.
.
.
.
.
Danish rasanya tenang saat tidak lagi mendengar ucapan kasar dari anggota Akrala, Mada tidak lagi memarahinya hanya karena masalah sepele seperti biasanya.
Proses rekaman lagu mereka juga sudah selesai, dan hari ini mereka akan melakukan syuting musik video di bandung.
Danish yang mendengar kata bandung jelas bahagia, karena dia akhirnya bisa kembali menginjak kan kaki di kota itu. Dengan begitu kesempatan nya mencari tau soal Agra akan semakin besar.
"Danish ayo, udah selesai kan?" Danish menatap Yuvan yang baru saja masuk ke kamarnya dan Savian.
"Udah bang, ayo ayo." Yuvan mengulas senyum saat melihat Danish yang seperti anak kecil mau di ajak piknik.
"Cil, lo kayak gak pernah ke bandung aja." Danish merengut sambil menatap ke arah Wiya yang baru saja mengejeknya.
"Bang Dabi, gue duduk di sebelah lo ya." Danish menatap Mada penuh harap.
"Hm." Deheman Mada membuat Danish tersenyum senang.
"Cil, duduk sama gue aja lah, kenapa lo sama Mada mulu deh, kan dia jelek." Wiya terlihat tidak terima saat Danish sudah duduk tenang di sebelah Mada.
"Bang Yasa tadi sarapan apa sih?" Wiya yang di tatap oleh Danish seketika berpikir.
"Apa? Sarapan kita sama ya cil, nasi goreng. Eh gue makan pisang sih." Wiya bergumam di akhir kalimatnya.
"Oh pantes aja bang Yasa cerewet habis makan pisang ternyata." Celetukan Danish membuat seisi bis menahan tawa, apa lagi saat Wiya terlihat syok mendengar hal itu.
"Ya tuhan cil, lo kira gue burung, yang langsung ngoceh habis makan pisang!" Danish mengedikan bahunya acuh.
"Habisnya bang Yasa cerewet kayak kakak tua." Wiya semakin tidak bisa berkutik saat mendengar Danish berbicara seperti itu.
"Udah-udah, Wiya sana duduk, kita mau berangkat." Erhan yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya menengahi mereka.
"Gue pingin duduk di sebelah Danish loh bang." Erhan hanya menggelengkan kepala, pusing melihat tingkah anak-anak asuh nya yang ingin dekat dengan Danish.
"Danish, gak mau duduk di sebelah Wiya aja?" Erhan menatap Danish yang langsung memberi gelengan.
"Gak mau bang, bang Yasa suka peluk-peluk sama cium-cium pipi. Nanti gue gak bisa tidur selama perjalanan." Erhan beralih menatap Wiya yang akhirnya menghela nafas pasrah.
"Udah denger jawaban Danish kan? Sekarang duduk. Biar kalian gak kesiangan sampai disana." Wiya akhirnya mengangguk dan segera duduk di sebelah Savian.
"Mada menang banyak, males gue."
.
.
.
.
.
Danish benar-benar hanya diam menatap keluar jendela atau tidur selama perjalan mereka ke bandung, bahkan pemuda itu tidak mengganggu Mada sama sekali.
"Nanti setelah sampai kalian bisa istirahat dulu di hotel, syuting baru akan di mulai besok. Jadi hari ini kalian bebas, kalau kalian mau jalan-jalan silakan tapi inget jangan balik terlalu malam. Jangan lupa maskernya juga, paham?" Ketujuh anggota Akrala mengangguk serempak, namun Danish hanya diam sambil tetap menatap ke arah jalanan.
Danish tetap diam bahkan setelah mereka sampai di hotel, pemuda itu menunduk dalam saat kaki nya menginjak tanah bandung.
Ingatan demi ingatan kehidupan nya sebagai Agra kembali berputar di kepala nya, ingatan yang selama sebulan ini seperti dia lupakan. Dia ingat saat dia diusir oleh kedua orang tuanya karena salah paham, bagaimana masa kecilnya yang tidak seperti anak kebanyakan.
Ingatan-ingatan itu membuat kepalanya sakit, dia tidak ingin mengingat nya tapi hal itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Grep
Ersya sedikit terkejut saat Danish tiba-tiba memeluknya dari belakang, bahkan tangan pemuda itu meremat jaket Ersya dengan kuat.
"Kenapa Dan?" Pertanyaan pelan Ersya tenyata bukan hanya di dengar oleh Danish tapi juga didengar Yuvan yang memang ada di sebelahnya.
"Danish, kenapa?" Yuvan mengerti ada yang tidak beres dari Danish saat ini, dan dia juga melihat raut khawatir Ersya.
"Badan gue tiba-tiba lemes bang, pusing." Ersya langsung berbalik dan menatap lekat pada wajah Danish yang memang terlihat sedikit pucat. Yuvan yang tau itu segera mendekati Danish dan merangkulnya.
Grep
"Sini sandaran ke gue aja, kalau lo sandaran ke Ersya kalian bisa nyusruk bareng." Danish mengangguk dan beralih memeluk tubuh tinggi Yuvan.
"Pusing banget?" Danish mengangguk kecil saat Yuvan mengatakan itu.
"Tahan sebentar bisa? Habis ini kita naik ke kamar kok, apa mau gue gendong aja?" Danish menggeleng.
"Gini aja bang, jangan di gendong nanti gue malu." Yuvan tersenyum tipis dan mengeratkan rangkulannya.
Disaat Yuvan sibuk mengajak Danish mengobrol, Ersya sudah bergerak memberitahu pada Erhan dan anggota yang lain.
"Danish, okey? Masih sanggup jalan?" Danish menoleh dan menatap Kenzo yang baru saja menghampirinya dan Yuvan.
"Okey bang, masih sanggup kok kalau cuma jalan ke kamar aja." Kenzo menghela nafas, dia tau jika tubuh Danish itu berbeda dengan mereka. Danish terlalu gampang sakit saat kelelahan ataupun banyak pikiran.
"Danish, mau kerumah sakit aja?" Danish langsung menggeleng.
"Gak usah bang, saya gak papa loh." Erhan mengangguk, dia tau Danish paling tidak suka dipaksa.
"Ya udah kalau gitu, kamu sekamar sama Yuvan ya, gak keberatan kan?" Danish menggeleng kecil, tentu saja dia tidak keberatan pelukan Yuvan itu hangat seperti beruang.
"Yah bang Erhan!" Lagi-lagi protesan terdengar dari Wiya.
"Udah gak usah protes dulu Wi, ayo naik, biar Danish bisa istirahat."
.
.
.
.
.
Sebelumnya Yuvan sudah berencana akan pergi jalan-jalan dengan yang lain, tapi saat ini akhirnya dia memutuskan untuk tetap tinggal di hotel, menemani Danish tengah tertidur.
"Van kalau lo mau nitip sesuatu chat kita aja ya." Kenzo yang datang ke kamar Yuvan dan Danish hanya bisa mengatakan itu saat Yuvan menolak untuk ikut.
"Nanti bawain gue boba aja, gue lagi pingin yang dingin-dingin." Kenzo mengangguk, netranya menatap pada Savian yang baru saja memeriksa Danish.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi kita, atau ke bang Erhan. Bang Erhan stay di hotel kok." Yuvan mengangguk saat Savian mengatakan itu.
"Iya bang, nanti kalau ada apa-apa langsung gue kabari. Gak usah khawatir, gue bakal jaga Danish."
Anggota yang lain percaya pada Yuvan, mereka tau Yuvan adalah sosok yang lembut dan perhatian. Bahkan selama ini Yuvan lah orang pertama yang akan bertindak menghentikan segala kekerasan yang dialami Danish.
"Kita pergi dulu." Yuvan mengangguk.
"Hati-hati bang, maskernya jangan lupa." Savian dan Kenzo hanya memberikan gestur oke saat Yuvan mengatakan itu.
Yuvan memutuskan untuk duduk di atas ranjang, menatap ke arah Danish yang bergelung nyaman.
Sret
Tangan besar Yuvan perlahan bergerak mengelus kepala Danish lembut, sesekali Yuvan akan merapikan rambut Danish yang terlihat berantakan.
"Jangan mikirin hal yang aneh-aneh Dan, kita semua sekarang ada disini sama lo. Lo udah gak sendirian, maaf kalau selama ini gue cuma bisa diem aja waktu mereka ngatain lo, padahal gue tau apa yang udah lo alami sebelum gabung sama kita." Yuvan merasa bersalah saat mengingat perlakuan mereka pada Danish dulu.
"Gue nutup hati gue buat inget sama cerita Janesh, tapi ternyata itu bikin gue ikut nyakitin lo ya, maafin gue ya." Yuvan memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Danish. Pemuda tinggi itu memeluk Danish sebelum akhirnya ikut terlelap.
"Jangan sakit, besok setelah syuting gue ajak lo jalan-jalan."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang
Akrala kembali...
Ada yang nungguin Danish gak nih?
Hari ini enak nya double up atau gak ya?
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
