42. Menangislah

4.3K 406 15
                                        


.
.
.
.
.
Danish hanya menurut saat Jeffrey membawanya ke jalan asia-africa, tidak tau entah apa tujuannya. Danish hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jeffrey, karena suasana jalanan malam itu cukup ramai.

Danish bisa melihat banyaknya anak muda yang sedang berjalan-jalan disana, entah yang sendiri, bersama teman, keluarga atau bahkan pasangannya.

"Bang, mau ngapain sih kesini?" Jeffrey tersenyum saat melihat wajah lucu Danish. Terlihat sekali jika pemuda itu sangat tidak nyaman.

"Jalan-jalan, gue penasaran rasanya jalan-jalan disini. Lo pasti udah bosen ya?" Danish tertawa kikuk.

"Bosen gimana bang? Hidup gue itu cuma kostan sama cafe awan, kalau pun pergi juga pasti sama Aska, sama Alicia. Gue terlalu mager buat keluar jalan-jalan dan berinteraksi sama banyak orang." Jeffrey cukup terkejut mendengar jawaban Danish.

"Ternyata lo introvert juga." Danish merengut.

"Bang, yakin aman nih? Kalau ada yang lihat kita di sini gimana?" Jeffrey menggelengkan kepalanya.

"Ya selama kita gak buka masker dan gak bersuara keras kayaknya gak bakal ada yang tau cil." Danish hanya bisa menghela nafas. Dulu jika dia di ajak ke asia-africa dia pasti selalu punya alasan untuk menolak, karena entah kenapa dia terlalu malas.

"Bang, rame banget tau." Jeffrey menghela nafas, justru itu niat nya. Membawa Danish ke tempat ramai agar pemuda itu semakin menempel padanya.

"HAH!!"

Danish yang sedang berjalan di sebelah Jeffrey di kejutkan oleh sosok hantu-hantu-an berbentuk pocong yang tiba-tiba saya muncul di sebelahnya. Danish yang memang pada dasarnya penakut menahan pekikannya, dia tidak ingin membuat semua orang menyadari keberadaan mereka.

Jeffrey yang tau itu hanya tertawa, sampai akhirnya dia menyadari jika tubuh Danish bergetar ditambah genggaman tangan mungil itu semakin mengerat pada tangannya.

"Cil, okey?" Danish hanya menggeleng, Jeffrey yang tau itu segera menarik tubuh mungil Danish kedalam rangkulannya.

"Lo setakut itu ya?" Danish hanya mengangguk pelan, dia tidak berani mengangkat kepalanya saat tau jika banyak sekali hantu-hantu-an di sekitar sana.

"Bang, ayo balik, kaki gue lemes." Jeffrey mengangguk dan segera membawa Danish pergi dari sana. Tangan pemuda itu tidak berhenti mengelus rambut hitam milik Danish.

"Bang, udah gak ada kan?" Jeffrey mengernyit saat mendengar suara lirih Danish.

"Apa nya?"

"Itu yang tadi?" Jeffrey akhirnya tertawa saat menyadari apa yang dimaksud Danish.

"Gak ada, udah angkat kepala lo." Danish menghela nafas lega saat mengetahui hal itu.

"Mereka cuma bohongan loh cil, gak beneran, kenapa lo setakut itu." Danish merengut, saat ini mereka duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari mobil mereka, dan disana cukup sepi dari orang lalu-lalang.

"Ya pokoknya gue takut bang, mau itu bohongan sekalipun." Jeffrey menggelengkan kepalanya heran.

"Cil, lo gak mau cerita soal lo gitu?" Danish menoleh dengan wajah bingung.

"Hah? Maksudnya bang?"

"Cerita soal lo, soal Agra, bukan soal Danish. Gue pingin tau lebih jauh soal lo sebagai Agra." Danish terdiam sejenak, sebelum kemudian tertawa pelan.

"Gak ada yang menarik dari hidup gue sebagai Agra bang, gak ada sensasi nya." Jeffrey berdecak pelan.

"Ya gak papa, cerita aja, gue kan pingin tau. Gue pingin kenal lo sebagai Agra juga, bukan cuma lo yang saat ini udah jadi Danish." Danish yang mendengar itu tersenyum tipis.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang