.
.
.
.
.
Danish tau jika Wiya pasti merajuk padanya, terutama saat dia justru pergi keluar dengan Danish kemarin. Danish bukan tidak ingin di dekati Wiya, tapi kemarin dia ingin menjadi Agra, bukan Danish, dan hanya Jeffrey yang tau akan hal itu.
"Bang Yasa." Wiya yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut saat Danish memanggilnya. Namun karena dia masih kesal saat tau kemarin Danish lebih memilih bersama Jeffrey, jadinya Wiya bersikap acuh pada panggilan Danish.
Danish yang melihat sikap acuh Wiya hanya bisa menghela nafas panjang, pemuda mungil itu merengut kesal.
"Bang Yasa." Wiya tetap tidak menyahuti panggilan Danish, dan itu membuat Danish kesal.
"Ya udah kalau gak mau ngomong sama gue." Danish merengut kesal sambil menggerutu, mengabaikan Wiya yang sudah masuk ke dapur.
"Gue berangkat bang." Danish tau Wiya tidak akan dengar ucapannya, tapi dia tidak peduli akan hal itu karena Wiya juga tidak merespon nya.
Danish niatnya ingin memberitahu Wiya jika dia ingin pergi ke suatu tempat pagi ini, karena anggota yang lain masih tidur.
Brak
"Bang Yasa ngeselin, biarin nanti kalau gue dimarahin gue bilang aja udah pamit ke bang Yasa!" Danish berlalu pergi, tanpa membawa mobilnya. Danish hanya tidak tau jika Wiya kebingungan mendengar suara pintu yang di tutup kasar oleh Danish.
Danish ingin pergi ke makam Janesh lagi hari ini, kemudian dia akan pergi ke rumah sakit. Beberapa hari ini Danish merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, rasa yang familiar untuk Agra, hingga membuat pemuda mungil itu takut.
"Semoga perkiraan gue salah, jangan sampai itu ngikut pindah kesini juga."
.
.
.
.
.
"Ada yang lihat Danish keluar gak?" Pertanyaan Savian membuat semua anggota Akrala yang ada di ruang makan terdiam.
"Dari gue bangun tadi gue gak lihat Danish bang, emang dia udah bangun?" Savian mengangguk.
"Dia kayaknya udah bangun lebih dulu, karena pas gue bangun dia udah gak ada dan kasurnya udah rapi." Jeffrey mengernyit, seingatnya Danish mengatakan hari ini dia ingin berada di asrama seharian.
"Biar gue lihat ke studio bang." Jeffrey dengan cepat bergegas pergi ke studio lewat pintu belakang, agar lebih cepat. Karena satu-satunya anggota Akrala yang bisa keluar masuk studio Danish dengan mudah hanya Jeffrey.
"Gue liat Danish pas keluar kamar tadi pagi bang, tapi gue kira dia masuk lagi ke kamar karena gue denger dia ngebuka dan nutup pintu." Savian menghela nafas panjang, kenapa akhir-akhir ini Danish sering sekali menghilang.
"Danish gak ada di studio bang!" Ucapan Jeffrey jelas membuat yang lain panik.
"Ini serius Danish gak ada di asrama? Cepet telpon nomor nya, siapa tau diangkat!" Jeffrey segera mencoba menghubungi nomor Danish, tersambung tapi tidak mendapat jawaban.
"Gak di jawab bang." Savian memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membuka matanya.
"Jeff, semalem ada yang aneh sama Danish gak?" Jeffrey menggeleng.
"Gak ada bang, Danish masih seperti yang kita tau selama ini." Savian mengepalkan tangan diam-diam, dia yakin pasti ada sesuatu yang membuat Danish seperti ini.
"Ya udah biarin bang, siapa tau Danish cuma cari angin di sekitar sini. Kita juga sama sekali gak ada jadwal hari ini." Savian mengangguk kecil setelah mendengar ucapan Yuvan.
"Lo bener Van, kita tunggu aja Danish pulang. Kalau seandainya sampai nanti sore Danish belum pulang baru kita cari dan laporin ke bang Han."
.
.
.
.
.
Danish mengepalkan tangan nya erat saat mendengar penjelasan dokter tentang kondisi nya, ternyata dugaannya benar. Hal-hal yang dia inginkan tidak ikut berpindah justru ikut berpindah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
