.
.
.
.
.
Danish berdiam di studio sendirian, sejak obrolannya dengan Jeffrey pagi tadi, Danish terus saja memikirkan bagaimana respon Vanka saat tau nanti.
Sekarang di punya dukungan penuh keluarga Mahesa, keluarga yang kekayaannya ada diatas keluarga Mahendra. Vanka tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik punggung dan uang kedua orang tuanya.
"Dulu gue selalu berusaha gak benci sama lo Van, karena gimana pun lo adek gue, tapi sekarang kebencian yang coba gue pendam naik begitu aja tanpa bisa di cegah. Seandainya lo gak plagiat cerita gue, gue gak akan perlakuin lo kayak gini, gue bakal ambil semua hak milik gue yang sebelumnya udah lo ambil." Danish memejamkan matanya, sebentar lagi dia akan berjuang mencari keadilan untuk jiwa nya, dia akan mencari keadilan atas segala hal yang dia terima, termasuk percobaan pembunuhan pada raga asli nya.
"Bunda, ayah, maafkan Agra. Agra mungkin akan jadi anak durhaka buat kalian, Agra tau ini salah, tapi Agra juga ingin keadilan. Kalian terlalu memanjakan dan meratukan Vanka selama ini, kalian bahkan lupa jika kalian punya anak laki-laki, kalian juga tidak percaya dan tidak peduli saat mendengar berita jika putra kalian sudah meninggal."
"Sebenarnya buat kalian Agra itu apa? Agra anak kalian, anak kandung kalian, anak yang lahir tujuh menit lebih awal daripada Vanka, tapi kalian seolah hanya memiliki satu anak. Maafkan Agra, jika saat persidangan nanti putri kalian akan di penjara dengan banyak tuntutan."
Danish mengungkapkan keluh kesah nya, membiarkan Jeffrey mendengar isi hatinya. Danish tau Jeffrey akan mendengarkan segala gumamannya, segala rancauan tidak jelasnya.
Grep
"Lo pasti bisa ngelakuin itu, inget sekarang lo punya keluarga Mahesa yang bakal berdiri di belakang lo, ada gue dan anak-anak Akrala yang bakal selalu ada buat dukung lo." Danish tersenyum dan mengangguk.
"Bang Jefy, harus gue buka sekarang ya?" Jeffrey menatap lekat pada wajah manis Danish.
"Bang Erhan bilang kalau laporannya sudah langsung di tangani oleh pihak kepolisian, memang benar ya ternyata uang bisa melakukan segalanya." Jeffrey mengelus kepala Danish lembut.
"Ya, lo bisa lakuin sekarang, ingat kami ada di sini sama lo, lo gak perlu takut buat ngebuka semuanya." Danish tersenyum, perasaannya berubah tenang setelah mendengar ucapan Jeffrey.
"Bang Jefy, makasih ya karena selalu bantuin gue." Jeffrey mengangguk.
"Sama-sama Agra, gue ngelakuin itu karena gue mau dan karena itu lo."
.
.
.
.
.
"Danish udah ngelakuin itu ya?" Pertanyaan Yuvan membuat anggota Akrala yang diam di ruang tengah menatap ke arah pemuda tinggi itu.
"Ngelakuin apa?" Yuvan tidak menjawab, justru menatap ke arah Wiya yang fokus menatap layar ponsel nya.
"Wiya, udah ya?" Wiya yang mendengar namanya di sebut langsung mengangguk dan menunjukan layar ponselnya.
"Ya, dan sesuai dugaan banyak Riziend yang mendukung Danish dan menghujat si pelaku plagiat. Bahkan banyak orang di luar fandom kita yang mendukung Danish." Jawaban Wiya membuat mereka semua paham. Mereka memang tahu jika hari ini Danish akan membuka identitasnya sebagai pemilik akun Samudrakata, setelah laporan atas plagiat karya nya di terima pihak kepolisian.
"Danish akan menang, keluarga Mahesa jauh lebih berkuasa di banding keluarga Mahendra. Mereka gak akan bisa lagi menggunakan uang nya jika lawan nya jauh di atas mereka, terlebih lawan mereka saat ini adalah Danish, leader dari Akrala yang sedang naik daun."
Yuvan menatap anggota Akrala yang lain, mereka kini sibuk melihat ke layar ponsel mereka sendiri-sendiri, memantau banyak nya komentar yang masuk ke akun twitter official Akrala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Hayran KurguAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
