75. Pantai

2.4K 254 5
                                        


.
.
.
.
.
Mada tidak melepaskan pelukannya dari Danish sedikitpun, sejak setelah mandi tadi dan sekarang mereka sedang menunggu giliran make up.

"Bang Dabi gak mau lepasin gue?" Mada menggeleng.

"Gak, gue kangen sama lo." Danish tersenyum tipis.

"Tapi kasian bang Yuyu tuh, ekspresinya kayak mau makan orang." Mada langsung menoleh ke arah Yuvan yang segera menggeleng.

"Gak usah pikirin Yuvan, dia gak bakal ngapa-ngapain." Danish hanya diam, tangannya memainkan jemari panjang Mada yang ada di perutnya.

"Lo bikin kita khawatir cil, kenapa gak bisa di hubungi seminggu ini?" Danish menoleh dan menatap ke arah Savian yang baru saja selesai di make up.

"Hape gue mati karena jatuh dari balkon bang, maaf." Savian mengelus kepala Danish pelan.

"Lo udah sehat kan cil? Gue denger dari bang Altha kalau lo sempet drop lagi minggu lalu?" Danish tersenyum mendengar bisikan Mada.

"Gue udah sehat bang, jangan khawatir."

Danish tau jika Wiya beberapa kali menatap ke arah nya, namun Danish tidak bisa berada di dekat pemuda itu, cukup saat mereka ada di depan kamera saja.

Fisiknya memang pulih, namun psikisnya sama sekali belum pulih. Bergelut dengan trauma membuat Danish harus menjaga jarak nya dengan Wiya, tubuhnya akan bereaksi berlebihan saat dia ada di dekat Wiya. Beruntung Danish bisa mengatasi itu jika di depan kamera.

"Danish, ayo giliran kamu." Danish mengangguk dan beranjak mendekati staff nya.

"Jangan deketin Danish secara berlebih kecuali di depan kamera, dia belum bisa ngatasin rasa takutnya."
.
.
.
.
.
Danish lebih diam dibanding biasanya, meskipun mereka setang melakukan syuting dengan kamera yang menyala namun Danish tidak banyak bicara.

Semua staff memaklumi itu sebagai tanda jika Danish baru saja pulih, dan baru kembali setelah hiatus lebih dari tiga bulan.

Sebuah game muncul saat mereka sedang sarapan, Danish yang tidak memahami konsep game nya hanya diam dan sesekali menatap ke arah anggota yang lain. Padahal sebelum nya anggota Akrala yang lain sudah menyinggung dan menjelaskan sedikit pada Danish.

"Aku sama sekali tidak mengerti." Danish bergumam pelan setelah game selesai, Ersya yang kebetulan keluar bersama Danish langsung merangkul pundak pemuda itu.

"Gak apa, gak usah di pikirin. Ayo, lo semobil sama gue, biarin aja yang lain satu mobil." Danish hanya mengangguk.

Game yang mereka lakukan tadi menjadi penentu mobil mana yang akan mereka gunakan saat perjalanan menuju pantai, Ersya sengaja mengalah untuk menemani Danish berada di mobil kedua, sedangkan yang lain ada di mobil pertama.

Pantai yang akan mereka kunjungi kali ini akan menjadi tempat terakhir mereka melakukan syuting, setelah makan siang dan syuting selesai.

"Woah." Anggota Akrala yang lain tersenyum saat melihat Danish mengeluarkan ekspresi menggemaskan.

"Kita mau ngapain disini? Surfing?" Irham mengangguk saat Danish bertanya padanya.

"Ya, kalian akan belajar surfing disini. Danish kalau kamu belum bisa untuk melakukan aktifitas berat kamu bisa tunggu sambil bermain pasir." Danish langsung merengut saat mendengar ucapan Irham.

"Saya udah gak apa bang, saya baik-baik saja, lagi pula ada bang Firly disini, apa yang harus saya khawatirkan." Irham akhirnya mengangguk saat Danish mengatakan itu.

"Ingat ya, meskipun akan ada instrukturnya kalian harus tetap hati-hati!" Anggota Akrala serempak mengangguk.

Seperti sebelumnya, kali ini pun mereka akan di bagi menjadi dua tim. Dan semua sepakat memilih Savian dan Danish sebagai penentu tim, Savian memilih Jeffrey, Yuvan dan Ersya, sedangkan Danish memilih Wiya, Mada dan Kenzo.

Awalnya Erhan dan Firly khawatir saat Danish memilih Wiya sebagai anggota pertamanya, namun melihat Danish tetap memasang wajah bahagia membuat keduanya tidak bisa melarang, apa lagi mengingat jika Danish cukup dekat dengan Wiya sebelum kejadian itu.

Danish terlihat sangat menikmati waktu nya, tawa nya selalu terdengar setiap kali anggota lain melakukan sesuatu. Semua terlihat baik-baik saja, namun siapa yamg tau jika Danish tengah menyembunyikan tangannya yang gemetar karena berada di sebelah Wiya.

"Danish okey?" Danish ingin mengangguk saat Irham bertanya, namun nafasnya sudah sangat sesak hingga membuat dia memilih menggeleng.

"M-maaf bang, kayaknya saya gak bisa ikut surfing." Irham tersenyum dan mengangguk.

"Panggilkan Firly!" Perintah Irham langsung dituruti oleh staff nya, sedangkan Danish dirangkul Jeffrey dan di arahkan ke pinggir pantai yang agak teduh.

"Pusing?" Danish hanya mengangguk kecil.

"Gue nahan gemeter di deket bang Yasa bang, maaf." Jeffrey tau ini akan terjadi.

"Gak apa, kita paham. Gak perlu minta maaf." Jeffrey bisa melihat Firly dan Erhan datang bersama ke arah mereka.

"Danish, sesak gak?"

"Sedikit, tapi saya gak apa bang, mau nunggu disini aja." Firly mengangguk dan segera meminta Jeffrey kembali menghampiri yang lain.

"Kalau gak kuat gak usah di paksa, kamu bisa ganti posisi sama yang lain kalau memang gak bisa ada di dekat Wiya, jangan memaksakan dirimu sendiri Dan." Danish hanya mengangguk.

"Saya takut staff nya bang Irham atau Riziend yang nonton nanti sadar kalau saya jaga jarak dari bang Yasa."

Pluk

"Gak perlu khawatir, semua pasti baik-baik saja, jangan khawatirkan hal yang belum terjadi." Danish hanya diam saat Erhan mengusak kepalanya.

"Terima kasih bang, karena tidak menghajar bang Yasa." Firly mendengus kecil mendengar ucapan Danish.

"Aku sudah ingin menghajarnya saat tau, tapi anggota mu itu sudah lebih dulu melakukannya saat tau kamu menghilang."
.
.
.
.
.
"Kenapa Danish harus kembali lebih dulu?!" Seruan tidak setuju membuat Danish menutup telinganya menggunakan tangan.

"Danish memang harus kembali lebih dulu, dia hanya akan ikut syuting hari ini, lagi pula Danish masih harus menjalani pemulihan." Anggota Akrala yang lain serempak menatap ke arah Danish.

"Danish." Danish hanya tersenyum tipis saat mendengar panggilan pelan dari Mada.

"Gue emang harus balik bang, gue cuma dapat ijin buat syuting sehari ini. Kan nanti kita ketemu lagi di jakarta." Mada menggeleng.

"Gak, lo pasti mau ngilang lagi kan?!" Kini Danish yang menggeleng.

"Hilang kemana bang? Rumah keluarga gue juga masih disana, lagi pula gue bakal balik sama bang Firly hari ini." Danish menatap anggota Akrala yang lain lekat.

"Gue masih harus ke rumah sakit buat terapi besok, jadi gue harus balik sekarang bang." Danish sebenarnya bingung kenapa anggota Akrala yang lain tampak takut jika mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

"Kita pasti bakal ketemu lagi kan? Lo gak bakal nolak kita waktu kita ke rumah lo kan?" Danish menggeleng, meskipun sebenarnya dia tengah kebingungan.

"Iya bang, kalian bebas datang kesana kapan pun kalian mau."

Grep

Danish terdiam saat Jeffrey memeluknya, bahkan pemuda itu sudah mengelus pelan punggung yang lebih muda.

"Jangan bandel, nurut apa kata bang Firly, gue kangen nemenin lo di studio." Danish mengangguk kecil saat Jeffrey berbisik ke padanya.

"Aktifin hape nya, jangan lupa bales pesan kita atau angkat telpon kita, paham?" Danish kembali mengangguk saat Savian menasehatinya.

"Iya bang, kalau gitu gue sama bang Firly berangkat dulu, kita ketemu lagi di jakarta."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat pagi
Apa ada yang nungguin Akrala up hari ini?
Aku usahain bisa double up ya hari ini...

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang