82. Dicelakai

2.6K 277 14
                                        


.
.
.
.
.
Setelah pernyataan Danish pada postingannya kemarin, saat ini Akrala tengah ada di perusahaan untuk membahas hal itu lebih lanjut.

Perusahaan juga akan melakukan yang terbaik agar artinya mendapat keadilan, terutama ini Danish, sosok yang bisa di bilang merupakan anak emas sang CEO.

"Danish, kamu gak perlu khawatir, tugas kamu sekarang hanya memberikan keterangan nanti di pengadilan, sisanya serahkan pada perusahaan." Danish hanya mengangguk kecil mendengar hal itu.

"Akrala juga akan di jaga sedikit lebih ketat di banding sebelumnya, untuk menghindari kejadian yang tidak kita inginkan."

Danish benar-benar harus bersyukur karena merek bersedia membelanya, jika seperti ini dia tidak akan menggunakan kekuasaan keluarga Mahesa guna melawan Vanka. Namun itu hanya berlaku jika Vanka tau siapa lawan nya saat ini.

"Hati-hati, tetap jaga kesehatan. Kita tidak tau selicik apa pelaku, jadi tetap waspada." Sang CEO menepuk pundak semua anggota Akrala bergantian sebelum memutuskan keluar dari ruang rapat.

"Bang Erhan, tolong perketat penjagaan terhadap Danish." Erhan yang mendengar itu segera menatap ke arah Yuvan.

"Kenapa?"

"Kalau ada yang harus di jaga ekstra itu sudah pasti Danish, karena bagaimana pun Danish adalah pemilik akun bisa jadi gadis itu nekat dan akan mencelakai Danish." Erhan mengangguk paham.

"Danish, setelah ini kalau ada apa-apa, atau kamu ngerasa ada yang gak beres di sekitar kamu, langsung hubungi kami, mengerti?" Danish mengangguk.

"Bang, tolong bersikap biasa aja, gue malah lebih takut sama tingkah kalian dari pada pelaku plagiat itu!"
.
.
.
.
.
"Ayah lakuin sesuatu, aku gak mau di penjara!" Vanka menangis di hadapan kedua orang tua nya.

Gadis itu terkejut saat ada surat panggilan dari kepolisian atas namanya, Danish tidak main-main tentang masalah itu.

"Vanka tenang dulu ya, ayah sama bunda gak akan biarin kamu di penjara."

Grep

Vanka membalas pelukan sang bunda, dia harus membalas apa yang sudah Danish lakukan padanya, tidak peduli jika Danish adalah seorang publik figure, selama ada uang sang papa dia pasti akan selalu lolos.

"Kamu tenang aja, papa pastiin anak itu dapat balasannya, dia harus tau siapa yang sedang dia coba usik." Vanka tersenyum miring mendengar ucapan sang ayah, ayo lah dia adalah anak kesayangan kedua orang tua nya.

"Buat dia kapok ayah, kalau bisa biarin dia yang ada di penjara!" 

"Jangan khawatir nak, ayah pasti lakuin itu."

Vanka tentu saja senang, karena dia merasa akan menang dengan dukungan orang tua nya. Vanka tidak mengenal Danish dan dia sendiri yakin jika Danish tidak mengenalnya dengan dekat.

Vanka bahkan mengiyakan sang ayah yang akan berangkat ke kantor, begitu juga sang bunda yang mengatakan akan membuat kue.

"Lo salah lawan Danish, gue tuan putri keluarga Mahendra, lo gak bakal bisa kalahin gue." Vanka tersenyum miring saat melihat berita tentang kasus nya di laptop miliknya.

"Jangan kan lo Danish, bahkan kakak kembar gue yang bego itu aja gak bisa ngalahin gue." Vanka berbicara sendiri seolah tengah berhadapan dengan Danish secara langsung.

"Ah sayang nya kakak kembar gue itu udah mati, jadi dia gak bakal bisa bantuin lo."
.
.
.
.
.
Danish merengut kesal saat dia tidak boleh pulang sendirian, mereka khawatir jika Vanka akan mengirim orang untuk mencelakai Danish. Ya meskipun Danish tau jika Vanka bisa saja melakukan itu, tapi hanya orang bodoh yang akan melakukan itu pada siang hari.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang