.
.
.
.
.
Savian menatap lekat ke arah Danish yang bergelung nyaman dalam pelukan Jeffrey di atas ranjang, di sebelah ranjang ada Kenzo, Yuvan dan Mada yang duduk di lantai memperhatikan Danish.
Entah apa yang membuat Danish terbangun tadi, namun saat Jeffrey masuk ke dalam kamar setelah menghajar Wiya, Danish sudah kembali bersembunyi di kolong ranjang.
Danish terlihat takut dan resah, sepertinya suara hujan dan petir di luar membuat pemuda itu kembali ketakutan.
"Danish selalu gini kalau tidur bang?" Savian mengangguk dan duduk di atas ranjang nya.
"Ya, selalu, sejak dia bergabung dengan Akrala." Jawaban Savian jelas membuat ketiga nya terkejut, berbeda dengan Jeffrey yang memang sudah tau segalanya.
"Sejak awal bang?" Savian kembali mengangguk.
"Dulu gue gak tau alasannya, setau gue Danish cuma suka tidur di lantai sambil membungkus dirinya pakai selimut. Sampai akhirnya beberapa bulan lalu gue tau alasannya karena Danish cerita waktu itu." Kenzo menatap Danish dengan tatapan bersalah, karena meskipun dia yang paling dekat dengan Danish, namun dia tidak tau apapun soal pemuda mungil itu.
"Udah ayo tidur, biarin Danish istirahat. Sana balik ke kamar." Ketiganya mengangguk saat Savian mengatakan itu.
"Tidur Jeff, kamu juga perlu istirahat." Jeffrey hanya mengangguk.
"Danish takut sama petir bang, tapi bahkan selama ini kita gak pernah peduli." Savian menghela nafas panjang saat Jeffrey mengatakan hal itu.
"Ya, itu kesalahan kita. Kita biarin dia gak tidur kalau lagi hujan petir, kita gak peduli." Jeffrey menatap wajah lelap Danish yang terlihat manis.
Cup
"Tapi sekarang gak lagi, kita akan melakukan hal yang sama ke Danish seperti kita memperlakukan Janesh." Savian tersenyum tipis melihat Jeffrey mengecup pipi Danish.
"Danish suka sama lo Jeff, jangan pernah nyakitin dia." Jeffrey kembali mengangguk.
"Gue tau bang, tapi gue masih punya tugas buat ngeyakinin dia kalau gue beneran sayang dan cinta ke dia sebelum jadiin dia pacar gue. Dia masih belum percaya sepenuh nya sama gue soal itu."
.
.
.
.
.
Danish menatap heran saat melihat wajah Wiya babak belur, seingat nya kemarin wajah Wiya masih baik-baik saja.
"Bang Yuyu, bang Yasa habis berantem sama siapa?" Danish memberanikan berbisik pada Yuvan yang memang sedang duduk di sebelahnya.
"Hah?" Yuvan merengut saat mendengar bisikan Danish.
"Bang Yasa, habis berantem sama siapa? Kok tambah jelek kayak monyet." Yuvan mengulas senyum saat mendengar ucapan Danish.
"Jeffrey." Kini giliran Danish yang mengernyit.
"Bang Jefy?" Danish melihat anggukan dari Yuvan.
"Tapi bang Jefy nemenin gue tidur semalem, bang Yuyu bohong nih." Yuvan memilih mengedikan bahunya dari pada menjawab Danish.
"Bang Yuyu."
"Apa?" Yuvan menatap Danish yang memasang wajah kesal.
"Tanyain aja ke Jeffrey." Danish merengut namun tetap bangkit dan mencari Jeffrey di dapur, karena seingatnya tadi Jeffrey masuk kedalam dapur.
"Bang Jefy." Danish berhenti tepat di ambang dinding pembatas Dapur saat hanya menemukan Wiya yang berada di dapur.
"Jeffrey gak ada di dapur Dan." Danish meremas tangannya sendiri, meruntuki rasa takut yang seketika muncul hanya karena melihat dan mendengar suara Wiya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
