BAB 56
Rumor itu sangat memengaruhi kehidupan sosial Elise. Sejak hari itu, banyak orang justru semakin menyukainya, seakan rumor gelap yang beredar tidak mampu mengurangi pesonanya. Namun di balik tatapan penuh kagum orang-orang, Elise merasa resah. Untunglah, Sir John McKellen tetap setia berada di sisinya, menemaninya melalui segala cibiran maupun pujian palsu. Akan tetapi, kesetiaan itu justru membuat Hugo Murray McKellen semakin murka. Api kebencian dalam dirinya tumbuh semakin dalam, semakin pekat, hingga bangkitlah kekuatan sihir yang telah lama tertidur di tubuhnya. Dalam sekejap, kekuatan itu meledak, menjadikannya monster yang tak lagi menyerupai manusia.
Hugo Murray McKellen memporak-porandakan negeri Semidio. Kota yang dulunya indah berubah menjadi lautan api dan darah; jalanan dipenuhi tubuh tak bernyawa, genangan merah mengalir di sepanjang bebatuan. Semua itu hanya demi satu tujuan—membunuh Sir John McKellen. Sebagai pria sejati, Sir John tidak punya pilihan selain melawan saudaranya sendiri. Pertarungan mereka berlangsung sengit; setiap ayunan sihir membuat langit bergemuruh dan tanah bergetar. Sir John nyaris kewalahan, namun dengan bantuan rekan-rekannya serta keberanian bangsa Semidio, mereka akhirnya berhasil menjatuhkan Hugo. Sang monster itu ditangkap dan dijebloskan ke penjara bawah tanah kaum siren—tempat yang gelap, basah, dan dingin—untuk seumur hidupnya.
Namun perjuangan Sir John dan Elise tidak berhenti di sana. Mereka harus menghadapi kebencian keluarga McKellen terhadap kaum campuran, sekaligus berusaha mengubah stigma yang telah berakar dalam masyarakat. Perjuangan itu berakhir dengan kebahagiaan, cinta mereka bertahan meski dipenuhi duri, sangat kontras dengan nasib Hugo Murray McKellen yang harus hidup dalam kemalangan, terkekang dalam gelapnya penjara.
Ivy menutup novel itu dengan napas berat. Dadanya terasa sesak, matanya sedikit berkaca-kaca. Ada sesuatu dalam kisah Hugo Murray yang menusuk hatinya, membuatnya teringat pada dirinya sendiri. Nasib Hugo bagai cermin dari jalan gelap yang pernah ia lalui—terjerat dendam, haus akan pengakuan, dan pada akhirnya terisolasi. Bedanya, Ivy berhasil membalaskan dendamnya, meski jauh di lubuk hati ia masih menyimpan rasa bersalah. Tangannya meremas sampul buku itu, ragu apakah ia harus membenci atau justru merasa iba pada sosok Hugo.
Perhatiannya terpecah ketika suara langkah kaki bergema di lorong. Suara itu tenang namun mantap, mendekat semakin jelas. Ivy menoleh, mendapati seorang pria tua berjubah putih berjalan perlahan ke arahnya. Sorot mata bijak sang pria menembus keheningan lorong. Ivy buru-buru menyimpan novelnya ke dalam tas, lalu berdiri, berusaha terlihat tenang seolah sedang menunggu kedatangan orang itu.
Seorang pria tua berjubah putih, dengan jenggot panjang seputih salju, melangkah anggun menyusuri lorong megah. Setiap langkahnya penuh wibawa, seakan ia membawa cahaya bersamanya. Di belakangnya, seorang gadis muda berseragam sekolah mengikuti dengan patuh. Lorong panjang itu sunyi, namun keheningannya justru menegaskan kemegahan sekitarnya—dinding batu pahatan bergaya klasik, pilar-pilar tinggi dengan ukiran emas, serta cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar setengah lingkaran, menciptakan pantulan hangat di lantai marmer yang dingin.
Pria tua itu berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran bunga yang indah. Saat pintu terbuka, aula megah menyambut mereka. Aula itu dipenuhi murid-murid berseragam, duduk dengan rapi di bangku panjang. Namun ketika pandangan mereka jatuh pada gadis di belakang pria tua, suasana seketika berubah. Tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu, bisikan halus, dan sorot mata sinis bercampur menjadi satu. Gadis itu berjalan menunduk, mencoba mengabaikan semua pandangan yang menusuk, sama seperti pria tua di depannya yang tetap melangkah mantap.
Ketika mereka mendekati bagian depan aula, gadis itu melihat sebuah meja besar yang dipenuhi sekitar tiga puluh orang. Wajah mereka lebih dewasa dibanding para siswa, namun belum setua pria berjanggut itu. Mereka tampak berwibawa, berkelas, seakan setiap gerakan kecil pun memancarkan otoritas. Dalam hati, gadis itu menebak: merekalah para guru.
Kedatangan pria tua itu disambut dengan penuh hormat. Suara kursi berderit terdengar ketika dua orang yang duduk di meja besar bagian depan aula berdiri dari kursinya. Mereka berjalan mendekat, jubah panjang mereka menyapu lantai marmer putih yang berkilau terkena pantulan cahaya obor kristal yang tergantung di dinding aula. Ketiganya berdiri berhadapan, tampak berbincang pelan dengan wajah serius, namun tak ada seorang pun di dalam ruangan yang bisa menangkap isi percakapan mereka. Bisikan pelan para siswa yang penasaran perlahan terhenti, digantikan oleh tatapan penuh tanya yang tertuju ke arah mereka. Begitu diskusi singkat itu selesai, ketiga orang itu serempak menoleh ke arah gadis yang berdiri sendirian di sisi aula.
Gadis itu, Ivy, sempat terperanjat saat menyadari semua perhatian kini tertuju padanya. Namun wajahnya tetap datar, seolah ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Sorot matanya tenang, meski ada sedikit keraguan yang bersembunyi di balik ekspresinya. Pria tua berjanggut itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Ivy mendekat. Tanpa ragu, Ivy melangkah maju, suara langkah kakinya bergema di lantai batu, menyayat keheningan aula. Begitu tiba, ia berdiri tepat di samping pria tua itu.
Dengan suara lantang dan penuh wibawa, pria tua berjanggut itu berkata, “Hari ini, untuk pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri, kita kedatangan seorang murid pindahan.”
Suara itu menggelegar, bergema di seluruh aula megah, membuat para siswa serentak bersuara. Bisik-bisik dan gumaman memenuhi udara; beberapa wajah tampak penasaran, yang lain justru memandang sinis. Ivy hanya menatap kosong ke depan, membiarkan semua komentar itu lewat begitu saja.
Pria tua itu kembali mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, keheningan kembali menyelimuti aula. Tatapannya lalu mengarah pada Ivy, memberi isyarat halus agar ia memperkenalkan diri. Ivy mengangguk pelan, menarik napas singkat, lalu berkata dengan suara jernih,
“Elsie Ulusoy.”
Tatapan para siswa semakin intens, beberapa mengangkat alis, yang lain saling berbisik pelan lagi, kali ini dengan nada penuh keingintahuan.
Pria tua itu lalu menjelaskan dengan suara berwibawa, “Terdapat empat warna yang membedakan para siswa. Hijau melambangkan kepala Medusa. Oranye melambangkan burung Feniks. Biru melambangkan Kraken. Dan terakhir, merah melambangkan Leviatha.”
Ivy menyapu pandangan ke seluruh aula, memperhatikan warna berbeda pada lambang di dada seragam para siswa. Hijau, oranye, biru, dan merah, berkilau samar di bawah cahaya kristal.
“Kau akan ditempatkan pada salah satu kelompok itu dengan bantuan bola ajaib,” lanjut pria tua itu. Seorang pengurus membawa sebuah kotak kayu tua, menghampiri mereka dengan langkah hati-hati. Saat kotak itu dibuka, tampak sebuah kristal bulat berwarna ungu pucat, berkilau lembut seperti mutiara laut. Cahaya samar yang keluar dari permukaannya seolah menyihir setiap pasang mata yang memandangnya.
Ivy menatap benda itu tanpa ragu. Ia teringat kembali penjelasan Taki tentang tradisi pembagian kelompok dengan kristal tersebut. Hanya sedikit siswa yang tak mendapat warna, dan mereka disebut “anak-anak istimewa”. Taki bahkan sudah berpesan: jika itu terjadi padanya, pilihlah kelompok burung Feniks, karena mereka dikenal terhormat dan sukses. Namun, Ivy menolak bayangan itu. Baginya, citra baik bukanlah sesuatu yang pantas ia sandang.
Saat pria tua itu memberi isyarat, Ivy mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas bola kristal. Tangannya tetap tenang, wajahnya tak menunjukkan kegugupan sedikit pun. Sekilas, ia terlihat terlalu santai, seolah prosesi ini hanya formalitas belaka.
Namun dalam hitungan detik, bola itu memancarkan cahaya hijau terang yang melesat keluar, begitu kuat hingga memenuhi seluruh ruangan. Sinar itu membuat aula megah tersebut tampak seperti samudra zamrud yang bercahaya. Para siswa menahan napas, sebagian terkejut hingga tanpa sadar menunduk atau menutup mata. Ivy sendiri terdiam, sedikit terkejut meski tetap menjaga wajahnya tetap datar.
Begitu tangannya terlepas, cahaya itu seketika padam, menyisakan aura dingin yang menekan suasana. Semua orang masih terpaku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Hening yang mencekam itu akhirnya dipatahkan oleh suara berat pria tua berjanggut itu. Dengan nada tegas ia mengucap,
“ομάδα μέδουσα.”
Suaranya bergema, menerjemahkan kenyataan yang tak bisa dibantah: Ivy kini menjadi bagian dari kelompok Medusa.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
