13. Perhatian Wiya

7.6K 669 11
                                        


.
.
.
.
.
Danish terpaksa memakai studio di perusahaan karena terlalu malas untuk pulang, padahal anggota Akrala yang lain bahkan sudah pulang semua. Ah tidak semua, karena ternyata Wiya masih berdiam diri di ruang latihan.

Danish berkutat dengan buku catatan nya, dia harus segera mencari lirik yang cocok untuk kedua musik yang dia buat, belum lagi dia masih harus mencari judul yang cocok.

"Hm, gue harus buat lirik yang gimana? Karena mereka mau lagu yang sesuai sama kehidupan sehari-hari kan." Danish terlihat berpikir keras sebelum akhirnya mulai menggores kertas kosong di hadapannya.

Beruntung tubuh Danish sekarang berisi jiwa Agra yang terbiasa merangkai kata demi kata, jadi dia tidak lagi kesulitan saat harus menulis lirik untuk lagu baru Akrala.

"Gak sesusah pas gue bikin draft novel ternyata." Danish merenggangkan badannya, duduk terlalu lama membuat punggung nya pegal.

"Capek, tapi males banget pulang." Danish memilih menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dari pada bangkit dan pulang.

Lain Danish, lain pula Wiya. Pemuda itu baru saja membereskan tas nya dan akan pulang, apa lagi waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari.

Wiya mematikan lampu ruang latihan, namun saat akan melangkah pergi dia melihat lampu studio masih menyala terang.

"Siapa yang masih ada di studio?" Wiya mengernyit, dia ingat saat semua anggota nya pamit pulang, namun ada satu yang tidak dia lihat sejak selesai latihan.

"Bocil itu masih di studio?" Wiya berdecak kesal dan memilih melangkah ke studio.

Cklek

"Cil, lo gak mau pulang?" Danish yang memejamkan matanya di kursi terkejut saat mendengar suara nyaring Wiya.

"Kok lo belum pulang bang?" Wiya mendengus saat Danish balik bertanya.

"Gue duluan yang nanya, bukannya jawab malah balik nanya!" Danish menghela nafas panjang, hal itu membuat Wiya menatap bingung.

"Gue mager banget buat gerak bang Yasa, pusing kepala gue." Wiya mengernyit mendengar panggilan Danish padanya.

"Ck, ayo pulang kalau gitu." Danish menggeleng.

"Gak kuat jalan bang." Wiya menghela nafas panjang dan membungkuk di depan Danish.

"Ayo!" Danish menatap Wiya bingung, hal itu membuat Wiya gemas sendiri, terutama saat melihat tatapan polos Danish.

Sret

"Eh?" Danish terkejut saat Wiya tiba-tiba menarik tangan nya dan membuat tubuhnya bersandar pada punggung Wiya.

"B-bang Yasa, turunin gue." Danish mencoba turun, namun jiwa mager nya terlalu mendominasi.

"Udah diem deh, kita pulang!"
.
.
.
.
.
Wiya bersyukur dia membawa mobilnya sendiri hari ini, jika tidak dia pasti harus pulang menggunakan taxi.

Wiya menatap wajah lelap Danish yang terlihat polos dan manis, kenapa Wiya baru sadar jika wajah Danish bisa sepolos ini.

"Kalau gue perhatiin wajah lo beda sama Janesh, Janesh itu ganteng tapi kalau lo manis." Wiya menyingkirkan poni di dahi Danish pelan, takut membangunkan pemuda yang sudah terlelap itu.

"Gue gak pernah benci sama lo Dan, gue cuma gak siap buat liat wajah lo yang serupa sama Janesh." Wiya bergumam pelan sebelum akhirnya mulai menjalankan mobilnya pulang.

Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa Wiya terlihat galak dan tidak suka pada Danish, bukan karena benci tapi semua itu adalah cara Wiya untuk mengusir rasa sedihnya.

Wiya fokus pada jalanan di depannya, dia harus sampai di asrama dengan selamat, dan lagi dia sedang membawa Danish di sebelahnya.

Saat mobil Wiya sampai, bisa dipastikan jika semua penghuni nya sudah terlelap, terbukti dengan beberapa lampu yang sudah di padamkan.

"Eugh." Wiya tersentak kaget saat mendengar lenguhan pelan dari Danish.

"Udah sampai ya bang?" Wiya menggigit bibir bawahnya sendiri sata melihat Danish mengusap matanya.

"Iya, turun!" Wiya ingin tertawa saat melihat Danish berjalan dengan terhuyung karena mengantuk.

Bruk

"Heh, masuk kamar terus tidur, malah tiduran di sofa." Danish hanya mengerang sebentar sebelum menatap Wiya lekat.

"Nanti bang Vian bangun kalau gue masuk ke kamar bang, gue tidur sini aja. Sana bang Yasa aja yang masuk kamar." Wiya menggelengkan kepalanya, ternyata Danish juga sama keras kepalanya.

"Ck, terserah lo aja." Danish sudah memejamkan matanya, dia terlalu mager untuk menjawab. Dan lagi dia lebih baik tidur saat ini, dia sudah begadang tiga hari kebelakang.

Wiya memutuskan masuk ke kamar nya, netranya melihat Jeffrey dan Ersya yang sudah tertidur di ranjang masing-masing. Namun bukan ranjang miliknya yang menjadi pilihan Wiya, melainkan lemari.

Wiya mengambil sebuah selimut yang cukup tebal dan membawanya keluar kamar, pemuda itu menyelimuti Danish dengan gerakan pelan, berusaha agar pemuda yang lebih mungil darinya itu tidak terbangun.

"Selamat tidur, lain kali lo harus sedia selimut kalau tidur di luar, lo gak betah dingin." Wiya mengelus kepala Danish sebelum beranjak ke kamarnya, dia sangat ingat jika Janesh dulu suka sekali menceritakan tentang adik kembarnya saat mereka latihan malam hari.

"Ijinin gue yang jaga adek lo mulai sekarang ya Jan, biarin gue yang gantiin keinginan lo dulu."
.
.
.
.
.
Savian yang bangun setelah subuh di buat menggelengkan kepalanya saat melihat Danish bergelung dengan selimut yang dia ketahui milik Wiya, posisi pemuda mungil itu hampir sama seperti ulat sagu.

"Kenapa gak masuk kamar sih?" Savian melihat ke arah jam dinding, masih pukul lima dan sepertinya lebih baik Savian bangunkan dan meminta nya pindah ke kamar.

"Danish." Hanya panggilan pelan, tapi mampu membuat Danish membuka matanya.

"Hng, kenapa bang Vian?" Savian menghela nafas panjang.

"Pindah kamar sana, kenapa seneng tidur di sofa sih?" Danish hanya mengangguk angguk tapi tidak beranjak sama sekali.

"Heh malah tidur lagi, sana pindah!" Danish menggeleng dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.

"Nanti aja, mau tidur bentar lagi." Savian menggelengkan kepalanya dan memilih meninggalkan Danish.

"Eh, tapi sejak kapan anak itu gampang di bangunin? Dulu meskipun ada gempa juga dia gak bangun." Savian bergumam bingung. Karena memang pada nyatanya, Danish dulu susah untuk di bangunkan.

"Udah lah." Savian memutuskan memasak nasi, dia berencana membuat nasi goreng untuk sarapan.

Hari ini mereka libur, tidak ada jadwal sama sekali jadi tidak masalah jika mereka sarapan menggunakan nasi.

"Bang Sav." Savian tersenyum saat melihat Wiya menghampirinya.

"Lo pulang jam berapa semalem?" Wiya yang tengah minum langsung menoleh.

"Jam satu sampai rumah kok bang, kenapa?" Savian menoleh dan menatap gundukan selimut yang ada di sofa.

"Terus itu anak?" Wiya ikut melihat ke arah sofa, dimana Danish masih bergelung disana.

"Oh si bocil, bareng sama gue. Lebih tepatnya gue yang bawa dia pulang karena ngeluh pusing." Savian terdiam, tidak lagi membahas apapun soal Danish.

"Ayo bantu gue bikin sarapan Ya." Wiya mengangguk dan mulai ikut sibuk dengan Savian.

"Bang, lo benci sama Danish?" Savian mengernyit dan menoleh, pemuda itu hanya menggeleng kecil.

"Gue gak benci, cuma gak suka. Tapi gue rasa dia berubah akhir-akhir ini."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang
Ada yang nungguin?
Lanjut?

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang