.
.
.
.
.
Jeffrey tau kesalahannya pada Danish juga besar, bahkan hingga jiwa pemilik tubuh mungil itu pergi Jeffrey belum pernah mengucap maaf.
Jeffrey tidak mengenal dekat Danish, saat ini yang dia kenal adalah Agra. Segala sesuatu yang dilakukan Danish sekarang adalah karena Agra, dan Jeffrey bersyukur atas hal itu.
Jeffrey memandang wajah lelap Danish yang masih betah berada dalam pelukannya, wajah damai dan manis itu lah yang membuat Jeffrey luluh, namun bukan wajah manis itu yang membuat jantung Jeffrey berdebar kencang.
Sorot mata tajam namun kadang terlihat jenaka juga lembut, tutur kata yang sedikit blak-blakan dan sikap tegas yang di perlihatkan saat sedang serius atau pun latihan lah yang membuat Jeffrey jatuh hati.
Semua itu adalah sifat Agra, memang dalam beberapa hal Agra memilik kesamaan dengan Danish, namun sorot mata dan segala tingkah laku itu hanya dimiliki oleh Agra. Danish terlalu pendiam dan penakut untuk mengatakan pendapat nya.
Jeffrey memainkan rambut hitam Danish yang mulai memanjang, seperti nya dalam comeback berikutnya Danish harus mengganti style rambutnya.
"Gue sayang sama lo, lebih dari sekedar abang ke adek nya Dan. Sejak pertama kali gue liat sorot mata lo malam itu, gue tau kalau gue udah jatuh sama lo. Gue seneng waktu denger lo juga suka sama gue, tapi kayaknya perjuangan gue masih panjang kan? Gue harus ngeyakinin lo dan bikin lo damai sama trauma lo." Jeffrey tersenyum sendu saat mengingat hal itu.
"Terima kasih Dan, terima kasih karena udah hadir dan bertahan disini meskipun berat."
Cup
Cup
Cup
Jeffrey mencuri beberapa kecupan di pipi Danish setelah mengatakan itu. Jika saja yang mendengarnya adalah anggota Akrala yang lain, pasti mereka benar-benar mengira jika Jeffrey mengatakan hal itu untuk Danish, namun nyatanya Jeffrey mengatakan itu untuk Agra.
"Cepet sehat ya, gue akan selalu ada disini buat jagain lo."
.
.
.
.
.
Sesuai perkataan Firly, Danish sama sekali tidak mau lepas dari Jeffrey. Pemuda mungil itu bahkan tidak mengabaikan bujukan anggota Akrala yang lain dan hanya mau berada di sebelah Jeffrey, Jeffrey tentu tidak keberatan akan hal itu karena dia tau jika Danish sedang lelah berpura-pura dan ingin dianggap sebagai Agra.
"Cil, makan dulu yuk. Bang Savian masak bubur manado tuh." Danish menatap Jeffrey lekat sebelum mengangguk.
"Sama bang Jefy kan? Gak akan pergi kan?" Jeffrey mengangguk.
"Iya sama gue, gak akan gue tinggalin kemana-mana." Danish akhirnya mau beranjak dari kasur dan ikut ke ruang makan bersama Danish.
"Danish, sini duduk sini!" Danish langsung bersembunyi di belakang tubuh Jeffrey.
"Gak mau, mau sama bang Jefy aja." Ersya langsung memasang wajah melas saat Danish menolak untuk duduk di sebelahnya.
"Yaya udah, biarin Danish sarapan dulu." Kenzo yang melihat Ersya merengut akhirnya mengelus kepala sang kekasih.
"Danish, mau teh hangat gak?" Danish menggeleng saat Mada bertanya padanya.
"Ya udah ini sarapan dulu." Danish menatap mangkuk berisi bubur manado yang baru saja di letakan Mada di hadapannya.
"Makasih bang." Mada tersenyum dan segera duduk di kursi nya.
"Udah makan dulu cil, nanti habis itu gue kasih roti kopi." Danish menatap Yuvan sebentar kemudian mengangguk mantap.
"Jangan bohong ya bang Yuyu." Yuvan tersenyum dan memberi anggukan.
"Kapan juga gue pernah bohong sama lo cil."
.
.
.
.
.
"Bang Jefy, bang Yasa kemana? Gue gak lihat dia dari tadi." Jeffrey menatap lekat ke arah Danish.
"Keluar sama bang Savian, kenapa?" Danish menggeleng.
"Aku...aku–"
Sret
"Udah gak usah merasa bersalah, lo udah maafin Wiya aja udah bagus." Danish hanya diam saat Jeffrey mengelus kepalanya.
"Bang Jefy, Danish itu suka Wiya." Jeffrey mengangguk, dia tau jelas jika Danish asli menyukai Wiya, Danish sudah pernah mengatakan itu sebelumnya.
"Iya, lo udah pernah bilang." Danish menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Jeffrey.
"Aku dulu pernah janji ke Danish kalau aku bakal lakuin apapun yang dia pingin lakuin dan ngebuat dia dapetin apa yang dia mau." Jeffrey terdiam, sengaja membiarkan Danish menyelesaikan dulu apa yang ingin dia ungkapkan.
"Aku udah bikin kalian peduli sama Danish, aku juga udah bikin keluarganya sayang ke Danish, tapi aku gak bisa bikin raga ini bersanding sama bang Yasa." Danish menunduk setelah mengatakan hal itu, bahkan pemuda mungil itu memainkan jemari milik Jeffrey.
"Kenapa? Karena bang Wiya udah jadi pacarnya bang Savian?" Danish menggeleng.
"Itu bukan satu-satunya alasan bang, selain karena hal itu aku juga takut sama bang Yasa, dan lagi hati ku gak akan pernah milih bang Yasa, gue takut Danish kecewa bang." Jeffrey menggeleng pelan.
"Dia gak akan kecewa Gra, gue yakin hal itu. Dia pasti tau alasan lo buat gak jadi sama bang Wiya, lagi pula sekarang tubuh ini punya lo, lo punya hak penuh buat ngelakuin apapun yang lo mau." Danish tidak menjawab dan tetap memainkan jemari Jeffrey.
"Agra, lo bisa pilih siapapun yang hati lo mau, lo gak harus sama bang Wiya. Sekarang lo punya gue kan? Lo suka gue kan?" Danish mengangguk kecil.
"Iya, aku suka bang Jefy, tapi aku bingung, aku takut bang."
Grep
Jeffrey akhirnya memilih memeluk tubuh mungil dari belakang, membiarkan tubuh mungil itu bersandar penuh padanya.
"Apa yang bikin lo takut? Takut kalau nanti nya gue bakal khianati lo kayak si bajingan itu?" Kali ini Danish mengangguk.
"Agra dengerin gue, gue gak akan ngelakuin itu, gue bakal lakuin usaha terbaik buat ngeyakinin lo soal itu. Gue bukan Sandi, gue Jeffrey, dan gue gak akan pernah jadi bajingan kayak dia."
"Agra Danish Mahendra, gue suka sama lo, bukan sebagai Danish tapi sebagai Agra. Gue suka sikap dan segala tingkah lo, bukan cuma karena wajah manis ini, bukan. Kalau emang gue suka Danish, gue pasti udah deketin dia dari dulu." Danish bimbang, dia tidak tau harus menjawab seperti apa.
"Bang Jefy."
"Danish, mungkin ini kedengarannya sedikit maksa, dan gue bisa aja di marahin bang Erhan sama bang Firly, bahkan bisa aja gue di hajar bang Altha, tapi gue bakal tetap ngomong ini ke lo." Jeffrey membalikan tubuh Danish, dan menangkup lembut kedua pipi pemuda itu.
"Agra, gue suka sama lo, suka sama semua sikap dan hal-hal yang lo anggap kekurangan itu. Jadi mau gak lo jadi pacar gue?" Danish mematung saat Jeffrey mengungkapkan maksud nya.
"B-bang Jefy serius?" Jeffrey mengangguk mantap.
"Gue gak pernah seserius ini Dan." Jeffrey masih tetap tersenyum.
"Bang Jefy, maaf gue gak bisa jawab sekarang, bisa kasih gue waktu buat itu?" Jeffrey mengangguk.
"Ambil waktu sebanyak apapun yang kamu mau Dan, kalau kamu udah punya jawaban aku masih ada di tempat yang sama buat nerima jawaban kamu."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat sore
Akrala double up ya
Gimana? Suka?
Up terakhir ya, soalnya klau di up lebih banyak bikin cepet end...
Selamat membaca dan semoga suka
See ya
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
