.
.
.
.
.
Danish merengut saat netranya menatap Kenzo dan Ersya yang sedang bercanda berdua, belum lagi Mada dan Yuvan yang asik sendiri entah membicarakan apa.
Saat ini Akrala sedang ada jadwal untuk acara tanda tangan, yang mengharuskan mereka untuk tampil dengan formasi lengkap. Mulai dari Sabian sampai Danish, itu lah kenapa Danish sebal. Selain dia tidak bisa menemukan Jeffrey yang entah pergi kemana bersama dua manager mereka, Danish juga tidak bisa menemukan Savian yang sepertinya tadi keluar ruang ganti bersama Wiya.
"Gini amat sih nasib orang single." Danish menggerutu sendiri sebelum memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Akrala ya, aku penasaran kenapa namanya harus Akrala?" Danish memutuskan mencari tau filosofi nama Akrala, namun yang dia dapatkan hanya informasi tentang grup mereka, sama sekali tidak ada tentang alasan grup ini dinamakan Akrala.
Danish mencoba membaca beberapa artikel tentang Akrala, mulai dari bagaimana awal mereka di bentuk hingga cerita masing-masing anggota.
Bagaimana mereka terlihat baik-baik saja dan rukun saat di atas panggung dan di depan kamera, terlihat sangat menyayangi Danish. Mereka mengatakan jika Danish adalah leader yang menggemaskan dan menjadi kesayangan mereka, sangat berkebalikan dengan kenyataan yang terjadi di belakang nya.
Danish tiba-tiba merasa kesal, rasanya dia ingin menangis saat ini juga. Perasaan terabaikan kembali muncul di hatinya, Danish sendiri tidak tau perasaan ini murni milik jiwa asli Danish atau miliknya, semua rasanya semakin abu-abu sekarang.
"Cil." Danish menoleh saat mendengar suara berat Mada.
"Hm?"
"Diem-diem aja, lagi ngapain sih? Nulis bab baru ya?" Danish menggeleng, bahkan tanpa sadar pemuda itu mengerucutkan bibirnya saat mengingat jika sedari tadi dia di abaikan.
"Kenapa kok cemberut gitu?" Danish bukannya menjawab justru mengabaikan pertanyaan Mada, hal itu jelas membuat Mada kebingungan.
"Bang Han, bang Jefy mana?" Erhan terkejut saat Danish langsung menanyakan soal Jeffrey padanya.
"Sebentar lagi balik sama bang Firly, oh itu." Erhan menunjuk Jeffrey yang baru saja kembali ke ruang tunggu mereka bersama Firly di belakang nya.
"Lah si bocil, gue di kacangin!" Mada melongo saat Danish tiba-tiba meninggalkannya dan mendekati Jeffrey.
"Bang Jefy." Jeffrey menaikan sebelah alisnya saat mendengar suara lirih Danish.
"Kenapa?"
Grep
Bukan hanya Jeffrey yang terkejut saat Danish memeluknya tiba-tiba, semua anggota Akrala juga Erhan dan Firly pun terkejut, apa lagi ada beberapa staff disana.
"Hei, ada apa cil?" Jeffrey ingin melepaskan pelukan Danish sebelum dia merasakan jika pundaknya basah, Danish menyembunyikan tangis di pelukannya.
"Hei, kenapa? Kenapa nangis?!" Ucapan Jeffrey jelas membuat mereka yang ada di ruang tunggu itu terkejut, terutama Mada.
"Bang, kalian ngerjain Danish?" Anggota Akrala yang lain menggeleng serempak, mereka bahkan tidak pernah berpikir untuk menjahili Danish.
"Cil, sini cerita ke gue ada apa? Siapa yang udah bikin lo nangis?" Jeffrey akhirnya mengelus punggung Danish saat pemuda mungil itu menggeleng.
"Ya udah kalau gak mau cerita, ayo duduk dulu terus kamu bisa nangis lagi, keluarin semuanya jangan ada yang di tahan." Firly mengelus kepala Danish pelan sambil memberi kode Jeffrey untuk mengajak Danish duduk.
"Kalian benar-benar tidak menjahili Danish?" Erhan menatap lekat satu persatu anggota Akrala, namun sama seperti sebelumnya semua nya menggeleng.
"Gak ada bang." Erhan menghela nafas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
