35. Maaf bang

4.9K 479 14
                                        


.
.
.
.
.
Jika Akrala sibuk, maka Danish jauh lebih sibuk lagi. Pemuda mungil itu selain harus tampil di atas panggung, melakukan fans meeting dengan Riziend, dia juga masih harus mengerjakan lagu untuk album mereka selanjutnya.

Danish tidak bisa istirahat dengan benar selama tiga minggu ini, ditambah dengan jadwal diet yang tentu saja sangat menyiksanya.

Padahal jika ingin Danish menurunkan berat badannya cukup minta pemuda itu mengatur pola makannya, karena dasarnya tubuh Danish cepat kehilangan berat badan.

"Danish mana?" Savian menatap anggota nya yang lain bingung, padahal mereka baru saja selesai manggung tapi leader mereka sudah menghilang.

"Tadi mau ke toilet katanya." Savian mengernyit saat mendengar jawaban Yuvan.

"Dari tadi?" Yuvan mengangguk ragu.

"Hampir sepuluh menit." Savian mengernyit, dia khawatir pada Danish. Apa lagi akhir-akhir ini teman sekamarnya itu juga sering terlihat pucat.

"Bang, lo sadar gak, kalau Danish kurusan?" Mata Savian melebar saat mendengar ucapan pelan Ersya.

"Bisa kita bahas ini nanti kalau di asrama bang? Gue ngerasa staff kita ada yang gak beres." Savian mengangguk, bertepatan dengan Danish yang baru saja kembali.

"Beresin barang-barang kalian, kita pulang." Ucapan tegas Danish membuat mereka langsung melakukan hal itu.

"Kita ke perusahaan dulu kan?" Danish menggeleng.

"Gak, kalian langsung pulang ke asrama, bang Erhan bilang kita bisa istirahat karena hari ini hari terakhir kita promosi." Yang lain mengangguk, namun Jeffrey dan Savian mengernyit bingung.

"Kita? Terus lo gimana?" Danish mencoba tersenyum tipis.

"Gue harus ke perusahaan sebentar bang, ada yang harus gue ambil di studio." Savian mendengus, dia hampir sebulan tidak pernah melihat Danish tidur di kamar mereka.

"Ya udah kalau gitu ambil terus langsung pulang, kita tungguin di mobil." Danish ingin menolak, namun dia melihat tatapan tajam dari yang lain, dan lagi sepertinya hari ini adalah hari yang pas untuk nya memberi pelajaran pada Feri.

"Ya udah, ayo bang kalau udah selesai, bang Erhan sama bang Firly udah nungguin."
.
.
.
.
.
Danish bergegas turun dari mobil dan masuk ke gedung perusahaan, beruntung hari ini Akrala menggunakan mobil van yang di sediakan perusahaan, hingga mereka tidak harus berpisah mobil.

Danish bergegas pergi ke studio nya, dia ingin mengambil flashdisk nya yang tertinggal di studio.

"Untung aja masih ada disini." Danish segera memasukan flashdisk itu kedalam tas nya.

"Danish." Danish terkejut saat mengetahui jika Feri ikut masuk ke dalam studio nya.

"B-bang Feri." Danish sedikit takut saat melihat senyum miring di wajah Feri.

Buagh

Buagh

Danish terhuyung kebelakang saat Feri memukul perut nya tiba-tiba.

"Bang Feri kenapa? Saya buat kesalahan sama abang?" Feri menyeringai saat mendengar suara pelan Danish.

"Gue gak suka sama lo!" Danish memejamkan matanya saat Feri berteriak didepan mukanya.

"Kenapa?" Feri tertawa pelan.

"Karena kehadiran lo, gue tersingkir dari kandidat anggota Akrala!" Danish melebarkan matanya, dia baru tau tentang hal itu.

"Seharusnya lo gak nerima permintaan mereka buat gabung ke Akrala gantiin Janesh! Mau gimana pun usaha lo, lo itu gak akan sebaik Janesh! LO GAK ADA APA-APA NYA DIBANDING JANESH! PAHAM!!"

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang