ARC 4 (DT 32)

994 314 52
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

"Dimana Alvin?" Licius menatap sekitar heran. Tak mendapati batang hidung bocah itu dari setadi. Padahal waktu sudah menunjukkan malam hari.

"Dia masih tertidur" Renord menatap Licius singkat.

"Biar aku saja yang membangunkannya" Enord bangkit dari duduknya dan berjalan kelantai atas, tepat kearah kamar bocah itu. Mengetuk pelan dan membukanya "Alvin?" Namun kamar itu kosong, Segera pemuda itu memeriksa kamar mandi "Alvin sudah waktunya makan malam" tak ada jawaban. Enord membuka kamar mandi pelan namun hanya kekosongan yang sunyi yang didapati.

Panik menerpa, anak itu takkan pergi jauh dari sini. Hanya ada satu ruangan yang belum ia periksa. Segera Enord membuka pintu balkon dengan suara 'BAM!' yang kencang. Barulah ia melihatnya. Alvin tampak membelakanginya dengan masih mengenakan piyama tidur dan memeluk boneka beruang pemberian Licius. Tangan si kecil mengadah kearah hujan, membiarkan telapak tangannya dibasahi oleh tetesan hujan yang kian deras.

"Alvin apa yang kau lakukan disana. Kau akan sakit jika berlama - lama diluar" Enord menatapnya khawatir. Tapi bocah itu mengabaikannya.

"Alvin?" Tangannya menepuk pundak itu pelan, si kecil tampak tersentak dan berbalik menatapnya seolah terkejut "kakak?" Apakah kehadirannya begitu mengejutkannya?

Hening untuk sesaat. Lalu anak itu membuat mulutnya pelan dan berkata "-----kakak.....hujan" Tunjuknya.

"..........tidak dengar" Tambahnya setengah berbisik. Enord melihat penampilannya yang frustasi, dan berjongkok menyamakan tingginya dengan si kecil yang masih menundukkan kepalanya.

"Ada apa?"

Anak itu mendongak, barulah ia melihat mata sembab anak itu dengan  sudut mata yang memerah. Tampilannya begitu sedih. Alvin membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi kembali menutupnya seolah enggan. Anak itu seperti bimbang, ekspresinya bingung.

Enord memegang tangannya, "Ada apa? Apakah ada yang sakit?" Ujarnya. Nadanya berusaha selembut mungkin. Seolah meyakinkan bocah itu untuk jujur padanya.

Alvin menatapnya, matanya berkaca - kaca, dengan isakan kecil yang begitu menyakitkan lalu tangannya menyentuh telinganya. Dan kembali menunjuk telinga boneka yang ada dipelukannya. "Sama. Tidak dengar.....telinga Alvin sama" seolah mengatakan telinganya dan telinga boneka itu sama. Sama - sama tidak bisa mendengar.

Enord merasa ada sesuatu berat yang menimpanya. Ia mengerti maksudnya. Tangannya yang menggenggam tangan bocah itu meluncur kebawah. Isakan kecil menggema memenuhi ruangan yang kini disertai oleh tetesan hujan sebagai latar belakang.

Alvin tak mengerti mengapa situasi menjadi seperti ini, awalnya ia terbangun dengan normal. Namun yang berbeda semuanya tampak sunyi baginya. Ketika ia melihat jendela yang sudah dibasahi oleh air hujan. Muncul pertanyaan dikepalanya. Ia tak mendengar air hujan yang jatuh. Walau matanya menangkap kilatan gundur dan petir yang bersahutan tapi semuanya tampak

Sunyi.........

Seakan - akan hanya ia yang tinggal didunia yang berbeda.

Barulah Ia menyadari kini indra pendengarannya lah yang telah diambil. Kehidupannya setelah sakit hanya memiliki 2 kegiatan tetap. Tidur dan makan. Namun, mulai detik ini hidupnya berubah menjadi serangkaian hari yang sunyi. Seperti embun yang dipaksa bangkit dari mimpi indah. Tak memberinya pilihan selain untuk bangkit lagi. Bahkan isakan nya sendiri pun tak bisa ia dengar. Semuanya begitu menakutkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang