.
.
.
.
.
Jika boleh jujur Jeffrey ingin sekali mengulang waktu, dia ingin menarik semua ucapan dan perlakuannya pada Danish selama tiga tahun ini. Dia membenci orang yang tidak tau apa pun, apa lagi Danish adalah orang yang menyelamatkan mereka dari kejadian gagal debut.
"Bang, kerjaan gue gimana nanti?" Jeffrey menatap ke arah wajah Danish yang sedikit tertutup selimut.
"Besok lagi, sekarang istirahat." Danish memejamkan matanya sebentar sebelum kembali membukanya dan menatap ke arah Jeffrey.
"Nanti kalian marah lagi kalau kerjaan gue gak selesai." Jeffrey terdiam, pemuda itu meruntuk dalam hati kenapa Danish harus kembali mengingat semuanya.
"Gak bakal ada yang marahin lo." Danish menggeleng kecil, kedua netranya terlihat sayu saat menatap jemari mungilnya yang terlihat dari balik selimut.
"Gue capek tau bang kalau dimarahin terus, gak kalian gak mereka suka banget marahin gue." Jeffrey mengernyit. Pemuda itu kembali menatap ke arah Danish yang beberapa kali mengerjapkan matanya.
"Lo udah ngantuk gitu, ayo tidur." Danish menggeleng pelan sambil merengut, dan itu sukses membuat Jeffrey gemas.
"Gue gak ngantuk, gue takut." Jeffrey memposisikan tubuhnya menghadap Danish.
"Takut kenapa?"
"Kalau tugas gue gak selesai nanti kalian semua marah." Jeffrey menghela nafas panjang saat Danish kembali mengucapkan itu.
"Kita gak akan marah." Jeffrey kira ucapannya sudah cukup untuk membuat Danish mengalah namun ternyata tidak.
"Kalau kalian gak marah, mereka pasti marah." Lagi, ucapan Danish benar-benar membuat Jeffrey bingung.
"Mereka siapa?"
"Mama, papa sama kak Balthasar." Jeffrey memutuskan diam tanpa berkomentar, menunggu Danish menceritakan semua nya meskipun dia sudah setengah sadar karena mengantuk.
"Mereka selalu marah kalau sama aku, katanya aku gak becus jadi anak, gak pantes jadi anak mereka. Bahkan mereka nampar aku pas acara keluarga kemarin bang, katanya aku ngehancurin mimpi kak Janesh." Jeffrey bisa merasakan kesedihan dari sorot mata sayu dan suara Danish yang memelan.
"Dari dulu apa yang aku lakuin pasti salah buat mereka, mereka gak bolehin aku belajar musik karena mereka gak mau aku deket sama kak Janesh. Mereka bahkan harapin aku yang meninggal bukan kak Janesh, kalau itu aku gak keberatan, soalnya aku juga mau tuker tempat sama kak Janesh kalau bisa. Dengan gitu aku gak bakal di marahin lagi, gak bakal di benci lagi. Kalian juga gak bakal marah-marah ke aku, padahal kita saat itu baru kenal tapi aku udah kalian maki-maki." Jeffrey menggigit bibir bawahnya saat melihat air mata mengalir dari kedua netra Danish.
"Aku juga gak mau kak Janesh meninggal bang, padahal yang selama ini mengharap kematian itu aku, aku capek soalnya."
Grep
Jeffrey memutuskan memeluk tubuh Danish yang masih terbungkus dengan selimut, mengelus kepala pemuda dua puluh tahun itu lembut setelah menghapus air mata yang mengalir tadi.
"Udah ya, maafin kita. Maaf kalau ternyata kita juga bikin kamu capek, sekarang tidur yuk, besok cerita lagi." Danish mengerjap pelan beberapa kali, memperhatikan wajah Jeffrey yang tengah memeluknya.
"Jangan marah-marah bang, aku takut kalau bang Jefy yang marah-marah, abang jadi kayak beruang galak." Jeffrey mengangguk, meskipun sebenarnya dia kesal karena disamakan dengan beruang oleh Danish.
"Iya, gue gak bakal galak-galak lagi ke lo, asal lo tidur sekarang." Danish mengangguk kecil.
"Janji ya jangan galak-galak, soalnya nanti bang Jefy jadi jelek." Jeffrey mengusap pelan kepala Danish, berharap semoga pemuda itu segera tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
