4

168 6 0
                                        

Bab 4

Ibu Ivy hanya diam, menatap suaminya seakan menuntut penjelasan. Pandangan Linda begitu tegas, namun ada campuran kekhawatiran di matanya. Tatapan itu membuat Rouni semakin gugup, ia tergagap dan kesulitan menyusun kata-kata. Setelah beberapa detik yang terasa lama, ia akhirnya berkata, "Kenapa sih dia masih sekolah?"

Rouni menoleh ke arah Ivy, namun wajahnya berubah pucat saat menyadari gadis itu tidak lagi berada di dekatnya. Ivy sudah menghilang tanpa jejak, meninggalkan Rouni bingung dan canggung. Ia menatap ibu Ivy sekali lagi, raut wajahnya kikuk dan tak nyaman, seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan.

"Dia sudah pergi. Aa... mau kubuatkan sarapan, Linda, sayang?" tanya Rouni, suaranya terdengar canggung dan tergesa-gesa. Nama ibu Ivy, Linda Hansen, terdengar hangat di mulutnya, namun nada bicara itu tidak sepenuhnya tulus.

Linda tersenyum lembut mendengar ucapan suaminya. Senyum itu terlihat indah, menenangkan, dan masih memancarkan pesona meskipun ia tidak lagi muda. Mata Rouni tak lepas dari senyum itu, namun pikirannya tetap terganggu oleh sosok Ivy. Di dalam hatinya, ia menganggap Ivy jauh lebih menarik-muda, ramping, dan penuh energi. Dia membayangkan gadis itu dan merasa tergoda, meskipun sadar Ivy memiliki luka-luka dan sedikit cacat akibat masa lalunya.

Sementara itu, Ivy melangkah keluar dari rumah dengan cepat, menuruni tangga teras dengan napas yang masih berat dari ketegangan sebelumnya. Di depan pintu, ia melihat sebuah kotak paket bertuliskan namanya. Tidak ada nama pengirim, membuatnya sedikit waspada. Namun tanpa ragu, ia mengambil kotak itu. Segera setelah itu, Ivy memasang masker wajah, menutupi sebagian identitasnya, dan memakai headset. Ia menyalakan lagu favoritnya, Queen - Love Of My Life, membiarkan irama lagu mengisi perjalanan menuju sekolah, berulang-ulang tanpa henti.

Saat melewati tempat pengumpulan sampah di pinggir jalan, Ivy berhenti sejenak. Ia membuang kotak paket itu ke dalam tempat sampah, memastikan untuk merusak nama penerima agar tidak ada jejak. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dengan langkah santai, namun pikiran dan hatinya masih panas membara.

Kenangan akan kejadian kemarin tiba-tiba muncul dalam benaknya. Rasa marah dan kesal menyelimuti setiap inci pikirannya. Itu adalah pelecehan yang tidak pantas, dan Ivy tahu ini bukan pertama kalinya Rouni Robinson-ayah tirinya-berbuat gila padanya. Ia teringat hampir setiap kali Rouni mencoba memperkosanya, untungnya Ivy selalu berhasil selamat.

Ivy menggerakkan tangan dengan kuat, menggenggam erat tasnya sambil menatap ke depan dengan tajam. Setiap langkah kakinya sedikit menghentak, seperti ingin memproyeksikan kemarahan dan ketegangan yang ia rasakan. Saat itu, tatapannya begitu tajam dan membara, menimbulkan kesan bahwa ia siap melakukan apa saja demi melindungi dirinya sendiri.

Dalam hati, Ivy membenci Rouni lebih dari siapa pun. "Aku sangat membenci pria itu," pikirnya. "Kalau saja aku punya keberanian yang cukup, aku pasti sudah membunuhnya. Aku ingin... memotong kemaluannya, lalu memberikannya pada anjing!" Bayangan itu melintas sekejap, tapi segera ia menepisnya.

Ivy kembali teringat wajah ibunya di tangga tadi. Linda terlihat polos dan tidak menyadari apa pun tentang tindakan bejat suaminya. Bukan karena Ivy tidak pernah menceritakan apa yang terjadi, tapi ibunya terlalu mencintai Rouni, hingga seolah menutup mata terhadap kenyataan yang mengerikan itu. Di mata Linda, Rouni mungkin sosok malaikat, padahal kenyataannya sangat jauh dari itu.

Alasan utama Ivy tak lagi melaporkan pelecehan Rouni kemarin kepada ibunya cukup sederhana namun membebani hatinya: ia yakin ibunya takkan percaya kata-katanya. Mereka pasti akan terlibat cekcok yang berujung pada kekerasan. Kekerasan itu mungkin berupa pukulan atau teguran keras, dan Linda akan menyalahkannya-karena berpakaian terbuka, karena tingkah lakunya, atau karena terlihat "mengundang" Rouni. Upaya Ivy untuk membela diri hanya akan memperdalam luka emosionalnya, membuatnya merasa tidak berdaya di depan ibu yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Khayalan Ivy buyar saat terdengar suara klakson mobil yang keras dari jalan di dekatnya. Napasnya tercekat sebentar, dan ia kembali menengok jalannya. Kali ini ia sedikit berlari, menyadari bahwa waktu masuk sekolah semakin dekat. Jalan kaki menuju sekolah memang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, melelahkan di musim panas, tapi bagi Ivy, itu adalah cara yang sehat untuk mengawali hari dan sekaligus memberi ruang bagi pikirannya yang penuh dengan kekesalan.

Beberapa menit kemudian, Ivy hampir sampai di gerbang sekolah. Dari jauh, ia melihat deretan mobil mewah milik siswa-siswa kaya yang baru tiba. Mobil-mobil itu berhenti tepat di depan gerbang karena kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke halaman sekolah, kecuali untuk staf. Sopir membuka pintu bagi pemiliknya, membuat para siswa terlihat bak bangsawan, lengkap dengan aura kemewahan. Ivy menatap pemandangan itu tanpa ekspresi, sedikit merasa asing dan iri, tapi ia memilih diam, menahan perasaannya.

Saat ia melangkah melewati gerbang, sebuah mobil hitam mewah berhenti di sampingnya. Tubuh Ivy seketika membeku; tatapannya terhenti pada mobil itu, terasa akrab dan asing sekaligus. Pintu mobil terbuka, dan seorang remaja laki-laki turun perlahan. Rambutnya pirang platinum, hampir seperti warna es yang tipis, dengan potongan two block yang berantakan tapi tetap terlihat rapi-gaya yang sering dipakai selebriti Korea Selatan.

Matanya biru muda, seperti langit musim panas yang cerah, menembus tatapan Ivy dengan ketajaman yang tak bisa ia hindari. Kulitnya putih, bersih, tanpa noda, lengkap dengan alis tebal, hidung mancung, bibir tipis yang seksi, dan rahang tegas yang menambah ketampanan wajahnya. Tubuhnya tinggi dan proporsional, tidak kurus maupun gemuk, berpakaian rapi dan bersih, menciptakan kesan sempurna yang sulit diabaikan.

Pria itu menyadari tatapan Ivy dan membalasnya dengan senyum lemah. Ivy hanya menatapnya datar, tak memberi reaksi, tapi di dadanya terasa sesak. Senyum pria itu perlahan memudar, dan seketika itu pula Ivy merasa ada sesuatu yang hilang-seperti udara segar yang tiba-tiba lenyap. Sebuah rasa kehilangan dan ketegangan membelit dadanya, tapi ia tak bisa menurunkan wajah atau menunjukkan perasaannya.

Tak lama kemudian, seorang gadis keluar dari mobil yang sama. Rambutnya hitam bergelombang, kulitnya putih dengan bintik-bintik merah kecil yang nyaris tak terlihat. Senyumnya manis, matanya cerah, dan tubuhnya tinggi serta kurus, membentuk sosok yang memesona. Ivy menatapnya dengan sedikit iri; gadis itu seperti bunga yang baru mekar, sempurna, penuh kehangatan-sebuah kontras yang tajam dengan perasaan pahit Ivy saat ini.

Gadis itu berjalan mendekati remaja pria tersebut dan menggandeng tangannya dengan akrab. Pria itu membalas dengan senyum singkat, hangat namun singkat, menandakan hubungan mereka yang dekat. Ivy menelan ludah, hatinya memanas, dada terasa sesak, dan telapak tangannya sedikit mengepal. Perasaan marah, cemburu, dan sakit hati bercampur aduk, menimbulkan kemarahan yang sulit ia tahan. Ia sadar, pria itu adalah mantan kekasihnya-dan fakta bahwa hatinya masih menyimpan sisa cinta membuat rasa kesalnya semakin membara.

Langkah Ivy semakin cepat, meski kakinya terasa berat oleh campuran emosi. Ia menatap lurus ke depan, menahan tatapan datar, menutup rapat perasaannya. Suasana di gerbang sekolah-mobil mewah, siswa yang keluar dengan percaya diri, riuh rendah percakapan-semakin menegaskan ketidakadilan yang ia rasakan. Di tengah keramaian itu, Ivy merasa seperti orang asing yang mengamati dunia yang sempurna dari luar, tersesat dalam kesal dan kecewa yang ia sendiri belum bisa atasi sepenuhnya.

Bersambung !

***

Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang