.
.
.
.
.
Wajah-wajah marah terlihat jelas di anggota Akrala saat ini, mereka tengah melihat cctv studio. Mereka bisa melihat dengan jelas jika Wiya melakukan hal yang tidak pantas pada Danish secara paksa, hal itu jelas memancing emosi anggota yang lain terutama Kenzo, Ersya, Mada dan Jeffrey.
Mereka berusaha menjaga kepolosan Danish selama ini agar tidak tertular kelakuan bejat mereka, tapi Wiya justru merusak pemuda polos itu dalam semalam.
"Wiya bangsat!"
Sret
Yuvan menahan tangan Mada yang akan beranjak dari ruang keluarga.
"Lepasin tangan gue Van." Yuvan menatap lekat pada Mada.
"Tahan emosi lo, gue tau lo marah tapi kalau lo ngehajar Wiya sekarang dia bisa mati." Mada kembali duduk dengan tangan terkepal.
"Tahan emosi, kita tanya dulu ke Wiya setelah dia udah sehat nanti, setelah itu kalian bisa hajar dia." Ucapan Savian menjadi penentu mereka, sebagai yang tertua ucapan Savian selalu mereka turuti.
"Gue pergi dulu bang." Jeffrey langsung beranjak pergi setelah mengatakan itu.
"Mau kemana?"
"Ke rumah keluarga Mahesa, gue yakin Danish disana." Savian mengangguk dan membiarkan Jeffrey pergi, paling tidak mereka akan tau bagaimana keadaan Danish. Meskipun bisa mereka jamin jika Danish sedang tidak baik-baik saja.
"Sekarang kalian masuk kamar, turunkan emosi kalian. Sementara biar gue yang jaga Wiya, setelah dia sehat kalian bisa lakukan apapun yang kalian mau padanya, tapi ingat jangan sampai membuat kalian menyesal." Keempat anggota Akrala yang tersisa hanya bisa mengangguk, ucapan Savian sudah menjadi peringatan jika mereka bisa menghajar Wiya tapi tidak boleh kelewatan.
"Iya bang."
.
.
.
.
.
Jeffrey memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mewah milik keluarga Mahesa, feeling nya mengatakan jika Danish ada disana.
Bohong jika Jeffrey tidak marah saat ini, dia marah. Tapi keadaan Danish jauh lebih penting untuk dia pikirkan di banding menghajar Wiya, karena dia yakin jika abang-abang nya yang akan melakukan itu.
Tin
Tin
Tin
Penjaga rumah mewah itu langsung membukakan gerbang saat tau mobil siapa yang akan masuk.
"Mas Jeffrey." Jeffrey segera turun dan menyapa sopan penjaga rumah yang dia kenal sebagai pak Agus itu.
"Danish disini kan pak?" Pak Agus mengangguk.
"Iya mas, tapi sejak datang semalem mas Danish gak mau keluar dari kamar nya, bahkan mas Danish gak nyentuh makanan yang di kasih sama bi Minah." Jeffrey mengepalkan tangannya erat.
"Boleh saya masuk pak?" Pak Agus mengangguk.
"Boleh mas, semoga mas Jeffrey bisa ngebujuk mas Danish buat makan. Soalnya tadi mas Wiya kesini tapi mas Danish gak mau keluar." Jeffrey mengangguk, tentu saja Danish menolak Wiya, karena Wiya lah yang membuat dia harus datang ke rumah ini.
"Semoga pak, kalau gitu saya masuk ya." Pak Agus mengangguk dan segera mempersilahkan tamu nya masuk.
Jeffrey masuk kedalam rumah mewah yang dulu kerap kali dia datangi sebagai kakak kesayangan Janesh, tapi baru kali ini dia mendatangi rumah itu sebagai orang yang menyayangi Danish.
"Mas Jepri." Jeffrey tersenyum tipis saat bi Minah memanggilnya, ya meskipun namanya jadi berubah.
"Bi Minah, boleh saya tau dimana kamar Danish?" Bi Minah mengangguk semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
