.
.
.
.
.
Wiya menghela nafas panjang, dia di hukum oleh Savian juga oleh Erhan yang akhirnya terpaksa di beritahu saat Danish tidak kunjung pulang.
Semua anggota Akrala tau jika ucapan Jeffrey tentang Danish malam itu bohong, Jeffrey sengaja mengatakan hal itu agar Wiya tidak lagi datang ke rumah keluarga Mahesa dan mencari Danish.
Mereka juga sudah mengetahui keadaan Danish dari Jeffrey, tapi pemuda itu masih melarang mereka menemui Danish.
"Bang Sav minta lo makan." Wiya menoleh saat mendengar suara ketus Jeffrey.
"Lo masih marah sama gue Jeff?" Jeffrey menatap datar pada Wiya yang tengah menatapnya sendu.
"Ya menurut lo?" Wiya menunduk.
"Lo bisa ngehajar gue kayak yang lain kalau lo marah Jeff, jangan diem gini tapi." Jeffrey mendengus kecil.
"Kalau aja bukan Danish yang minta, gue pasti udah ngehajar lo sejak malam itu bang." Wiya langsung menatap kearah Jeffrey.
"L-Lo udah ketemu Danish?" Jeffrey menggeleng.
"Belum, tapi dia ngirim pesan ke gue, dia bilang buat gak ngehajar lo dan minta gue bilang itu ke yang lain juga. Tapi sayang nya gue telat, lo udah di hajar duluan waktu gue pulang." Wiya menggigit bibir bawahnya.
"Maaf...maaf..." Jeffrey menghela nafas dia kasihan, tapi juga masih kesal pada Wiya.
"Minta maaf ke Danish nanti, itu pun kalau dia mau maafin lo. Sana cepet makan, sebelum bang Sav ikut diemin lo juga kayak yang lain." Wiya mengangguk. Dia tidak ingin membuat yang lain semakin marah padanya, cukup perbuatannya pada Danish saja yang membuatnya didiamkan oleh yang lain.
Jeffrey segera berlalu keluar dari kamar Wiya dan Ersya, yang penting tugas nya memanggil Wiya sudah selesai, entah pemuda itu mau keluar atau tidak.
"Mana yang harus gue bawa bang?" Savian menyerahkan sebuah tas pada Jeffrey dan sudah dipastikan jika itu berisi makanan yang untuk leader kesayangan mereka.
"Bilang ke Danish kalau kita semua kangen." Jeffrey hanya mengangguk.
"Kalau gitu gue berangkat dulu bang."
.
.
.
.
.
"Danish, buka pintu nya ini gue."
Tok
Tok
Tok
"Cil, buka dong." Jeffrey kembali mengetuk pintu kamar Danish pelan.
Cklek
"Udah makan?" Danish menggeleng, pemuda itu membuka pintu kamar nya sedikit lebar agar Jeffrey bisa masuk.
"Kenapa gak makan? Itu bi Minah udah masakin lo sarapan padahal." Danish kembali menggeleng, pemuda itu sama sekali belum mengeluarkan suara sejak menangis dan mengadu pada Danish kemarin.
"Sini, gue bawa makanan dari bang Sav, mereka kangen sama lo." Danish sempat terdiam dengan tubuh gemetar, Jeffrey jelas panik mengetahui hal itu.
Grep
"Sssttt iya maaf, maaf...udah gak usah diinget lagi." Jeffrey segera menenangkan Danish sebelum pemuda itu kembali histeris.
Danish hanya diam saat Jeffrey memeluknya, hal itu membuat Jeffrey merasa bersalah. Seharusnya dia tidak pernah menyebut anak-anak Akrala.
"Tenang ya, gue ada disini sama lo sekarang, gue gak bakal biarin ada yang nyakitin lo, jadi lo gak perlu takut." Jeffrey menuntun Danish ke arah ranjang.
"Takut....jahat...." Jeffrey mengepalkan tangannya saat Danish bergumam, emosinya pada Wiya seketika kembali naik saat ini.
Jeffrey benar-benar ingin menghajar Wiya saat ini, tapi Danish melarang nya. Jeffrey juga menyalahkan dirinya sendiri, kenapa malam itu dia harus punya jadwal syuting, kenapa dia tidak menemani Danish di studio saja hingga kejadian itu tidak akan pernah terjadi.
"Danish, makan dulu ya?" Danish menggeleng.
"Ini ada rotikopi dari bang Yu–" Jeffrey menghentikan ucapannya, dia takut jika Danish memberi respon sama seperti saat dirinya menyebut nama Savian tadi.
"Danish sorry." Danish menatap Jeffrey dan rotikopi yang ada di tangan pemuda itu bergantian.
"Bang Yuyu?" Jeffrey terkejut saat menyebut nama Yuvan dengan suara lirih nya.
"Iya dari bang Yuvan, mau?" Danish mengangguk kecil, hal itu membuat Jeffrey tersenyum.
"Habisin ya, habis itu istirahat biar cepet sehat. Gak kangen sama bang Yuvan emang nya?" Danish hanya diam dan fokus memakan roti nya.
"Tenangin dulu hati lo cil, setelah itu gue bakal dukung apapun yang lo mau lakuin."
.
.
.
.
.
Savian menatap Wiya yang tengah meringkuk di atas ranjang nya, bukan hal baru saat mengetahui jika Wiya tidur dengan salah satu anggota saat mabuk, tapi pengecualian untuk Danish.
Pemuda dua puluh tahun itu terlalu polos untuk menjadi korban Wiya, namun bagaimana lagi semua sudah terjadi, bahkan sampai saat ini Danish belum mau bertemu mereka.
Danish pasti sangat ketakutan saat itu, apa lagi tidak ada yang menolong nya dari Wiya. Danish pasti trauma saat melihat Wiya, Savian hanya takut jika nantinya Danish akan mengambil keputusan yang akan membuat mereka kehilangan sosok leader mungil itu.
"Wiya masih gitu aja ya bang?" Savian mengangguk saat Ersya mendekatinya dan bertanya.
"Dia ngerasa bersalah, tapi rasa bersalah nya itu gak bisa dia ungkapin." Ersya mengangguk.
"Setelah ini kita bakal syuting buat episode baru acara kita bang, tapi dengan keadaan kita yang perang dingin kayak gini, apa lagi Danish juga belum pulang." Savian menghela nafas.
"Sudah percaya aja kalau ini semua bisa kita lewati." Ersya mengangguk paham.
"Bang Sav, gue sama Mada ijin keluar ya. Si Jeff minta jemput." Savian langsung mengangguk saat Yuvan mengatakan hal itu.
"Iya, hati-hati, jangan balik terlalu malam. Kalau kalian bisa ketemu Danish, tolong kirimin gue fotonya." Yuvan mengangguk, begitu juga Mada.
"Iya bang, kalau gitu kita pergi dulu." Savian kembali menatap ke arah Wiya yang masih berada di posisi yang sama.
"Kesalahan lo kali ini cukup fatal Wi, agak susah minta maaf ke Danish nantinya."
Savian memutuskan masuk kedalam kamarnya sendiri, membiarkan Ersya menemani Wiya dalam diam.
Savian memejamkan matanya, dia ingin bertemu Danish dan kembali melihat senyum manis terlukis di wajah pemuda itu.
"Maafin gue Dan, maaf karena gue gak ada malam itu. Maaf karena gue gak bisa jagain lo, maafin gue." Savian menutup kedua matanya dengan lengan, rasanya sangat kosong saat tidak ada kehadiran Danish juga segala tingkah random pemuda itu.
Sedangkan di kamar Wiya, Ersya harus kembali mendengar isakan lirih Wiya dalam tidur nya, juga gumaman maaf yang terus Wiya ucapkan.
"Maaf...Danish...maaf..."
"Maaf...maaf..."
"Maaf..."
Grep
Ersya tidak tega melihat sahabatnya sejak sma seperti itu, meskipun dia tidak membenarkan apa yang memang seharusnya salah.
"Gue disini Wi, nanti kalau Danish pulang lo bisa minta maaf ke dia, jangan kayak gini." Ersya memeluk tubuh Wiya dan mengelus pundak sahabatnya tersebut.
"Kalau lo terus gini, gimana caranya lo cari Danish dan minta maaf ke dia. Perjuangan lo masih panjang buat minta maaf ke Danish, lo harus cepet sehat."
"Lo salah, dan gue gak akan ngebantah itu, tapi lo masih punya kesempatan minta maaf ke Danish, meskipun kemungkinannya kecil buat dimaafin, karena gimana pun lo ngambil hal yang paling Danish jaga selama ini, secara paksa."
"Lo juga harus minta maaf ke anak-anak, ayo cepet sehat Wiya."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Yuhuuu...
Triple ya...
Lanjut gak nih?
Atau udahan aja?
Yang mau lanjut silakan tinggalin jejak disini dong...
Aku masih punya beberapa draft lagi nih soalnya...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
