27. Cafe Awan

5.7K 539 9
                                        


.
.
.
.
.
Akrala mendapat waktu bebas sehari sebelum mereka kembali ke jakarta, Danish yang mendengar itu tentu saja senang, karena dia ingin pergi ke suatu tempat.

Anggota Akrala yang lain juga akan pergi jalan-jalan keliling bandung, meskipun Danish tidak tau mereka akan kemana.

"Danish yakin gak mau ikut kita aja?" Danish memberi gelengan saat Ersya bertanya.

"Gue mau ke suatu tempat bang, penting soalnya." Ersya mengernyit namun tidak bertanya lebih lanjut.

"Ya udah , nanti hati-hati, jangan lupa ngabarin kita." Danish mengangguk paham.

"Ya udah sana lo pergi bang, gue masih mau rebahan." Ersya hanya menggeleng saat melihat Danish kembali bergelung dengan selimutnya.

Ersya di sambut tatapan bertanya oleh anggota yang lain saat keluar dari kamar Danish, tapi melihat gelengan Ersya membuat mereka menghela nafas panjang.

"Ya udah bang, kalian berangkat aja, nanti biar gue yang ngawasin itu bocil." Wiya merenggut saat mendengar ucapan Jeffrey.

"Loh kok jadi lo yang ngawasin, gue kan juga mau!" Kenzo menggeleng dan segera menarik Wiya menjauh.

"Gue lebih percaya sama Jeff buat ngawasin Danish, dari pada lo ya Wiya. Yang ada nanti Danish ngambek soalnya lo cium-cium dia." Wiya semakin merenggut dan berjalan mendekati Savian.

"Ngeselin!" Kenzo menggelengkan kepalanya.

"Kalau gitu titip Danish, Jeff, kalau dia aneh-aneh langsung tarik balik ke hotel." Jeffrey mengangguk saat Savian dan Kenzo mengatakan hal serupa.

"Iya bang, gak usah khawatir."

Jeffrey memperhatikan mereka hingga menghilang di balik lorong sebelum akhirnya memutuskan masuk kedalam kamar Danish.

"Cil, sana mandi terus siap-siap, ikut gue cari makan!" Danish yang sebelumnya memejamkan matanya langsung melotot saat mendengar suara Jeffrey.

"Kok lo gak ikut mereka sih bang?!" Jeffrey mengedikan bahunya.

"Gue disini buat mastiin lo gak ngelakuin hal aneh, jadi gak usah protes. Sana cepet mandi!" Danish menggerutu, namun dia juga menuruti permintaan Jeffrey.

"Gue mau ke suatu tempat nanti bang, lo jangan ikut!" Jeffrey kembali mengedikan bahunya.

"Gue bakal tetep ikut, lagian kalau lo gak mau ngelakuin hal aneh, lo gak perlu khawatir kan?" Danish menghentakkan kakinya kesal saat mendengar ucapan Jeffrey.

"Bang Jefy ngeselin kayak beruang!!"
.
.
.
.
.
"Bang Jefy, gue bisa pergi sendiri, lo gak usah ikut ya." Jeffrey hanya menatap datar pada Danish yang sedang memohon agar dia tidak ikut.

"Gue ikut atau lo gak usah pergi!" Danish menggigit bibir bawah nya, Jeffrey jelas melihat jika Danish tengah panik saat ini.

"Bang Jefy, gue janji gak bakal aneh-aneh beneran deh." Jeffrey tetap menggeleng.

"Ya udah kalau gitu gak usah keluar!" Danish menghela nafas kasar sebelum akhirnya menatap pada Jeffrey.

"Ya udah iya, lo boleh ikut bang. Tapi lo harus janji dulu sama gue, apa pun yang lo dengar dan lo tau disana jangan pernah ceritain ke siapa pun, nanti gue juga bakal jelasin ke lo." Jeffrey menaikan sebelah alisnya.

"Apa yang mau lo lakuin?" Jeffrey sedikit takut, bukan takut Danish akan membuat ulah, tapi dia khawatir saat melihat ekspresi panik dan takut pemuda itu.

"Janji dulu bang, setelah itu abang boleh ikut dan gue bakal jelasin semuanya setelah itu." Jeffrey mengangguk.

"Iya gue janji." Danish menghela nafas lega, meskipun dia tidak sepenuhnya lega tapi paling tidak dia bisa sedikit berharap jika Jeffrey tidak akan membongkar semuanya.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang