65. Hiatus

3.5K 327 19
                                        


.
.
.
.
.
Banyak hal yang Agra pikirkan sejak kemarin, kehadiran Jeffrey yang tidak pernah dia duga hari itu membuat jiwa Agra sedikit takut.

Dia takut jika Jeffrey akan meninggalkannya karena dia sudah kotor, dia terlalu takut membuat kehidupan Danish berantakan karena dia tidak bisa melawan Wiya saat itu.

Agra pernah berjanji akan membalaskan semua perlakuan yang Danish dapat dulu, tapi jika seperti ini bagaimana dia harus bertanggung jawab pada jiwa Danish nantinya.

Di balik sikap cuek dan diam nya, sebenarnya Agra adalah orang yang cukup penakut, apa lagi jika hal itu berasal dari pikirannya sendiri.

Tapi sikap dan janji Jeffrey membuat Agra mempunyai sedikit keberanian untuk menatap wajah anggota Akrala yang datang secara bergantian ke rumah nya. Agra sendiri tidak tau kenapa kaki nya membawa nya kembali ke sana, ke rumah yang menurut Danish adalah neraka.

"Mas Danish, ayo makan dulu ya." Danish menatap ke arah bi Minah yang baru saja mengantarkan makan siang ke kamar nya.

"Bi Minah taruh sini ya mas, jangan lupa dimakan, nanti mas Danish sakit lagi kayak kemarin." Danish hanya mengangguk.

Jiwa Agra kembali terpengkur, ada banyak orang yang menyayangi nya disini, meskipun itu sebagai Danish. Tidak masalah, dengan begitu dia bisa membalas kebaikan Danish dengan membuat Danish dihujani banyak cinta dan kasih sayang.

"Danish maaf, maaf kalau aku sehancur ini hanya karena bang Yasa. Tapi aku gak bisa ngelupain rasa sakit nya, maafin gue." Agra perlahan meraih nampan berisi makan siang nya. Ada nasi, sup ayam brokoli dan telur goreng, semua itu menu kesukaan Danish.

"Setelah ini gue janji gue bakal lebih kuat buat wujudin semua keinginan lo, meskipun gue harus pakai cara licik sekalipun."
.
.
.
.
.
Danish memutuskan untuk menghindar sementara dari anggota Akrala, dengan bantuan Jeffrey tentu saja itu bukan hal sulit.

Bahkan keputusan Danish berhasil membuat anggota Akrala terkejut saat mendengarnya dari Erhan, terutama Wiya yang memang sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Karena memang tidak ada konfirmasi apapun dari Danish, entah itu berupa pesan atau pun telpon.

Hiatus.

Keputusan itu diambil Danish sesuai dengan saran Firly, tentu saja sebagai seorang dokter Firly tau jika mental Danish juga perlu istirahat. Menjauh dari segala hiruk pikuk dunia hiburan jiga jadwal yang sangat padat, apa lagi hal itu akan membuat Danish bertemu dengan pusat ketakutannya.

"Kenapa tiba-tiba hiatus?" Erhan menatap ke arah anak-anak Akrala dan menghela nafas.

"Keputusan ini diambil Danish setelah konsultasi dengan psikiater, apa yang dia alami kemarin pasti sudah sangat membuatnya trauma." Wiya hanya bisa menunduk saat mendengar hal itu dari Erhan.

"Maaf bang." Erhan menatap Wiya saat mendengar gumaman lirih pemuda itu.

"Semua sudah terlanjur Wiya, mungkin akan sulit membuat Danish seperti dulu. Tapi kita patut bersyukur karena Danish tidak membatalkan kontrak nya dan memutuskan keluar dari Akrala, dia masih ada bersama kalian." Erhan juga bersyukur karena Danish hanya memilih hiatus, bukan hengkang.

"Danish, gimana sekarang bang?" Erhan menatap lekat pada Wiya, sedikit kasihan karena semua anggota Akrala sepakat menutupi keberadaan Danish yang masih ada di rumah keluarganya dari Wiya.

"Untuk fisiknya saat ini dia sehat, meskipun sempat kembali drop beberapa hari lalu. Tapi untuk mental dan traumanya, Danish masih sering menangis dan histeris karena ketakutan." Wiya mengepalkan tangannya, pemuda itu bahkan menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah. Rasa bersalah yang selalu membayanginya sejak hari itu semakin kuat.

"Maaf bang, maafin gue." Erhan menggeleng.

"Kami semua yang ada disini mungkin bisa memaafkan kamu Wiya, tapi belum tentu Danish akan memaafkan kamu. Jadi saya minta saat Danish siap untuk kembali ke sini, ucapkan maaf padanya, meskipun tidak akan membuat Danish seperti semula, tapi itu akan membuat Danish tau jika kamu menyesal melakukannya." Wiya mengangguk paham.

"Saya tidak bisa melarang kalian minum karena kalian sudah dewasa, tapi tolong usahakan jangan sampai mabuk atau sendirian. Dan saat Danish kembali ke mari nanti, jangan pernah minum di asrama, jangan sampai kalian membangkitkan traumanya."
.
.
.
.
.
Danish menatap taman belakang rumah nya dengan tatapan kosong, dia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Balthasar yang katanya akan datang.

Danish harus berterima kasih pada bi Minah karena sudah memberitahunya tentang kedatangan Balthasar, mengingat pertemuan terakhirnya dengan kakak kandung dari pemilik tubuh ini cukup buruk, membuat jiwa Agra sedikit was-was.

"Apa yang harus gue lakuin buat bikin mereka natap ke arah lo Danish?" Danish bergumam bingung, karena jujur saja dia tidak tau apa yang membuat Danish di benci keluarganya.

"Kata orang, gak ada orang tua yang mau anaknya celaka dan terluka, apa gue harus nyelakain diri gue biar mereka natap ke arah gue? Tapi nanti bang Jefy marah." Danish menghembuskan nafas panjang dan kembali pada lamunannya.

Danish berdiam didepan jendela kamarnya untuk waktu lama, bahkan dia tidak menyadari jika Balthasar sudah berdiri di belakang nya sejak sepuluh menit lalu.

"Danish." Danish bergeming, dia diam tanpa menyahuti Balthasar karena masih tenggelam dalam lamunannya.

"Danish, denger gue." Balthasar memutuskan berjongkok di hadapan Danish yang tengah melamun dengan tatapan mata kosong.

""Danish."

Sret

Balthasar terkejut saat Danish tiba-tiba  menepis tangannya dan memasang wajah pucat ketakutan, bahkan nafas pemuda mungil itu langsung memburu.

"Pergi...pergi..." Balthasar terpaku saat mendengar gumaman lirih Danish.

"Danish, ini gue Altha!" Balthasar mencoba menahan pundak Danish yang terus memberontak.

"Tolong jangan....jangan....lepas..."

Grep

"Danish ini gue Altha, gue kakak lo. Jangan gini tolong, hati gue sakit liat lo kayak gini." Danish spontan terdiam saat merasakan hangat nya pelukan Balthasar padanya.

"Bohong." Balthasar terpaku.

"Danish, kenapa?" Balthasar menangkup pipi tirus Danish, kenapa rasanya dia sangat sakit saat mengetahui jika pipi adik kecilnya sangat tirus.

"Bohong, kamu bukan kak Altha." Balthasar mematung di hadapan Danish.

"Ini gue Danish, kak Altha, kakak lo sama Janesh." Danish menggeleng pelan, tatapannya masih setia kosong seperti tanpa kehidupan.

"Bohong! Kak Altha gak pernah mau bicara sama aku, kak Altha gak akan pernah mau meluk aku, kamu bukan kak Altha!" Balthasar ingin menangis mendengar ucapan pelan Danish, luka yang dia berikan pada sang adik sudah sedalam apa hingga sang adik bahkan tidak percaya jika yang ada di hadapannya adalah sang kakak.

"Danish ini kak Altha, kakak nya Danish." Danish tetap menggelengkan kepalanya.

"Kak Altha cuma punya kak Janesh, adik nya kak Altha cuma satu, aku bukan adiknya. Kak Altha yang bilang, kalau kak Altha cuma punya satu adik, dan gak sudi punya adik kayak aku."

Grep

Balthasar kembali memeluk tubuh Danish, pemuda itu bahkan menangis di pundak ringkih Danish. Adiknya bahkan tidak mempercayai perbuatannya sekarang, adiknya yang terlalu lama di asingkan oleh keluarga nya bahkan seperti tidak memiliki kehidupan.

"Maafin kakak dek, maafin kak Altha. Kakak jahat sama kamu selama ini kan? Ayo balas kakak, kamu boleh pukul kakak, kamu boleh maki-maki kakak, asal kamu percaya kalau ini kak Altha, kakak kamu."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat malam
Terakhir ya?
Hari ini aku udah up lima chapter
Gimana perasaan kalian setelah baca lima chapter ini?

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

–Moon–

Akrala (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang