo gak perlu ngucapin kalimat buat nenangin gue."

Deg

Savian terpaku, bagaimana mungkin Danish bisa mengucapkan hal itu dengan sangat enteng.

"Danish, lo gak–" Danish menatap ke arah Savian tiba-tiba.

"Gue gak papa bang, kalau lo khawatir gue mikirin omongan bang Mada tadi, lo salah. Omongan kayak gitu udah sering gue denger tiga tahun ini, jadi gue udah biasa." Savian benar-benar di buat tidak bisa lagi berkata-kata, kenapa rasanya sangat tidak rela mendengar Danish mengatakan hal itu.

"Ugh."

Sret

Savian menahan tubuh mungil Danish yang tiba-tiba limbung, Savian bahkan baru sadar jika wajah Danish terlihat sangat pucat, dan juga tubuhnya yang demam.

"Kita pulang, dan gue bakal pastiin lo gak bakal bisa ke studio sampai lo sembuh!" Danish hanya diam, namun pemuda mungil itu menatap tangannya saat Savian menarik tangan itu pelan.

"Sebentar bang, disini aja dulu. Gue pusing banget." Savian terlihat khawatir, dan tidak ada cara lain selain menuruti kemauan Danish saat ini.

"Diem sini, gue ambilin lo air minum dulu." Savian meminta Danish merebahkan dirinya di atas sofa, sedangkan dirinya sendiri pergi keluar dari studio untuk mengambil air.

"Sakit." Danish merintih pelan saat kepalanya terasa sangat sakit, dia tidak ingin merintih saat ada Savian disisinya, dia tidak ingin dianggap lemah.

Cklek

Savian kembali dengan sebotol air mineral di tangannya, pemuda tinggi itu menghela nafas panjang saat melihat Danish ada di sofa dengan posisi meringkuk.

"Danish." Danish membuka matanya saat merasakan tepukan Savian pada pipinya.

"Minum dulu, ini gue bawain obat, setengah jam lagi kita pulang." Danish menurut, lagi pula dia tidak ingin membuat Savian marah jika dia tidak menurut.

"Makasih bang." Savian mengangguk kecil.

"Tidur aja dulu, pusing?" Danish hanya berdehem dan itu membuat Savian memutuskan untuk memijat pelan kepala Danish.

"Maafin gue Dan, gue belum bisa jadi anggota yang baik buat Akrala."
.
.
.
.
.
Savian tidak pernah melihat Danish sakit seperti ini sejak tiga tahun lalu, atau memang dia yang terlalu tidak peduli pada Danish.

"Bang, ayo pulang." Savian menatap lekat pada Danish saat pemuda itu meminta pulang.

"Lo yakin gak mau ke rumah sakit dulu? Atau ke klinik aja deh?" Danish menggeleng.

"Gue cuma mau tidur bang." Savian kembali menghela nafas panjang.

"Ya udah ayo, kuat jalan gak?" Danish memberi anggukan sebagai jawaban, namun tetap saja Savian tidak percaya.

Sret

Savian berjongkok di hadapan Danish, hal itu sukses membuat Danish menatap bingung.

"Bang Vian, lo ngapain?"

"Naik, gue gak percaya lo bisa jalan sampai parkiran." Danish menggigit bibir bawahnya pelan.

"Gue berat loh bang, gue bisa jalan kok." Savian menggeleng dan tetap meminta Danish untuk naik ke punggung nya.

"Ayo Dan, katanya lo mau pulang." Danish akhirnya menurut meskipun dia ragu-ragu.

"Maaf bang, gue ngerepotin." Savian hanya diam, dia sudah biasa memperlakukan Wiya, Kenzo, Ersya bahkan Jeffrey seperti ini tiap mereka sakit atau kelelahan latihan sebelum ini, tapi baru Danish yang meminta maaf hanya karena digendong.

"Udah diem, kalau lo pusing lo tidur aja."
.
.
.
.
.
Jika boleh jujur Jeffrey sebenarnya ingin marah pada Mada, terutama jika dia mengingat bagaimana perlakuan kedua orang tua nya pada Danish tempo hari.

"Lo kali ini keterlaluan Da, lo gak seharusnya ngomong gitu ke Danish meskipun lo benci dia." Wiya tidak berhenti mengomeli Mada setelah mereka sampai di asrama.

"Mada, diantara kita semua cuma lo yang tau gimana rasanya saat lo dibandingin sama saudara lo, lo tau itu rasanya sakit, tapi lo ngelakuin itu ke Danish." Kenzo ikut bersuara setelah melihat tatapan kesal Wiya.

"Hah, percuma kalian ngomel ke dia, dia gak bakal dengerin kalian. Sekarang masuk kamar, beres-beres terus istirahat, nanti kalau bang Sav sama Danish pulang kita pesen makan." Semua langsung menurut saat Yuvan membuka suara, bagaimana pun Yuvan adalah yang tertua kedua setelah Savian disana.

"Lo juga Mada, masuk kamar, mandi terus istirahat, nanti malem temui gue di studio." Mada mengangguk pelan sebelum beranjak.

"Gue tau lo gak sengaja nampar Danish, tapi ucapan lo bisa jadi luka buat Danish." Yuvan memejamkan matanya saat mengingat kembali ucapan Mada pada Danish.

"Kalau gini makin sulit buat deketin Danish."

Memang diantara yang lain hanya Yuvan dan Savian yang tidak pernah secara terang-terangan membenci Danish, mereka hanya akan diam dan bersikap tidak perduli saat yang lain mengatakan hal-hal menyakitkan pada Danish. Yuvan sendiri hanya akan bertindak saat Danish mengalami kekerasan, seperti saat kejadian dengan Bima sebelumnya.

"Bang Yuvan." Yuvan yang sebelumnya memejamkan matanya, langsung membuka mata saat mendengar suara Jeffrey.

"Kenapa Jeff?"

"Lo bisa bikin bubur kan bang?" Yuvan mengangguk kecil, meskipun dia bingung kenapa Jeffrey bertanya soal itu. Karena seingatnya Jeffrey tidak suka makan bubur.

"Bisa, kenapa? Lo mau makan bubur?" Jeffrey menggeleng sebagai jawaban.

"Bukan buat gue bang, buat si bocil nanti. Lo bisa bikinin bubur buat dia?" Yuvan menaikan sebelah alisnya saat Jeffrey mengatakan itu, dia tau pasti Jeffrey adalah orang yang sangat cuek kecuali pada orang yang dia sayang.

"Kenapa gue harus buatin Danish?"

"Bocil itu sakit dari semalem, tapi gak bolehin gue bilang ke kalian." Yuvan menghela nafas panjang dan mengangguk.

"Ya udah gue buatin, mending lo hubungi bang Sav, terus tanyain mereka pulang jam berapa?" Jeffrey mengangguk dan bergegas kembali ke kamarnya.

"Lo suka sama Danish ya dek? Berarti gue harus saingan sama lo gitu?"
.
.
.
.
.
Savian beberapa kali melirik ke arah Danish yang kembali terlelap di sebelahnya, jika saja jakarta tidak macet mereka pasti sudah sampai di asrama sejak tadi.

"Selama ini lo kalau sakit gimana Dan? Diem di studio gitu? Maafin gue ya." Savian bergumam pelan saat menatap wajah pucat Danish.

"Gue harusnya gak marah sama lo saat itu, gue harusnya bisa jadi orang yang peduli sama lo karena semua ini bukan salah lo. Tapi yang gue lakuin justru ngejauhin lo, maaf tapi gue belum bisa damai sama masa lalu. Gue belum bisa ngelupain rasa sayang gue ke Janesh, gue terlalu kehilangan karena kejadian itu terlalu mendadak. Dan gue ngelampiasin hal itu ke lo, padahal harusnya gue tau, kalau lo justru orang yang paling terluka karena kepergian Janesh." Savian sengaja tidak segera membawa Danish masuk ke asrama begitu mereka sampai, Savian tetap diam di mobil saat ini

Cup

Savian memberanikan diri mengecup pipi dan dahi Danish, meskipun dia bisa merasakan jika suhu tubuh pemuda mungil itu semakin tinggi.

"Maafin gue."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat malam
Akrala kembali...
Ada yang kangen sama Danish?
Kesel gak sih sama Mada?
Kalau kesel tinggalin jejak ya, enak nya Mada nanti diapain biar jadi bucin nya Danish...

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang