45.

64 5 0
                                        

BAB 45

Beberapa Minggu kemudian. 

"AAAAAAAAA!!!" Suara teriakan itu menggema keras di dalam kamar besar bergaya Victoria, membuat kaca jendela bergetar halus. Teriakan itu terdengar menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarnya.

Di tengah ruangan yang diterangi cahaya lampu gantung kristal, seorang gadis berparas cantik dengan rambut merah menyala berteriak histeris. Elena—gadis itu—mencakar wajahnya sendiri, kuku-kuku tajamnya meninggalkan goresan yang segera berubah menjadi merah basah oleh darah. Raut wajahnya penuh ketakutan, matanya melebar, seolah ada sesuatu yang tidak bisa dihindari tengah berdiri di hadapannya.

Beberapa pelayan wanita bergegas menahan tangan Elena, berusaha mencegahnya melukai diri lebih jauh. Namun mereka tampak kewalahan, tubuh mereka gemetar, rasa takut jelas tergambar dari sorot mata mereka.

"Dia akan membunuhku! Dia datang ingin membunuhku!" teriak Elena sambil menunjuk ke arah cermin besar berhias ukiran emas yang berdiri di sisi kamarnya.

Para pelayan menoleh ke arah cermin itu. Namun yang mereka lihat hanyalah bayangan diri mereka sendiri dan sosok Elena yang kacau. Tidak ada yang aneh, tidak ada sosok mengerikan seperti yang dituduhkan Elena. Mereka saling berpandangan, mulai berasumsi jika Nona muda itu benar-benar kehilangan akal sehatnya.

"Dia di sana! TANGKAP DIA! Cepat, atau dia akan membunuhku!" Elena berteriak lagi, suaranya pecah dan penuh putus asa.

"Nona Elena, tenanglah. Tidak ada seorang pun di sini yang ingin menyakiti nona," ucap salah seorang pelayan dengan suara bergetar.

Elena menoleh tajam, lalu mendorong pelayan itu hingga terhuyung. Matanya membelalak, wajahnya memerah oleh amarah dan ketakutan. "APA KAU PIKIR AKU BUTA?! LIHAT KE SANA! DIA MENATAPKU, DIA INGIN MEMBUNUHKU!"

Pelayan lain hanya terdiam, tak ada yang berani mendekat. Elena kembali menoleh ke cermin. Matanya membesar, napasnya terengah-engah. Di balik pantulan kaca, seorang gadis berseragam SMA lusuh berdiri menatapnya. Rambutnya kusut menutupi sebagian wajah, kulit wajahnya hancur, satu matanya hilang, dan lehernya hampir putus. Tubuhnya berlumur darah segar, menetes hingga membentuk genangan di kaki. Senyum menyeringai dari bibir yang robek membuat sosok itu semakin mengerikan.

Lebih buruk lagi, pantulan kamar di dalam cermin tidak sama dengan ruangan nyata. Ia melihat ruangan kotor, penuh daun-daun kering yang beterbangan, cat dinding mengelupas, dan hawa gelap yang menusuk tulang. Namun anehnya, semua itu hanya Elena yang melihatnya—sementara pelayan melihat cermin biasa.

"ITU DIA! ITU DIAAAA!" teriak Elena, nadanya parau.

"ELENA!" Suara lantang memotong teriakannya.

Elena terperanjat, menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri ayahnya, wajahnya penuh amarah. Meski begitu, Elena justru menatapnya dengan lega. Air mata membasahi pipinya, senyum kecil muncul seolah ia menemukan penyelamat.

"Papa!" panggil Elena dengan suara bergetar.

Ayahnya berjalan mendekat dengan langkah berat. Elena mencoba menjelaskan, suaranya penuh harapan. "Papa, lihat! Di sana—"

Plaaak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putihnya. Elena terhuyung, matanya membelalak tak percaya. Rasa panas di wajahnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

"Diam! Kau semakin gila!" bentak ayahnya dengan dingin.

Air mata Elena mengalir deras. Ia menatap ayahnya dengan ekspresi hancur. Seumur hidupnya, ini pertama kali sang ayah mengangkat tangan kepadanya. Luka itu bukan di kulit, melainkan di jiwanya.

"Sebaiknya kau segera kumasukkan ke rumah sakit jiwa!" suara ayahnya menggema keras, bagai palu yang menghancurkan sisa harapan di dalam hatinya.

"Tidak, Papa! Aku tidak gila! Aku tidak gila! Dia ada di sana, kau harus percaya padaku!" teriak Elena, suaranya parau, namun ayahnya tidak bergeming.

Dengan satu isyarat, pelayan-pelayan menahan Elena dari kedua sisi. Gadis itu memberontak sekuat tenaga, menjerit, memohon kepada ayahnya, namun ia tetap diabaikan.

Seorang pria sedang berbaring di atas kasur dalam kamarnya yang remang-remang. Tirai jendela dibiarkan tertutup rapat, hanya sedikit cahaya temaram lampu jalan di luar yang menembus celahnya. Udara kamar itu pengap, seakan menahan semua kesedihan di dalamnya. Pria itu, Brayen, menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut lusuh. Matanya menatap kosong ke arah dinding samping kasur, tatapan yang layu dan kehilangan cahaya. Lingkar hitam di bawah matanya jelas terlihat, tanda dari malam-malam panjang tanpa tidur. Ada kelelahan yang berat tergambar di wajahnya—bukan hanya lelah fisik, tapi juga batin yang seakan terkoyak.

Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamar. Namun Brayen tidak bergeming. Ia hanya menggerakkan matanya sedikit, lalu menarik selimutnya lebih tinggi, seolah dunia di luar pintu itu bukan lagi untuknya. Helaan napasnya berat, seakan ia benar-benar tak punya gairah untuk hidup.

“Brayen,” suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu. Itu suara ibunya. Suaranya lembut, penuh kasih, disertai ketukan pelan yang terdengar berirama, seolah mencoba menenangkan suasana.

“Keluarlah, Nak. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” ucap sang ibu dengan nada penuh harapan. Namun, Brayen tetap diam, tak menjawab, hanya menatap hampa.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar menjauh di lorong rumah. Brayen mengira ibunya sudah pergi, meninggalkannya sendiri bersama sepi yang ia pelihara. Tapi, tiba-tiba sebuah suara lain terdengar memanggilnya.

“Brayen.”

Suara itu berbeda. Bukan suara ibunya. Lembut, hangat, dan begitu akrab—suara yang selama ini menghantuinya dalam mimpi, suara yang begitu ia rindukan. Tubuh Brayen menegang, matanya melebar. Dengan tergesa ia bangkit dari kasur, langkahnya tiba-tiba dipenuhi semangat yang lama hilang. Ia berjalan cepat ke arah pintu, hampir tak sabar, lalu memutar gagang dan membukanya.

“Ivy!” seru Brayen, suaranya bergetar.

Tubuhnya mendadak lemas. Kata-kata selanjutnya lenyap, tertelan keterkejutan. Di ambang pintu berdiri seorang gadis—sosok yang sangat mirip dengan Ivy, mantan kekasihnya yang paling ia cintai. Wajah itu, senyum itu, bahkan caranya berdiri… semuanya terlalu nyata untuk hanya sebuah bayangan.

Ivy tersenyum lembut padanya, tatapannya memancarkan kerinduan yang tak terbantahkan. Ada rona malu-malu di wajahnya ketika matanya tertuju pada dada Brayen yang terbuka, sebab pria itu hanya mengenakan celana pendek. Otot-ototnya terlihat jelas, membuat suasana jadi canggung. Namun, aura Ivy tetap memikat—hangat dan menyenangkan, seakan waktu yang memisahkan mereka tidak pernah ada.

Brayen mundur selangkah, suaranya bergetar lirih. “Tidak… aku pasti sedang berhalusinasi…” gumamnya, namun cukup jelas untuk didengar Ivy.

“Tentu tidak, Brayen. Ini aku, Ivy,” ucap gadis itu lembut.

Ivy perlahan mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh lengan Brayen. Sentuhan itu nyata, hangat. Brayen terperanjat, tubuhnya bergetar hebat. Napasnya tersengal, pikirannya kacau. “Ba… bagaimana bisa? Bukannya Ivy sudah… meninggal? Kalau begitu… siapa kau? Hantu?!”

Ketakutan merayapi wajahnya. “Aaaa… hantu!!!” teriak Brayen histeris, matanya membelalak panik menatap sosok itu.

Dengan cepat Ivy menutup mulut Brayen dengan tangannya, mendekat, menatapnya penuh ketegasan namun tetap lembut. “Sssst… tenanglah. Aku bukan hantu, Brayen. Aku benar-benar Ivy. Aku masih hidup.”

Detik itu juga, dunia Brayen seperti berhenti berputar. Sentuhan Ivy begitu nyata, hangat tubuhnya, aroma samar parfum yang dulu begitu ia kenal, bahkan hembusan napasnya yang terasa begitu dekat. Semua itu perlahan mengikis rasa takut Brayen, menggantinya dengan perasaan yang lebih kuat: bahagia, sekaligus tidak percaya.

Setelah Brayen mulai tenang, Ivy menurunkan tangannya, membiarkan pria itu mengatur napas. Mata Brayen basah, bibirnya bergetar. “Tapi… bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyanya penuh rasa ingin tahu, suara lirihnya nyaris pecah.

Ivy tersenyum, menatapnya dengan tatapan penuh arti. “Nanti akan aku ceritakan, Brayen. Sekarang… yang paling aku inginkan hanyalah memelukmu.”

Bersambung ! 

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang