08. Begadang

8.6K 734 6
                                        


.
.
.
.
.
Savian lagi-lagi menatap aneh pada Danish yang tengkurap di sofa ruang keluarga, pemuda itu tampak seperti tertidur karena matanya terpejam.

Savian heran, jika anak itu pulang kenapa dia harus tidur di sofa? Kenapa tidak masuk kedalam kamar dan tidur di kasurnya sendiri.

"Danish, bangun. Pindah ke kamar sana." Savian sudah siap untuk menepuk pundak Danish saat mata pemuda itu terbuka. Savian jadi semakin merasa aneh, karena biasanya Danish sangat sulit di bangunkan.

"Hm?" Savian menatap lekat pada Danish yang sudah merubah posisinya menjadi duduk.

"Pindah kamar sana, lagian kenapa harus tidur disini sih?" Danish menguap sebelum akhirnya menatap Savian.

"Aduh bang, kalau gue masuk kamar tadi, lo pasti kebangun." Savian mengernyit.

"Tadi? Lo balik jam berapa dari studio?" Danish melirik jam dinding yang ada di ruang keluarga.

"Jam lima." Savian menggeleng dan memilih berlalu ke dapur.

"Dih, gitu doang nanya nya?" Danish berdecak sebelum memilih masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk mandi.

"Sialan, badan nih anak kecil banget." Danish menggerutu saat melihat jika lengan nya terlalu kecil untuk ukuran laki-laki.

"Gue harus mulai olah raga biar badan nih anak agak bagusan dikit."

Tok

Tok

Tok

Belum juga Danish masuk ke kamar mandi, tapi pintu kamarnya sudah di ketuk.

Cklek

"Kenapa?" Danish menatap bingung pada Mada yang berdiri di depan kamarnya.

"Lo hafalin bagian lo di lagu ini, minggu depan kita ada jadwal yang mengharuskan tampil delapan orang." Danish menerima kertas yang di berikan oleh Mada, bahkan sebelum Danish mencerna apa maksud ucapan Mada, sosok Mada sudah pergi dari depan kamarnya.

"Lagu?" Danish menatap kertas di tangannya.

"Tiga lagu ya? Kayaknya gue harus begadang buat ngapalin ini."
.
.
.
.
.
Jeffrey merebahkan tubuhnya di lantai ruang latihan, mereka semua baru saja mendapat istirahat setelah menghabiskan tiga jam untuk latihan.

"Jeff, lo mau makan apa?" Jeffrey dengan cepat menoleh pada Ersya yang berdiri tidak jauh dari nya.

"Gue pingin mie ayam deh bang." Ersya mengangguk saat mendengar jawaban Jeffrey.

"Ya udah gue pesenin mie ayam dulu, yang lain mau juga gak?" Ersya menatap kelima anggota Akrala yang lain, dan tentu saja di balas anggukan oleh mereka.

"Boleh, gue tambah kepala ayam ya Ya." Ersya kembali mengangguk saat Kenzo menambahkan pesanan nya.

"Bang, minggu depan kita harus tampil delapan orang kan? Apa itu bocah bisa?" Ucapan Jeffrey membuat kegiatan mereka berhenti sejenak.

"Memang kenapa Jeff?" Jeff mengedikan bahunya acuh.

"Ya kan dia lupa nih, dia harus ngapalin lagi part dan koreo dari tiga lagu yang bakal kita tampilin." Semua yang ada disana mengangguk paham.

"Dia bisa, semalem dia ikut kita latihan." Ucapan Wiya membuat Kenzo dan yang lain terkejut.

"Dia ikut latihan dance?" Wiya dan Yuvan mengangguk.

"Tapi dia pamit tidur waktu ngusir gue dari studio nya." Kenzo merengut mengingat alasan Danish mengusirnya semalam.

"Ya mana gue tau, tapi gue liat-liat lo makin nempel aja sama itu bocah." Kenzo ikut mengedikan bahunya.

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang