.
.
.
.
.
Susana ruang latihan Akrala terlihat hening, semua karena kehadiran Bima yang langsung berdiri dihadapan Danish. Jika biasanya Danish hanya akan menunduk, kali ini Danish justru menatap Bima tanpa minat.
Danish mendengus saat melihat Bima tidak juga menyingkir dari hadapannya, apakah lelaki itu tidak sadar jika tubuhnya itu mengganggu pemandangan Danish pada Kenzo yang sedang bergurau dengan Jeffrey.
"Apa?" Bima terkejut saat Danish mengeluarkan suaranya.
"Udah berani lo sama gue?" Sentakan Bima membuat semua anggota Akrala menoleh, bahkan Kenzo dan Yuvan menatap khawatir.
"Emang gue punya salah sampai gue harus takut sama lo?" Danish beranjak dari duduk nya dan berdiri tepat di hadapan Bima.
"Kurang ajar!" Bima yang tidak terima Danish menjawab langsung melempar pukulan pada Danish, seperti sebelum-sebelumnya. Tapi belum sempat tangan Bima menyentuh wajah Danish, Danish sudah menepis tangan itu.
"Gak usah main tangan, inget lo disini kerja sama Akrala! Gue bisa aja minta lo di ganti disini!" Semua terkejut mendengar ucapan tegas dari Danish. Rasanya mereka seperti melihat sosok Janesh saat ini.
"Lo-" Danish kembali menepis tangan Bima yang mengarah padanya.
"Gue bukan orang yang sabar sebenernya, jadi jangan buat gue ngelakuin apa yang udah gue peringatin ke lo!" Kenzo dengan cepat menarik Danish menjauh dari Bima, karena dia bisa melihat kesungguhan di mata Danish.
"Udah dek, jangan emosi." Danish mendengus mendengar ucapan Kenzo.
"Sekarang latihan!!" Seruan tegas Danish membuat mereka langsung bersiap latihan, meskipun di iringi oleh tatapan bingung anggota Akrala yang lain.
"Dia beneran Danish?" Wiya berbisik pada Yuvan saat mereka sudah mulai latihan, dan Yuvan hanya mengangguk. Mereka baru saja melihat Danish yang setegas itu.
"Gue ngerasa liat Janesh, tapi Danish lebih tegas aja."
.
.
.
.
.
Agra itu suka musik, lebih tepat nya dia suka seni. Tapi sayang nya dia terlalu malas untuk bergerak, itulah alasan Danish selalu menggerutu dalam hati.
Jiwa mager Agra seperti di tantang untuk terus bergerak mengikuti jadwal Danish, belum lagi kebiasaan nya begadang yang ikut terbawa, atau memang Danish sendiri suka begadang? Agra tidak tau pasti.
Latihan dance mereka sudah selesai, dan saat ini mereka semua tengah istirahat. Hanya Danish yang sibuk dengan laptopnya, jangan lupakan headphone yang terpasang di telinga nya.
"Ck." Danish berdecak pelan saat melihat postingan Vanka di sosial media pribadinya.
"Lo gak akan bisa dapat sekuel dari Rasi Bintang." Danish tersenyum sinis, terutama saat melihat komentar yang masuk ke postingan tersebut. Sedikit banyak Danish bersyukur karena akun Agra memiliki banyak pembaca.
"Apa yang harus gue lakuin ke dia ya?" Jemari Danish dengan cepat meraih ponsel nya, mengetik nomor ponsel Alicia yang dia hafal di luar kepala.
Danish mengirim pesan pada Alicia menggunakan nomor ponsel nya yang baru, bukan nomor ponsel Danish. Bisa bahaya jika dia menggunakan nomor pribadi Danish.
"Semoga aja lo paham maksud gue Lis." Setelah itu Danish kembali menyimpan ponsel nya, dan kembali meneruskan kegiatannya untuk mengetik sesuatu.
"Danish lagi ngapain?" Danish mendongak dan menghela nafas saat melihat Yuvan ada di depannya.
"Kerja." Yuvan mengangguk dan memutuskan duduk di sebelah Danish.
"Kita mau pesen makan, lo mau makan apa?" Danish mengernyit, tapi netranya mencari keberadaan Kenzo.
"Tanyain ke bang Kenzo aja." Yuvan merengut saat mendengar jawaban Danish.
"Kenapa harus nanya ke Kenzo sih?" Danish mengedikan bahunya.
"Biasanya kan juga gitu." Yuvan memilih mengalah, dan beranjak mendekati Kenzo.
"Ken, pesenin buat Danish sekalian." Kenzo langsung menoleh dan menatap Yuvan.
"Kalau gitu, nasi ayam goreng nya tambah satu, gak usah pakai sambel." Wiya yang bertugas mencatat mengangguk.
"Kenapa gak pakai sambel?" Kenzo menatap Yuvan.
"Danish gak bisa makan pedes."
.
.
.
.
.
"Ini buat gue?" Jeffrey mengangguk saat Danish menunjuk jus mangga yang di berikan Jeffrey.
"Tapi gue gak pesen jus bang." Jeffrey tidak menjawab dan hanya berlalu pergi.
"Dih, aneh banget." Namun Danish yang memang cuek hanya mengedikan bahunya. Tidak peduli siapa pun yang memesan kan nya jus.
"Nih, makanan yang banyak." Danish tersenyum pada Kenzo yang menyodorkan sekotak nasi berisi nasi dan ayam goreng.
"Makasih bang, lo gak makan?" Kenzo menunjuk ke arah Ersya dan Wiya yang sedang menatap ke arah nya.
"Punya gue disana, lo mau makan bareng disana?" Danish menggeleng.
"Lo aja yang makan bang, nanti ada yang cemburu lagi." Kenzo tertawa sambil mengacak rambut Danish, dan hal itu ternyata berhasil membuat Yuvan merasa iri.
"Ya udah, lo juga cepetan makan." Danish mengangguk.
"Iya habis ini gue makan bang, makasih."
Interaksi Kenzo dan Danish sebenarnya membuat yang lain iri, namun mereka juga sadar jika mereka lah yang membuat jarak dengan Danish.
"Danish, selesai makan bisa ikut saya?" Danish mendongak dan mengangguk saat bertatapan dengan Erhan.
"Sekarang aja." Erhan terlihat ragu, tapi melihat Danish belum membuka makanan nya membuat Erhan mengangguk.
"Ya sudah, ayo." Danish langsung bangkit dan mengikut Erhan keluar dengan membawa laptopnya.
"Itu bocah punya kerjaan apa sih? Sibuk banget gue liat?" Yang lain hanya mengedikan bahunya saat Wiya bertanya.
"Sejak dia ketemu sama tim produksi dia jadi sok sibuk."
.
.
.
.
.
"Bagaimana Danish? Kamu bisa menemukan musik yang cocok untuk comeback kalian?" Erhan terlihat terkejut saat mendengar pertanyaan Deni, kepala dari tim produksi pada Danish.
"Sudah." Bukan hanya Erhan yang terkejut, tapi ternyata jawaban Danish juga membuat semua yang ada disana terkejut.
"Bisa kami dengar?" Danish mengangguk, dia mulai menekan laptopnya dan memainkan dua musik yang baru saja dia selesaikan tadi pagi.
Deni, Erhan dan semua tim produksi terdiam mendengar musik yang terdengar dari laptop milik Danish.
"Semuanya masih mentahan, nanti akan saya buat demo nya." Deni mengangguk, dia puas dengan apa yang dia dengar. Musik Danish sempurna, terdengar lebih baik, karena seperti memiliki nyawa.
"Saya tunggu Danish, saya percaya kamu bisa." Deni tersenyum tipis.
"Bisa selesai saat rapat minggu depan?" Danish mengangguk mantap.
"Bisa bang, saya usahakan demo nya bisa bang Deni dengar saat rapat besok." Deni mengangguk.
"Baiklah Danish, tapi ingat, jangan terlalu memaksa, jangan lupa istirahat." Danish mengangguk.
"Iya bang." Danish melirik Erhan yang hanya diam saja selama pertemuan tadi, sepertinya Erhan masih tidak menyangka jika Danish bisa menciptakan musik seperti itu.
"Kalau gitu saya boleh pamit bang? Saya belum makan siang." Deni mengangguk, membiarkan Danish pergi keluar diikuti Erhan.
"Jadi Deni minta kamu buat ikut andi dalam album kalian?" Danish mengangguk.
"Danish." Danish menoleh dan menatap lekat pada Erhan.
"Apa? Gue nyiptain itu sendiri, bukan punya Janesh!" Erhan merasa bersalah karena sempat menatap Danish tidak percaya.
"Saya percaya, kamu pasti bisa."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang
Double up nih...
Lanjut?
Apa udahan aja, besok lagi...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
