52. Ayo ke bandung!

3.9K 340 6
                                        


.
.
.
.
.
Bandung

Kali ini Danish tiba-tiba mengajak anggota Akrala ke bandung, setelah itu Danish ingin jalan-jalan ke puncak. Tidak ada yang menolak permintaan leader mungil mereka itu, bahkan Erhan dan Firly langsung memberi ijin tentang hal itu.

Danish sengaja mengajak mereka mampir ke cafe awan lebih dulu, Danish ingin membahas soal kelanjutan kasus novel itu dengan Saka atau Alicia, mungkin sedikit memberikan info soal rekaman cctv kost Agra.

"Mampir cafe awan nanti cil?" Danish mengangguk saat Jeffrey bertanya, mereka sedang sarapan saat ini.

"Iya bang, mau ngerampok chocomilo cake nya Saka." Jeffrey menggelengkan kepalanya, karena selain suka dengan rotikopi, Danish juga sangat suka dengan segala hal yang memiliki rasa chocomilo.

"Jangan sering makan manis, nanti lo di kerubungin semut." Danish menatap sebal pada Wiya yang baru saja mengatakan itu.

"Biar aja sih, yang di kerubungi gue ini." Savian yang sepertinya tau jika Wiya akan terus menggoda Danish akhirnya memilih mendekat dan meminta mereka cepat.

"Udah, cepet sarapannya. Keburu macet kalau kita kesiangan." Danish segera menghabiskan roti bakarnya dan segera masuk kedalam kamar.

"Ini beneran aman kalau kita ke bandung tanpa staff bang?" Savian tersenyum saat mendengar pertanyaan Ersya.

"Tenang aja, kita gak bener-bener lepas dari staff kok, bener kan Jeff?" Jeffrey mengangguk, dia memang meminta beberapa staff keamanan perusahaan tetap mengawasi mereka, berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Ya udah, selama Danish gak sedih dan bisa ketawa, turutin aja. Gak berbahaya juga kan?" Yang lain mengangguk paham. Mereka lebih senang menuruti permintaan Danish dibanding melihat leader mungil mereka itu menangis seperti malam itu.

"Iya bang."
.
.
.
.
.
"Cafe nya rame banget? Yakin aman?" Yuvan, Savian, Mada, Wiya, Kenzo dan Ersya menatap ke halaman cafe yang terlihat sangat ramai.

"Tenang aja bang, setiap hari memang gitu." Jawaban Danish membuat yang lain menghela nafas.

"Mereka pembaca novel Rasi Bintang yang mau ngebakar novel itu bang." Anggota Akrala yang lain terkejut mendengar ucapan Jeffrey.

"Bang ayo." Anggota Akrala tidak lagi membahas tentang sekumpulan orang itu saat Danish keluar dari mobil, yang mereka lakukan adalah mengikuti langkah leader mereka itu.

"Selamat datang." Danish mengulas senyum saat melihat salah satu pegawai menyambut mereka.

"Saya sudah pesan ruangan empat." Karyawan itu mengangguk.

"Iya mas Danish, mas Saka sudah kasih tau kita, silakan."

"Terima kasih."

Danish mengucap terima kasih saat berlalu menuju ruangan yang dia inginkan, beruntung Saka memberitahu karyawan nya tadi.

"Saka mau kesini juga kan cil?" Danish mengangguk saat mereka sudah masuk kedalam ruangan.

"Iya katanya, tapi dia masih di kostan." Jeffrey tersenyum saat melihat Danish merengut.

"Dia punya rumah gede tapi lebih seneng di kostan, coba aja dia tau soal cctv itu, pasti itu kostan udah rata sama tanah." Danish menggerutu pelan namun tetap bisa di dengar oleh yang lain.

"Bang Vian, nanti habis ini ke puncak ya?!" Savian hanya mengangguk, toh dia dan Yuvan akan menyetir bergantian.

"Iya nanti kita ke puncak, mau nginep juga disana?" Danish mengerjap dan menatap Yuvan penuh binar.

"Boleh bang?" Yuvan mengangguk.

"Boleh, gue udah ijin ke bang Erhan juga." Danish mengulas senyum.

"Mau bang, tapi semalem aja ya. Cari vila disana, terus beli jagung bakar."
.
.
.
.
.
"AYANGGGGG!!!" Teriakan nyaring yang terdengar sebelum pintu ruangan terbuka itu membuat anggota Akrala terkejut, tapi berbeda dengan Danish yang bahkan sudah berdiri sambil menggerutu.

Brak

Grep

"Ayang gemoi." Danish hanya pasrah saat Alicia langsung memeluk tubuhnya begitu masuk kedalam ruangan, berbeda dengan Saka yang masuk dengan tenang dan menyapa Jeffrey juga anggota yang lain.

"Aliali lepasin." Alicia merengut tapi tetap melepaskan pelukannya dari Danish.

"Alis, lo gak malu dilihat mereka?" Saka menarik Alicia menjauh dari Danish dan menatap anggota Akrala yang lain.

"Gak ngapain gue malu? Gue pake baju lengkap kok, dan lagi gue cuma meluk gemoi gue, salah?!" Saka sebenarnya ingin menggeleng, tapi tatapan Danish membuatnya mengurungkan niat.

"Gak salah, gak salah. Udah ayo duduk Ka, Lis ada yang mau gue bahas soal novel itu." Ekspresi Saka dan Alicia langsung berubah serius.

"Ada apa? Belum ada kemajuan soal laporannya?" Danish menggeleng saat Saka bertanya. Sedangkan anggota Akrala yang lain hanya bisa menyimak apa yang mereka bertiga bahas, meskipun terkadang Jeffrey, Wiya atau pun Yuvan akan ikut berkomentar.

"Harusnya lo iyain aja tawaran gue buat acak-acak keluarga bajingan itu Dan." Danish menggeleng saat Alicia berkata kesal. Mau bagaimana pun dia tidak ingin dianggap durhaka.

"Biarin masalah novel itu jadi tanggungan gue, ada banyak orang yang bakal bantuin gue nanti kalau gue mulai buka siapa gue di balik akun Samudra Kata." Saka mengangguk mengerti, dia tentu paham maksud Danish. Danish adalah publik figure, dia memiliki banyak penggemar di luar sana yang akan siap membelanya, ditambah dengan banyaknya pembaca setia Samudra Kata. Vanka bukan lah lawan yang sulit untuk Danish saat ini, terutama Danish adalah bungsu keluarga Mahesa, yang jelas kekayaannya jauh diatas keluarga Mahendra.

"Oke kalau gitu buat masalah plagiat novel itu kita gak akan ikut campur, tapi lo tau kemana lo bisa pergi kalau butuh bantuan." Danish mengangguk dan tersenyum manis, hal itu membuat semua yang ada di ruangan itu harus menahan pekikan gemas mereka.

"Gue tau ada lagi yang mau lo bilang ke kita Dan." Danish mengangguk ragu. Tangannya mengeluarkan sebuah flashdisk dan meletakannya di atas meja.

"Gue mau kalian simpen salinan ini, gue tau kalian pasti bakal marah waktu liat apa isi flashdisk ini, tapi gue mohon tahan emosi kalian. Gue udah hancur waktu pertama kali liat itu, dan gue tau kalian pasti bakal ngerasain hal yang sama. Tapi sekali lagi gue mohon, jangan bertindak dulu, gue harus selesein masalah novel ini dulu setelah itu ke arah sana, bisa janji sama gue?" Saka dan Alicia mengangguk tanpa ragu.

"Iya, kita janji bakal bergerak setelah kasus novel itu selesai." Danish tersenyum sendu saat mendengar jawaban Alicia.

Danish tau sahabatnya akan lebih hancur dari pada dirinya saat melihat rekaman cctv yang ada di flashdisk itu, terutama Alicia. Danish yakin sahabat cantiknya itu akan kembali menangis, tapi dia tidak bisa berbuat apa -apa, dia harus serba hati-hati.

Danish harus memastikan semua aman sebelum bertindak, karena dia yakin jika hal itu berhubungan dengan kasus plagiat novel yang dia alami.

"Kalau gitu gue sama yang lain pamit ya." Alicia terlihat tidak terima saat Danish sudah akan pergi.

"Gak bisa lebih lama lagi lo disini?" Danish menggeleng.

"Nanti kan kita ketemu lagi, gue sama yang lain mau ke puncak mau makan jagung bakar." Alicia dan Saka langsung menatap anggota Akrala dengan tatapan kasihan.

"Pasti lo yang minta kan?" Danish hanya tertawa kecil.

"Lo itu kalau lagi mau gak peduli jauh juga lo jabanin, coba kalau lo pas mager, kalau bisa lo pake pispot biar gak ke kamar mandi!"
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat sore
Double up...
Seneng gak? Seneng gak?
Mulai dari sini nanti sedikit-sedikit mulai masuk konflik...
Jadi siapin senjata buat baku hantam ya nanti ...

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang