Bab 101
Sementara Cagatay mendengar pengakuan Murray, amarahnya semakin memuncak. Wajahnya memerah seperti baru keluar dari kukusan, tubuhnya bergetar menahan emosi campur antara kaget dan kecewa. Baru saja ia terkejut mengetahui Ivy adalah putrinya, kini ia harus menelan kenyataan bahwa anaknya telah menikah—dan itu terjadi di usia yang masih sangat muda.
“20-an… tanpa pekerjaan tetap… rumah sederhana di tengah hutan? Apa kalian berharap hidup bahagia hanya dengan itu? Jangan konyol!” pikir Cagatay dengan kesal, napasnya tersengal.
“AAAAA… KURANG AJAR KAU!” teriaknya, amarahnya bergema di dalam rumah, membuat Ivy dan Murray terkejut hingga tubuh mereka serasa membeku.
Cagatay melangkah maju, hendak memukul Murray. Namun Murray cepat bereaksi. Ia bangkit dari tempat tidur, mendekati Cagatay dengan tenang. Bukan untuk melawan, tapi menahan kemarahan ayah Ivy. Dengan cekatan, Murray mengunci pergerakan Cagatay, membuat pria itu tak bisa bergerak.
Ivy menatap Murray dengan mata terbelalak, kagum sekaligus lega. Selama ini ia sempat meragukan kemampuan suaminya dalam hal bertarung. Namun kali ini, Murray membuktikan kekuatannya—meskipun Ivy masih sedikit khawatir dengan situasi ayahnya.
“Tenanglah, tuan!” ujar Murray dengan suara lembut namun mantap, mencoba menenangkan Cagatay.
“Aku tidak merestuinya! Bagaimana mungkin putriku yang masih muda belia menikah dengan anak ingusan sepertimu!” teriak Cagatay, raut wajahnya campur marah dan kecewa.
Ivy buru-buru menenangkan situasi. “Tuan, tenanglah. Ini keputusan kami untuk menikah di usia muda. Lagipula, saya bukan anak di bawah umur lagi!”
Murray tersenyum tipis, lega mendengar Ivy membela keputusan mereka. Namun Cagatay tetap kecewa. Wajahnya memerah dan matanya menatap Ivy tajam, hati kecilnya terluka saat mendengar putrinya memanggilnya dengan kata “tuan”.
“Kau… kau bahkan masih memanggilku tuan! Aku ini ayahmu!” Cagatay berkata dengan suara yang bergetar, campur antara marah dan sedih. Ivy menunduk, rasa bersalah tiba-tiba membebani dadanya. Ia menyesal karena menyadari bahwa ucapan sederhana itu bisa melukai perasaan ayahnya.
Setelah beberapa detik yang menegangkan, Cagatay melepaskan kuncian Murray dengan sihirnya. Dengan gerakan mudah, ia menyingkir, menatap Murray dengan tatapan penuh amarah dan jijik. Baginya, pria yang mengaku suami putrinya itu bahkan belum berpakaian lengkap, membuatnya semakin risih. Tanpa menunggu lebih lama, Cagatay berbalik dan meninggalkan rumah, langkahnya berat namun tegas.
Setelah Cagatay pergi, Murray menutup pintu dengan perlahan. “Maaf, aku lupa mengunci pintunya,” ujarnya, suaranya pecah keheningan yang tersisa.
Suasana tetap canggung, dan Ivy tetap diam. Matanya menatap lantai, memikirkan ucapan sang ayah tadi. Rasa bersalah dan sedikit kesal bercampur di dadanya.
Murray menatap istrinya yang murung, lalu melangkah mendekat. Ia menepuk lembut bahu Ivy, menunduk dan menatap matanya. “Hei… jangan terlalu dipikirkan. Aku di sini, kita bersama. Tak ada yang perlu kau takutkan,” bisiknya, lembut namun penuh keyakinan.
Ivy menghembuskan napas panjang, sebuah senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Kata-kata Murray menembus kekhawatiran yang mengganjal hatinya. Perlahan, senyum itu berkembang menjadi senyum hangat, dan ia merasakan kehangatan suaminya menyelimuti seluruh hatinya.
***
Beberapa menit kemudian, Ivy keluar dari kamar. Kali ini ia sudah berpakaian rapi, memilih baju yang sederhana namun elegan, agar terlihat sopan saat bertemu ayahnya. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah dan bunga-bunga liar dari kebun di depan rumah. Saat Ivy melangkah keluar, ia melihat Cagatay duduk di kursi panjang di teras, menatap kosong ke arah hutan di kejauhan, seolah tenggelam dalam lamunannya sendiri.
Ivy perlahan mendekat, duduk di sampingnya, dan menunduk sedikit sambil berkata dengan suara lembut, “Aku minta maaf. Aku tahu kalimatku sebelumnya membuatmu terluka.”
Cagatay tetap diam, wajahnya menahan perasaan campur aduk antara kecewa dan rindu. Ivy merasa sedikit cemas, menunggu reaksi ayahnya. Ia hendak bangkit dan pergi saat melihat pria itu tidak merespons, namun tepat saat ia berdiri, Cagatay akhirnya berbicara dengan suara serak, “Memangnya, apa yang terjadi di masa depan hingga kau membenciku?”
Mendengar itu, Ivy kembali duduk, menarik napas panjang, dan mendesah. “Ceritanya panjang… dan aku belum siap untuk menceritakannya. Mungkin suatu hari nanti,” jawabnya dengan nada lembut tapi tegas.
Seiring waktu, hubungan Ivy dan ayahnya perlahan membaik. Setiap percakapan dan momen kecil bersama membantu Ivy memaafkan masa lalu yang menyakitkan, meskipun proses itu berjalan perlahan.
Pada tahun 1323, Xia tiba-tiba datang menemui Ivy dan Murray. Kedatangannya membawa kabar mengejutkan: ia meminta bantuan mereka untuk membuat ruang rahasia bagi tuannya, Cedric Rodriguez. Ivy terkejut mendengar hal itu. Menurut sejarah, orang yang menciptakan ruang bawah tanah yang suatu hari akan menjadi negeri tersembunyi adalah Cedric Rodriguez.
Ivy dan Murray awalnya menolak tawaran itu. Mereka merasa tidak yakin dengan kemampuan mereka sendiri, takut jika hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, Cagatay justru menerima tawaran itu dengan antusiasme tinggi. Ia bersikeras, memaksa Ivy dan Murray untuk setuju, bahkan merayu mereka dengan kata-kata penuh motivasi yang membuat kedua pasangan itu akhirnya luluh.
Beberapa minggu kemudian, Ivy, Murray, Cagatay, dan Xia tiba di kediaman Cedric Rodriguez. Seperti yang digambarkan dalam legenda, Cedric adalah pria dengan paras yang menawan, wajar jika banyak wanita terpesona padanya. Namun di balik ketampanannya, ia dikenal sebagai pria yang setia, adil, dan bijaksana—khususnya setelah menikah.
Hari demi hari, Ivy, Murray, dan Cagatay bekerja keras. Mereka sibuk dengan konstruksi dan mantra, tapi proses itu justru membuat mereka semakin akrab. Ivy mulai menyadari betapa hebatnya Cagatay. Penguasaan sihirnya luar biasa, pengetahuan tentang mantra dan sejarah magis nyaris tak terbatas. Tidak heran jika sejak usia muda, ia sudah menjadi legenda.
Dua minggu kemudian, ruang bawah tanah itu selesai. Sesuai dengan catatan sejarah, mereka menciptakan ruang rahasia di bawah sumur, dilindungi oleh mantra dan darah Cedric Rodriguez. Ruangan itu tersembunyi sempurna, aman, dan nyaman. Cedric yang melihat hasil kerja mereka tersenyum puas, hatinya hangat karena kagum pada ketekunan Ivy, Murray, dan Cagatay.
Sebagai tanda penghargaan, Cedric membuat tiga patung untuk mereka. Saat Ivy, Murray, dan Cagatay menatap patung-patung itu, mereka menyadari sesuatu: mereka adalah tokoh misterius yang selama ini muncul dalam sejarah. Lukisan dan patung yang mereka lihat di sekolah sihir ternyata adalah representasi mereka sendiri.
Namun, mereka terkejut karena hanya ada tiga patung. Rasa penasaran muncul: siapa tokoh keempat yang belum tergambarkan? Saat mereka menatap Cedric, Ivy akhirnya berbicara, “Tuan Cedric, bisakah Anda membuat satu patung lagi… untukku, dan sejajarkan dengan yang lain?”
Cedric mengangguk, tersenyum bijak, seakan mengerti pentingnya hal itu bagi Ivy. Ruangan itu bukan hanya sebuah ruang rahasia, tapi kini menjadi simbol persahabatan, kerja keras, dan sejarah yang mereka bentuk bersama.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
