.
.
.
.
.
Jeffrey terlihat gelisah hari ini, entah karena apa tapi sejak Savian dan Danish pergi untuk pemotretan tadi pagi, perasaannya sudah tidak enak.
Jeffrey sebenarnya ingin ikut dengan Erhan ke lokasi pemotretan tapi dia sendiri juga ada jadwal latihan vokal.
"Jeffrey, fokus!" Jeffrey menghela nafas panjang dan mengangguk.
"Maaf bang Deni, gue gak konsen hari ini." Deni mengangguk, karena lelaki itu jelas paham karena Jeffrey sudah mengatakan alasannya sejak pagi tadi.
"Tenangin diri lo dulu, disana ada bang Erhan, ada Firly juga, Danish sama Savian pasti baik-baik aja." Jeffrey hanya bisa mengangguk.
Sedangkan di lokasi pemotretan Danish yang memang mendapat giliran setelah Sandi hanya menatap datar ke arah Sandi yang seperti sedang mengejeknya.
Pemuda itu memasang ekspresi menyebalkan setiap kali menatap Danish, padahal Danish sama sekali tidak mengusik pemuda itu.
"Okey Danish, sekarang giliran kamu." Danish mengangguk dan segera berjalan mendekati sang fotografer.
"Danish, kita coba gaya senatural mungkin ya?" Danish hanya mengangguk, pemuda itu memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya. Tatapannya yang datar dan teduh langsung berubah tajam, penuh akan intimidasi.
Sang fotografer dan beberapa staff yang ada disana bahkan cukup terkejut saat Danish bisa melakukan gaya yang cocok tanpa harus diarahkan, sama sekali tidak mirip seperti pemula.
"Okey Danish! Wah kamu berbakat jadi model loh, gak perlu diarahin." Danish hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan sang fotografer.
"Kalau semua model kayak Danish pasti pemotretan cepet selesai."
.
.
.
.
.
Sandi menatap Danish tajam, beruntung saat ini sedang giliran Savian melakukan pemotretan, jika tidak tentu saja Sandi akan terus mengeluarkan tatapan polosnya.
"Bukannya udah gue bilang buat jauhin kak Savian!" Danish yang memang memejamkan matanya hanya menggerutu dalam hati, tidak berniat menyahuti segala ucapan Sandi.
"Gue tau lo denger omongan gue sialan!" Danish tersenyum dalam hati saat mendengar nada kesal dari Sandi.
"Saya gak mau." Jawaban pelan Danish membuat amarah Sandi memuncak.
"Danish!" Seruan Sandi yang sedikit keras membuat managernya segera mendekat.
"Sandi ada apa?" Sandi yang menyadari kehadiran orang lain langsung memasang wajah polos nya.
"Aku nawarin Danish kukis ku, tapi dia malah bikin kukis itu jatuh." Danish membuka matanya perlahan saat mendengar hal itu, memang sejak kapan Sandi menawarinya kukis? Yang ada pemuda itu mengajaknya bertengkar.
"Danish, sebaiknya kalau memang menolak jangan kasar ya." Manager Sandi tertegun saat melihat tatapan tajam Danish.
"Apa anda lihat sendiri saya membuat kukis itu jatuh atau melihat saya berbuat kasar pada model anda?" Manager Sandi hanya bisa terdiam, karena dia tidak melihat sama sekali.
"Tidak semua yang terlihat sama seperti kenyataannya, jangan pernah menilai sesuatu hanya dari sampulnya. Bahkan bisa jadi orang yang polos justru memiliki kelakuan seperti kriminal, begitu juga sebaliknya." Danish memang tidak menaikan nada bicaranya, terkesan tenang, namun siapa sangka jika dibalik itu semua Danish menyimpan kemarahan.
"Saya tidak pernah melakukan hal kasar pada Sandi, bahkan sejak awal model anda itu yang tidak bisa diam dan terus mengganggu saya." Manager Sandi itu langsung saja menatap ke arah sang model.
"Sandi apa itu benar?" Sandi menggeleng.
"Gak, aku cuma mau Danish nyicipin kukis ku. Apa kukis ku gak enak ya kak? Sampe Danish gak mau nyobain." Danish mencoba menahan amarahnya.
"Gak kok San, kukis buatan kamu enak kok. Danish pasti mau coba." Setelah mengatakan itu sang manager beralih menatap Danish.
"Danish, tolong cicipi satu satu saja. Tidak akan ada rugi nya kok, kukis buatan Sandi memang enak, saya bahkan bisa jamin kalau nantinya kamu pasti ketagihan." Danish menatap kesal pada Sandi dan managernya, bagaimana bisa mereka memaksa seseorang mencicipi kukis saat orang itu menolak.
Sret
"Sudah, puas?!" Sandi mengangguk mantap dan tersenyum saat Danish mencicipi satu kukisnya.
"Gimana? Enak kan?" Danish menatap datar pada Sandi dengan tangan terkepal.
"Ingin jawaban jujur kan?" Sandi mengangguk.
"Gak seenak buatan bang Wiya." Setelah mengatakan hal itu Danish segera berlalu meninggalkan Sandi dan sang manager.
"Danish gak suka kukisnya kak, pasti kukis ku beneran gak enak." Sang manager gelagapan saat mendapati ekspresi sedih Sandi.
"Kukis kamu enak kok, mungkin Danish memang tidak suka atau sebenarnya dia cuma malu buat bilang kalau kukis nya enak."
Sedangkan disisi lain Danish dengan cepat pergi ke toilet, tujuannya hanya satu, yaitu memuntahkan kukis yang sempat dia makan tadi.
"Sandi sialan!" Danish memejamkan matanya, tubuhnya terasa lemas setelah berhasil memuntahkan isi perutnya. Hanya karena satu buah kukis dia harus mengeluarkan isi perutnya.
"Seharusnya gue makan lebih banyak tadi." Danish mengelus dadanya, nafasnya sedikit berat karena alergi nya kambuh, kukis yang di berikan Sandi tadi mengandung kacang.
Danish sengaja tidak segera keluar dari toilet, tubuhnya terasa lemas dan dia yakin jika dia tidak akan kuat berjalan keluar. Saat ini Danish hanya perlu menunggu salah satu dari Erhan, Firly atau Savian untuk menemukannya di kamar mandi.
"Udah gue bilang kan, kalau lo yang bakal di benci sama bang Vian." Danish menyeringai tipis sebelum merasakan tubuhnya melayang.
Bruk
Tubuh Danish meluruh, pemuda itu pingsan dengan nafas yang kian memberat, bahkan bibirnya terlihat semakin pucat.
.
.
.
.
.
"Bang Han, lo gak sama Danish?" Savian terlihat panik saat Erhan menghampirinya seorang diri, tanpa ada Danish bersamanya.
"Danish bukannya nunggu disini?" Savian menggeleng.
"Gue nyari dia dari selesai pemotretan bang." Erhan ikut panik saat mendengar penjelasan Savian.
"Kalau gitu kamu tunggu sini, biar saya yang cari." Savian mengangguk, dia menurut meskipun sebenarnya dia juga ingin ikut andil mencari Danish.
"Kak Savian, kenapa?" Savian menggeleng saat Sandi bertanya padanya.
"Aku ada kukis kak, mau?" Savian mencoba tersenyum saat Sandi menyodorkan kotak berisi kukis padanya.
"Terima kasih San." Sandi tersenyum manis saat Savian mengambil dan memakan kukis nya.
"Enak kak?" Savian mengangguk.
"Enak." Sandi kembali mengulas senyum saat Savian mengatakan itu.
"Tapi Danish bilang kalau kukis nya gak enak." Savian langsung menghilangkan senyumnya saat Sandi mengatakan soal Danish.
"Danish makan ini?" Sandi mengangguk polos.
"Terus kemana dia sekarang?" Sandi menggeleng.
"Dia langsung pergi setelah bilang kalau kukis nya gak enak." Savian memejamkan matanya sejenak.
"Sandi, bukannya gue udah pernah bilang ke lo waktu itu, jangan pernah kasih Danish apapun yang mengandung kacang." Sandi terdiam, mencoba mengingat ucapan Savian.
"Maaf kak, aku lupa."
"Kalau sampai ada apa-apa dengan Danish, aku gak bakal bisa belain lo bahkan di depan kak Biya." Savian berdecak sebelum meninggalkan Sandi yang hanya bisa menunduk sambil mengepalkan tangannya, dia kesal karena melihat ekspresi marah Savian padanya.
"Savian, bereskan barang mu kita susul Firly ke rumah sakit!"
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang
Akrala up ya...
Ada yang kangen Danish?
Mau double atau triple nih?
Soalnya biar keselnya nanti sekalian...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
