.
.
.
.
.
Danish menatap bingung pada Jeffrey yang tiba-tiba meminta nya untuk berganti pakaian, pemuda itu tidak mengatakan apapun kecuali memberikan senyuman.
"Bang Jefy, mau ngajak kemana dulu?" Jeffrey yang tengah mengecek barang nya langsung tersenyum.
"Ke Bandung, kita jalan-jalan, buat ganti janji gue kemarin." Netra hitam Danish langsung berbinar mendengar kata jalan-jalan dan juga bandung.
"Mampir ke cafe awan ya?" Jeffrey mengangguk.
"Iya nanti kita mampir kesana, sana cepet ganti baju." Danish mengangguk dan segera kembali masuk ke asrama.
"Berasa ngajak anak umur lima tahun jalan-jalan." Jeffrey menggelengkan kepalanya heran.
"Lo mau kemana?" Jeffrey langsung menoleh saat mendengar suara Kenzo, sepertinya pemuda itu baru saja bangun.
"Mau ngajak bocil jalan-jalan, biar gak ngambek, soalnya kemarin gagal jalan-jalan nya." Kenzo hanya mengangguk paham, toh dia percaya pada Danish.
"Jangan lo apa-apain loh, awas kalau lo macem-macem." Jeffrey ingin sekali memukul kepala Kenzo saat ini.
"Lo kira gue apaan?! Gue gak bakal ngapa-ngapain Danish, lo gak perlu khawatir." Kenzo tersenyum dan segera masuk kedalam asrama.
"Bang Jefy ayo!" Tepat setelah Kenzo masuk, Danish keluar dengan membawa tas milik nya.
"Udah? Cuma bawa itu aja?" Danish mengangguk.
"Emang mau ngapain bawa barang banyak-banyak? Kan kita gak nginep bang." Jeffrey menghela nafas, biarlah itu jadi urusan nanti.
"Ya udah ayo, nanti kita beli rotikopi dulu buat sarapan lo."
.
.
.
.
.
Danish dan Jeffrey sampai di bandung saat hari sudah siang, karena memang jalanan sedikit macet setelah keluar dari tol.
Jeffrey yang awalnya ingin membawa Danish langsung ke cafe awan harus berganti haluan saat Danish meminta bergantian menyetir, pemuda dua puluh tahun itu justru membawa mobil Jeffrey ke sebuah rumah yang terlihat seperti rumah kost.
"Kita ketempat siapa cil?" Danish tersenyum dan menunjuk ke arah salah satu pintu kamar kost yang terbuka, ada seorang pemuda yang berdiri disana, dan Jeffrey mengenali pemuda itu.
"Ini kostan Saka?" Danish menggeleng.
"Bukan bang, udah ayo turun." Jeffrey hanya menurut dan mengikuti langkah Danish.
"Gue nungguin dari tadi cil!" Danish langsung menatap Saka datar, dia tidak suka dipanggil seperti itu kecuali oleh anggota Akrala.
"Lo gak usah ikutan manggil gue kayak gitu sat! Udah cukup mereka aja yang manggil gue gitu!" Saka tertawa kecil saat Danish menggerutu sambil masuk kedalam kamar.
"Kunci nya sekarang lo yang bawa?" Saka mengangguk, Jeffrey yang ikut masuk hanya memperhatikan sekeliling kamar yang terlihat rapi itu.
"Iya, gue yang bawa sekarang. Kadang gue tidur sini kalau gue males pulang ke rumah." Danish yang sebelumnya sedang memeriksa lemari langsung melempar sebuah kaos pada Saka.
Srat
"Kalau naruh kaos itu yang bener, gak rapi amat!" Saka mengambil kaos yang baru saja dilempar oleh Danish.
"Ya elah, satu doang Dan. Kirain gue sifat ocd lo itu gak ikut kebawa, ternyata kebawa!" Danish merengut dan memilih merebahkan dirinya di atas kasur, tepat di samping Jeffrey yang tengah duduk.
"Ini tempat siapa?" Saka yang mendengar pertanyaan Jeffrey akhirnya menunjuk Danish.
"Kostan Agra dulu nya, karena sayang kalau kosong jadi gue yang nempati, lumayan gak jauh dari cafe." Jeffrey langsung menatap ke arah Danish yang sudah menutupi kepalanya dengan selimut berwarna abu-abu.
Sret
"Heh sialan! Jangan tidur posisi gitu, gue takut njing!" Danish merengut saat Saka memarik selimut dari atas wajahnya.
"Apaan sih?! Gue kangen selimut gue!" Jeffrey hanya memperhatikan Danish yang merengut dan siap mengomel pada Saka.
"Nanti bisa lo bawa pulang itu selimut! Tapi tolong jangan tutupin wajah lo kayak gitu, gue takut." Ucapan lirih Saka membuat Danish merubah posisi nya menjadi duduk. Pemuda itu menatap lekat pada Saka yang mengepalkan tangannya.
"Memang ada apa? Ada yang salah kalau Danish ngelakuin itu?" Saka menatap lekat ke arah Jeffrey dan Danish.
"Gue nemuin Agra dalam posisi kayak gitu pagi itu, memang Agra masih bernafas dan sempat gue bawa ke rumah sakit, tapi akhirnya–" Danish mengernyit, berbeda dengan Jeffrey yang tampak terkejut.
"Lo gak usah bercanda ye bambang! Gue inget banget malem itu gue langsung rebahan habis minum obat, dan sama sekali gak ngambil selimut karena selimut gue masih gue jemur dua-dua nya di luar!" Ucapan Danish justru membuat Saka menatap tidak percaya.
"Tapi gue serius anjir, selimut maroon lo itu nutupin kepala lo! Sama kayak yang lo lakuin tadi, bahkan posisi lipetan selimut itu juga sama!" Danish terdiam, netranya menatap ke arah selimut abu-abu yang ada di tangannya.
"Saka, tapi lo sendiri tau gue gak pernah tidur pake selimut kecuali pas hujan. Gue juga gak pernah nutupi kepala gue pake apapun tiap mau tidur karena gue pasti gak bisa nafas, gue nutupi kepala gue cuma kalau gue lagi rebahan tanpa niat tidur kayak tadi. Lo jangan ngajak gue bercanda, malam itu bahkan gue yakin waktu Aliali pulang dari sini selimut itu masih di jemuran depan." Ucapan pelan Danish membuat Saka merasa aneh, bahkan Jeffrey yang tidak tau apapun juga ikut merasa aneh.
"Kayaknya ada yang aneh." Danish dengan cepat kembali membuka lemari kecil yang ada di sebelah meja belajar nya.
"Laptop sama harddisc nya gue bawa, ada yang perlu gue cek. Nanti kalau ketemu gue kasih tau lo sama Aliali." Saka hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak berani menyentuh barang elektronik milik Agra, bahkan ponsel pemuda itu ada di atas laptop waktu Danish mengambilnya tadi.
"Bang Jefy, ayo jalan-jalan. Gue takut mood gue jadi jelek kalau tetep disini." Jeffrey menghela nafas dan mengangguk.
"Ya udah ayo." Jeffrey menatap Saka yang mengangguk.
"Gue pergi dulu Ka, tunggu kabar dari gue nanti ya."
.
.
.
.
.
Danish hanya diam saat Jeffrey menawarkan banyak tempat padanya, padahal jika di ingat jiwa Agra pasti lebih mengerti daerah bandung.
Tap
"Danish." Danish tersentak saat Jeffrey menepuk pundaknya.
"A-ah iya bang?" Jeffrey menghela nafas panjang, beruntung saat ini mobil mereka sudah terparkir di sisi jalan.
"Kenapa?" Danish yang mendengar pertanyaan itu justru menunduk dan meremas tangannya sendiri.
"Gue kepikiran omongan Saka bang, tapi gue bingung, gue takut kalau apa yang ada di pikiran gue saat ini bener." Jeffrey meraih tangan Danish dan menggenggamnya.
"Danish, kalau pun apa yang ada di pikiran lo itu bener, lo punya kita yang bakal bantuin lo. Lo gak sendiri, Aska sama Alicia gak mungkin biarin lo ngadepin itu sendiri." Danish menatap ke arah tangannya yang ada di genggaman Jeffrey, jujur saja kontak fisik yang dilakukan Jeffrey selalu bisa membuat dia nyaman. Namun kenyamanan itu berbeda dengan yang dia rasakan pada Mada.
"Gue takut kalau nantinya gue gak bakal bisa memaafkan bang." Jeffrey mengelus kepala Danish pelan.
"Memaafkan atau gak itu hak lo, gak ada yang bisa protes akan hal itu. Paham?" Danish hanya memberikan anggukan kecil.
"Kalau gitu, ayo lanjut jalan-jalannya sebelum kita pulang." Danish kembali mengangguk, paling tidak hati nya sedikit tenang saat ini.
"Jangan pernah tinggalin gue ya bang Jefy, gue takut beneran deh."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat sore
Triple up nih...
Penasaran gak?
Mau lanjut?
Mumpung malam minggu nih...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
