.
.
.
.
.
Danish tidak pernah menjelajahi rumah nya sendiri sejak dulu, karena hidupnya hanya berkisar antara sekolah dan kamar. Danish tidak pernah keluar kamar saat berada di rumah, karena takut akan berpapasan dengan sang ayah.
Danish sendiri tidak tau apa yang membuat sikap kedua orang tua nya juga Balthasar berubah, tidak ada lagi tatapan tajam, tidak ada lagi ucapan kasar atau bentakan yang Danish dengar. Semuanya terasa sangat membingungkan untuk Danish saat ini, terutama mimpi nya sebelum ini.
Danish menatap ke sebuah pintu kamar berwarna coklat di lantai dua, kamar ini adalah kamar Janesh sebelumnya. Danish sendiri tidak tau kenapa dia bisa berakhir di depan kamar milik kakak kembarnya itu, padahal ini adalah kali pertamanya naik ke lantai dua.
"Kamu mau masuk?" Danish berjengkit saat mendengar teguran Balthasar, bahkan secara tidak sadar Danish sudah menggeser tubuhnya menjauh dari pintu kamar Janesh.
Cklek
Balthasar membuka pintu kamar Janesh dengan lebar, dengan senyum sendu nya saat melihat reaksi Danish terhadap suaranya.
"Masuk aja, gak bakal di marahin mama sama papa kok." Balthasar sedikit menjauh setelah mengatakan itu.
"Kalau kamu gak nyaman sama kakak, kakak bakal tinggalin kamu. Kakak ada di kamar kalau kamu butuh sesuatu." Balthasar mencoba tersenyum manis pada Danish yang hanya menatap datar padanya.
Danish kembali mendekati kamar Janesh saat Balthasar sudah benar-benar masuk ke kamar nya.
Kedua netra hitam Danish menatap sekeliling kamar Janesh, sangat berbeda dengan kamar miliknya.
"Ternyata dari kamar aja bisa kelihatan timpangnya perhatian mereka."
.
.
.
.
.
Danish menyentuh beberapa barang di kamar itu, termasuk dua gitar yang ada disana. Bohong jika jiwa Agra tidak senang melihat gitar di kamar itu, tapi dia tidak mungkin memekik senang, karena itu akan membuat keluarga nya curiga.
Danish memutuskan duduk di meja belajar Janesh, lebih dari lima tahun kamar ini di tinggalkan pemiliknya. Janesh memilih tinggal di asrama agar bisa leluasa menciptakan musik yang dia suka, meskipun begitu, kamar ini tidak benar-benar di tinggal.
Di beberapa kesempatan Danish melihat Janesh pulang dan tidur di kamarnya, bahkan Janesh sering menyelinap masuk ke kamar nya saat menginap di rumah.
Pluk
Netra Danish langsung sebuah buku bersampul coklat yang baru saja jatuh dari meja karena tersenggol kaki nya, kemungkinan buku itu di selipkan di bawah meja oleh Janesh.
"Bukunya Janesh ya?" Danish mengambil buku itu dan akan meletakkan nya ke tempat semula saat ekor matanya menyadari kehadiran Prabu di pintu kamar.
Brak
"Maaf...maaf...Danish akan pergi." Danish buru-buru meletakan kembali buku itu di meja dan akan beranjak pergi saat Prabu mendekatinya.
Sret
"Kenapa buru-buru?" Danish menunduk saat tangannya di tahan oleh Prabu.
"M-ma-af pa, maaf Danish lancang masuk ke kamar kak Janesh, maaf. J-ja-jangan pukul." Prabu terdiam dan tersenyum sendu.
"Gak, papa gak akan mukul kamu. Ini, kamu mau baca kan?" Danish terdiam saat Prabu menyerahkan buku itu pada Danish.
"I-itu punya kak Janesh, maafin Danish." Prabu melepaskan tangan Danish dan beralih menangkup pipi tirus putra bungsunya itu.
"Iya ini memang punya Janesh, tapi kalau kamu mau baca kamu bisa bawa ke kamar. Kata dokter kamu masih harus istirahat kan?" Danish hanya mengangguk, terlalu takut untuk melawan sang papa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Akrala (Sudah Terbit)
FanfictionAgra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya pergi tidur setelah meminum obat tidur miliknya. Memutuskan melupakan sejenak masalah plagiat yang dilakukan oleh adik kembarnya sendiri. Tapi saat membuka mata, bukan kamar kost nya yang di liha...
