11.

111 5 0
                                        

BAB 11




Ivy berdiri mematung di halaman sekolah yang riuh oleh suara langkah kaki dan bisik-bisik panik. Keributan akibat insiden yang baru saja terjadi membuat suasana terasa tegang. Dari bibirnya lolos gumaman lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun di sekitarnya.
“Mungkin… semua orang masih trauma karena kebakaran enam bulan lalu,” ucapnya, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Tatapannya kemudian beralih, melewati kerumunan murid yang bergegas meninggalkan area itu, hingga matanya tertuju pada gerbang belakang sekolah yang sedikit terbuka. Gerbang besi hitam itu berderit pelan setiap kali tersentuh angin, dan di baliknya, jalan setapak kecil memanjang menuju luar. Tanpa berpikir lama, Ivy melangkah cepat ke arah gerbang itu, meninggalkan hiruk-pikuk sekolah yang kini terasa menyesakkan.

Begitu keluar, ia sudah berada di tepi jalan. Udara musim gugur yang dingin menerpa wajahnya, membuat helai rambutnya yang lepas dari ikatan bergerak tertiup angin. Ia menoleh ke kiri—arah yang biasa ia tempuh untuk pulang. Pandangannya terpaku pada jalan tersebut selama beberapa detik. Rumahnya memang tak jauh dari sana, namun pikirannya dipenuhi satu alasan untuk tidak melangkah pulang.
“Aku ingin pulang… tapi aku tidak mau bertemu dengan pria sinting itu,” gumamnya pelan, suaranya tenggelam di antara suara lalu lintas yang jauh.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir kegelisahan yang merayap di dadanya. Lalu, tanpa benar-benar merencanakan tujuan, ia memilih berjalan ke arah berlawanan. Sepatu kanvasnya menginjak dedaunan kering yang berserakan di trotoar, menimbulkan bunyi renyah di bawah langkahnya. Ivy tidak tahu pasti ke mana ia akan pergi; ia hanya ingin menjauh dari rumah dan sekolah.

Tanpa ia sadari, dari lantai dua gedung sekolah, Brayen berdiri di balik jendela, memperhatikannya. Tatapannya sulit diartikan—tidak sepenuhnya dingin, tapi juga bukan penuh perhatian. Ia terus memandang hingga sosok Ivy menghilang di tikungan jalan, barulah ia berbalik dan pergi.

Tiga puluh menit berjalan tanpa arah membuat telapak kaki Ivy mulai terasa pegal. Udara yang menusuk kulit pipinya justru membuatnya lebih sadar akan rasa lelah itu. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menuju tempat yang sering ia kunjungi beberapa bulan terakhir—perpustakaan tua di pusat kota. Tempat itu telah menjadi pelariannya sejak enam bulan lalu, setelah tragedi yang mengubah hidupnya dan membuatnya kehilangan semua teman.

Perjalanan ke sana ia tempuh dengan berjalan kaki, karena uang jajannya hanya cukup untuk membeli makan siang sederhana, bukan ongkos taksi atau bus. Meski begitu, ia tidak keberatan. Perjalanan itu melelahkan, tapi ada semacam ketenangan tersendiri dalam menapaki jalanan kota Manchester yang lengang di siang hari. Ia lebih memilih ini daripada duduk sendirian di rumah atau terjebak di suasana sekolah yang penuh tatapan ingin tahu.

Dua puluh menit kemudian, Ivy berdiri di seberang jalan, memandang bangunan perpustakaan tua itu. Bangunannya bergaya Eropa klasik, berdinding batu abu-abu pucat, dengan jendela-jendela tinggi berbingkai kayu yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Atapnya berhias ukiran-ukiran batu yang rumit, dan di puncaknya berdiri patung malaikat yang sayapnya sebagian terkikis hujan dan angin. Bangunan itu berdiri sejak abad ke-19, dan seluruh lingkungannya—lampu jalan besi tuang, trotoar batu, dan toko-toko kecil di sekitarnya—tampak seolah membeku di masa lalu.

Setelah memastikan lalu lintas aman, Ivy menyeberang. Udara di sekitar perpustakaan terasa berbeda, lebih sejuk, seperti menyimpan aroma kertas tua dan kayu berdebu. Begitu mendorong pintu kayu berat itu, bunyi dentingan kecil lonceng di atasnya menyambut kehadirannya.

Di meja resepsionis, seorang wanita paruh baya tengah duduk sambil membaca buku tebal. Rambutnya yang hitam mulai beruban di beberapa bagian, terikat rapi, dan wajahnya memancarkan keanggunan yang menenangkan. Wanita itu adalah Dizel. Begitu menyadari kehadiran Ivy, ia menutup bukunya dan tersenyum hangat.
“Halo, Ivy,” sapanya lembut.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang