BAB 28
Seorang gadis berdiri di pinggir jalan yang basah oleh sisa hujan sore. Matanya menatap gerbang utama yang digunakan untuk memasuki kawasan apartemen elit. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah, masker menutupi sebagian wajahnya, rambutnya coklat kehitaman yang tertiup angin tipis Manchester, dan tubuhnya kurus. Dia adalah Ivy.
Ivy menatap ke dalam gerbang, matanya mengikuti garis bangunan yang menjulang. Gedung-gedung mewah dengan kaca reflektif dan balkon-balkon luas tampak menakjubkan. Kawasan itu hanya bisa diakses oleh orang kaya dan berkuasa. Secara logika, Ivy tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya—namun dengan sihirnya, jalan hidupnya selalu menemukan celah.
Ada dua pintu utama untuk kendaraan, dijaga ketat dengan kamera pengawas dan petugas keamanan. Tiga pintu lain diperuntukkan bagi pejalan kaki atau pesepeda, masing-masing membutuhkan kartu khusus atau kata sandi. Ivy memilih pintu pejalan kaki. Lebih mudah diakses dan lebih sepi.
Ia menarik napas panjang, merasakan campuran amarah dan ketegangan membakar dadanya. Setiap langkahnya berat, seolah emosi itu menjadi batu yang menekan di dada. Hari ini, ia tidak akan membiarkan kemarahan itu sia-sia. Hari ini, ia akan menghadapi pelaku yang membuat hidupnya menderita.
Saat Ivy sampai di pintu khusus pejalan kaki, pintu itu tertutup rapat. Besi putihnya tampak dingin dan kokoh, CCTV terpasang di sudut, dan Door Knob Lock menunggu kata sandi atau kartu khusus. Ivy menatap CCTV beberapa detik, kemudian pura-pura memasukkan kata sandi. Sebenarnya, mantra sihirnya bekerja di balik gerakan itu.
Dalam hitungan detik, pintu terbuka perlahan. Ivy masuk, langkahnya senyap di lorong apartemen mewah itu. Dia langsung menuju gedung tempat Elena tinggal—lalu ke Penthouse di lantai paling atas, tempat yang pernah ia kunjungi untuk bermain bersama Elena beberapa kali.
Selama beberapa menit, Ivy berjalan di koridor mewah. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu, lukisan-lukisan modern menghiasi dinding, dan aroma parfum mahal menyeruak tipis. Tidak ada yang menghalangi jalannya; tidak ada petugas, tidak ada penghuni yang curiga.
Akhirnya, Ivy tiba di lantai apartemen Elena. Lift terbuka, dan saat ia melangkah keluar, terdengar suara pintu apartemen Elena hampir terbuka. Jantung Ivy berdegup lebih cepat. Ia menahan napas, lalu menepi ke tangga darurat di samping lift, bersembunyi dalam bayangan logam dingin.
Dengan posisi membelakangi pintu, Ivy kesulitan melihat jelas apa yang terjadi. Ia mengeluarkan ponsel, menyalakan kamera, dan menyesuaikan pengaturan agar tidak menimbulkan cahaya maupun suara. Saat berhasil merekam video, ia menahan napas, matanya melebar saat melihat layar.
Di dalam apartemen, Elena dan Natali tampak serius membicarakan sesuatu. Elena terlihat kurus dan kusam; wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, tubuhnya tidak dirawat. Ada aura kacau dan putus asa yang terpancar darinya, berbeda jauh dari gadis yang Ivy kenal dulu.
"Natali? Kenapa dia ada di sini?!" gumam Ivy, suaranya nyaris tertahan oleh ketegangan yang membakar dada. Perasaan cemas, penasaran, dan sedikit marah bercampur di dalam dirinya, membuat Ivy menatap lebih lama, berusaha memahami apa yang sedang terjadi di apartemen itu.
"Apa yang sedang mereka bicarakan… aku harus tahu," gerutu Ivy dalam hati, rasa penasaran membakar pikirannya. Ia berpikir untuk menggunakan sihirnya, namun usahanya gagal.
"Sial, kenapa mantra sihirku tidak berfungsi? Apa karena posisi mereka terlalu jauh, jadi tidak mempan?" gerutu Ivy dengan frustrasi, menahan napas.
Tak lama kemudian, Natali dan Elena mulai bergerak ke arah lift. Ivy segera menahan diri, menuruni anak tangga di tangga darurat dengan langkah sangat pelan agar mereka tak menyadari keberadaannya.
"Sial… mereka sudah mau keluar lagi," bisik Ivy dalam hati, menyesali kesempatan yang hilang. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak mengikuti mereka. Tubuhnya sudah lelah, dan hatinya terasa berat. Ivy memilih untuk menunggu Elena di apartemennya.
Setelah sekitar tiga puluh menit, Elena kembali ke apartemennya. Saat gadis itu baru saja keluar dari lift, Ivy menyapanya dengan senyum ramah. Namun, reaksi Elena justru membuat wajahnya pucat pasi, hampir seperti mayat hidup.
"Halo, Elena," sapa Ivy, senyumannya tampak tenang tapi penuh arti.
"I… Ivy! Ke… kenapa kau di sini?!" Elena menjawab dengan suara gemetar, langkahnya mundur tanpa sadar, seolah berusaha menjauh.
Ivy mendekati Elena dengan langkah pasti, hati yang dipenuhi kebencian dan kemarahan membara dari dalam. Saat itu, jarak mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Ivy bisa melihat kondisi Elena dengan jelas: wajahnya kusam, lingkaran hitam di bawah mata menonjol, bibir pucat dan kering, tubuhnya kurus kering, dan rambutnya kusut acak-acakan. Ivy bertanya-tanya, apakah Elena sakit atau sedang depresi.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau di sini. Bukannya kau harusnya berada di luar negeri untuk melanjutkan studimu?" ucap Ivy dingin, menatap Elena dengan tajam.
"A… aku sedang liburan sekolah," jawab Elena terbata-bata, jelas kebohongannya terlihat dari nada suaranya yang gemetar.
"Begitu ya…" Ivy menanggapi dengan nada ambigu. Matanya tetap menatap Elena tanpa berkedip, kemudian ia mengeluarkan paket yang sebelumnya sudah dibuka. Paket itu berisi boneka Barbie tanpa kepala dan pecahan gelas.
Ivy menaruh paket itu di depan Elena, menatap wajah gadis itu yang kini gemetar ketakutan. "Oh ya… apakah kau tahu siapa yang mengirim paket ini?" tanyanya tenang tapi menusuk.
"A… apa yang kau katakan!? Aku…" Elena mulai menjawab, tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Ivy dengan sengaja menjatuhkan paket itu ke lantai. Semua isinya berserakan, pecahan kaca menggelinding dan pecah, membuat suara benturan nyaring memecah keheningan apartemen.
Elena terkejut luar biasa, menjerit keras, kakinya hampir saja tersayat pecahan kaca. Tubuhnya gemetar, panik, dan refleksinya membuatnya ingin menjauh dari Ivy. Namun Ivy dengan cepat menahan tangan Elena, mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya, dan berbisik dengan nada menakutkan:
"Mengerikan, bukan? Dulu aku juga seperti ini saat membuka paket yang sama. Kali ini… aku akan menemukan siapa pengirimnya, dan membuatnya merasakan apa yang boneka ini rasakan."
Suasana apartemen seketika hening kecuali suara kaca yang pecah dan napas berat keduanya. Rasa takut Elena begitu nyata, sementara Ivy berdiri tegap, matanya memancarkan kemarahan yang dingin dan mengerikan.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
