32. Kok jadi Jeffrey?!

5K 460 8
                                        


.
.
.
.
.
Yuvan dan Danish sampai di asrama waktu hari sudah malam, Danish sengaja tidak ingin di ajak kemana-mana lagi oleh Yuvan. Yuvan sendiri juga tidak keberatan, karena dia juga perlu meyakinkan lagi hatinya.

Selama ini Yuvan tidak tau jika dia salah mengartikan perhatian dan perasaannya, bahkan saat ini pun dia masih bimbang.

"Bang Yuyu langsung istirahat ya, dah!" Danish turun terlebih dahulu dari mobil Yuvan dan langsung berlari kedalam rumah.

Yuvan bukannya menyusul turun, malah kembali menyalakan mobilnya dan memilih untuk pergi sejenak, mungkin menenangkan hatinya di studio perusahaan tidak masalah.

Sedangkan di asrama, Danish yang baru saja masuk langsung mencari keberadaan Jeffrey, entah kenapa dia sedang butuh pelukan hangat dari Jeffrey.

Danish tersenyum tipis saat melihat Jeffrey sedang ada di ruang keluarga dengan anggota yang lain.

Grep

Jeffrey terkejut saat tubuh mungil itu memeluk tubuhnya dari belakang, Jeffrey jelas tau siapa yang memeluknya.

"Danish?" Jeffrey segera membalikan badannya dan itu membuat pelukan Danish terlepas sejenak dari tubuhnya.

"Cil, lo kenapa?" Danish hanya menggeleng pelan dan kembali memeluk tubuh Jeffrey, tingkah Danish jelas membuat Savian dan Mada iri, namun mereka tau jika ada yang terjadi pada Danish. Berbeda dengan Wiya yang merengut tidak suka, kan dia juga ingin di peluk Danish seperti itu.

"Jangan di lepas bang, gue mau peluk." Jeffrey hanya mengangguk saat mendengar suara lirih Danish.

"Danish, kenapa hm?" Savian sebagai yang tertua akhirnya beranjak dan mendekati Danish, namun lagi-lagi Savian hanya mendapat gelengan.

"Cil, sini peluk gue aja, jangan sama Jeff." Danish kembali menggeleng, terutama saat Wiya sedikit menarik tangannya agar lepas dari tubuh Jeffrey.

"Gak mau!"

"Sini sama gue aja cil, gue gak kalah dari Jeff kok!" Danish tetap menggeleng, bahkan kali ini entah kenapa air matanya mengalir dengan sendirinya. Isakan pelan keluar dari mulut nya dan itu sukses membuat semua anggota Akrala terkejut, terutama Jeffrey dan Wiya.

"Wiya udah jangan di paksa!" Wiya menatap nanar pada Danish yang terisak di pelukan Jeffrey.

"Cil, maafin gue, jangan nangis. Udah nih gak gue paksa." Wiya mengelus kepala Danish pelan, dia merasa jika Danish menangis karena paksaannya.

"Danish, kenapa? Yuvan ngelakuin sesuatu ke lo?" Danish langsung menggeleng heboh, menyadari jika Yuvan bukan lah alasan Danish menangis, Jeffrey mengambil sebuah keputusan cepat.

"Ya udah, ayo ke studio aja, tenangin diri lo disana dulu." Jeffrey menatap anggota yang lain, dan mendapat anggukan dari Savian, Mada dan Wiya.

"Ya udah sana ajak ke studio."
.
.
.
.
.
Jeffrey membiarkan Danish duduk dipangkuannya, Danish masih menangis dengan menyembunyikan wajah nya di leher Jeffrey.

"Lo kenapa cil? Beneran bukan bang Yuvan kan yang bikin lo nangis gini?" Danish menggeleng.

"Gue tadi liat ayah, bunda sama Vanka bang, ayah bahagia banget waktu nemenin Vanka ke pantai. Tiba-tiba aja gue ngerasa iri bang, kenapa mereka gak pernah gitu ke gue." Jeffrey mengeratkan pelukannya pada Danish yang kembali terisak, suara tangis Danish bahkan membuat hatinya ikut teriris sakit.

"Gue juga pingin kayak Vanka bang, tapi bahkan sampai raga gue meninggal mereka gak pernah ngelakuin itu ke gue." Jeffrey hanya menepuk punggung Danish pelan.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang