.
.
.
.
.
Kenzo menahan tawanya saat melihat wajah merengut Danish, pemuda itu sudah merajuk sejak dia datang ke rumah sakit tadi pagi. Kenzo tau semua itu pasti karena kehadiran Yuvan yang menemani Danish semalam.
"Kenapa manyun gitu?" Kenzo melihat Danish melirik ke arah Yuvan yang duduk di sofa.
"Kenapa dia gak pulang sih bang? Dia bikin gue sebel." Kenzo menghela nafas panjang dan mendekati Danish. Dia tau jika Yuvan memiliki niat untuk memperbaiki segalanya dengan Danish, karena pemuda tinggi itu sendiri yang menghubungi nya semalam.
"Mungkin Yuvan khawatir sama lo Dan, gak usah sok galak." Danish mendengus sebelum memutuskan untuk turun dari ranjang.
Danish sudah di perbolehkan pulang siang ini, mereka hanya tinggal menunggu Erhan yang sedang mengurus administrasinya.
Cklek
Ketiganya menoleh saat mendengar pintu di buka, mereka bisa melihat Erhan yang baru saja masuk.
"Ayo pulang." Danish tersenyum saat Erhan mengatakan itu.
"Ayo pulang bang, tinggalin aja bang Yuyu." Erhan hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Danish.
"Dia kayaknya benci banget sama gue bang." Erhan menoleh ke arah Yuvan yang baru saja berucap.
"Baru segitu aja pundung, gimana Danish yang kalian perlakuin kayak gitu tiga tahun ini?" Yuvan terdiam, pemuda itu menunduk saat mendengar perkataan sang manager.
"Kita keterlaluan ya bang?" Erhan hanya mengangguk.
"Jangan di bahas disini, kita bahas di asrama. Ayo, sebelum Danish ngajak Kenzo pulang duluan."
.
.
.
.
.
"Danish, istirahat!"
Danish mendengus saat lagi-lagi Yuvan mengingatkan nya untuk istirahat, padahal dia baru saja bangun tidur.
"Bang Yuyu, diem aja kayak biasanya deh, jangan larang-larang." Yuvan berdecak saat Danish mengatakan itu.
"Danish, gue cuma gak mau lo sakit lagi." Danish merotasikan matanya kesal.
"Biasanya juga gak peduli!"
Deg
Yuvan kembali di buat tidak bisa berkata-kata oleh Danish.
"Lagian gue cuma mau ke studio, ada yang harus gue lakuin." Belum juga Yuvan menjawab, Danish sudah melenggang pergi dari hadapan pemuda itu.
"Kenapa susah banget deketin lo sih?"
"Danish emang susah buat dideketin." Yuvan terlonjak kaget saat mendengar suara Kenzo di belakang nya.
"Sialan, ngagetin aja kucing satu ini." Kenzo tertawa melihat ekspresi wajah Yuvan.
"Lo harus usaha ekstra buat deketin dia, gue aja yang deketin dari awal masih susah, apa lagi lo." Yuvan menghela nafas panjang, sepertinya perjuangannya kali ini akan sangat panjang.
"Bantuin gue Ken." Kenzo hanya menggeleng.
"Dih males, usaha sendiri."
.
.
.
.
.
Yuvan membawa dua bungkus martabak dan berdiri di depan pintu studio Danish, tempat yang sebenarnya tidak pernah lagi dia datangi selama tiga tahun ini.
Studio itu mengingatkan mereka pada Janesh, karena Janesh sering menghabiskan waktu senggang nya disana. Dan sekarang Danish juga seperti itu.
Yuvan mengetuk pintu beberapa kali, namun belum ada yang membukanya. Dengan terpaksa pemuda itu kembali mengetuk untuk yang kesekian kali nya.
Tok
Tok
Tok
Tok
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
