BAB 33
"Ini… bukannya ini gedung sekolah?" gumam Ivy, matanya menatap sekeliling koridor yang sepi. Suasana masih siang hari, jam pelajaran berlangsung, dan hanya sesekali terdengar langkah kaki guru di kejauhan. Namun beberapa detik kemudian, bel tanda istirahat berbunyi, memecah lamunannya dan membuat Ivy tersadar.
Seorang murid keluar dari salah satu kelas, dan tanpa berpikir panjang Ivy segera bertanya, “Tanggal hari ini berapa?” Wajahnya berubah pucat saat murid itu menjawab—tanggal itu adalah hari di mana laboratorium terbakar. Sebuah rasa panik merayapi tubuhnya.
Ivy berlari secepat mungkin ke arah kelas, langkahnya tergesa-gesa namun tubuhnya terasa seolah bergerak sendiri, didorong oleh naluri untuk mencegah kejadian buruk. Saat ia mencapai pintu kelas, ia berpapasan dengan Brayen.
"Loh, kenapa di sini? Gak jadi ke ruang guru?" ucap Brayen, nada suaranya ringan namun penuh tanda tanya.
Brayen menatap Ivy yang masih mengenakan masker. Meski wajahnya tertutup, Brayen bisa mengenalinya dengan jelas—seolah dia sudah hafal setiap lekuk wajah Ivy. Ia terlihat sedikit bingung melihat tubuh Ivy yang tampak kurus, dan sikapnya yang seolah mengacuhkan kehadirannya.
Ivy mengintip ke dalam kelas melalui sela tubuh Brayen, berharap dapat menemukan versi dirinya dari masa lalu. Dia punya ide untuk mencegah bencana yang akan terjadi di laboratorium.
"Hei, kekasihmu ada di depan mata, kenapa kau malah melihat ke arah lain!" ucap Brayen dengan nada ketus, membuat Ivy tersadar.
Ivy menoleh, dan ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan. Brayen, yang sedikit kesal, menarik Ivy menuju sudut tangga darurat yang sepi dan sempit di sisi lain kelas. Ivy pasrah, sadar bahwa ia kalah dalam hal kekuatan.
"Ivy, kenapa kau melamun? Ada masalah?" tanya Brayen lembut, lalu memeluk Ivy.
Pelukan itu hangat, sama seperti pelukan Brayen saat mereka pertama kali pacaran. Deru napasnya, detak jantungnya, bahkan sentuhannya membuat hati Ivy bergejolak, membuatnya terlena dan terhanyut.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Ivy, suaranya sedikit bergetar, membuat Brayen melepas pelukan sejenak.
"Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin kita pacaran," jawab Brayen tegas, tatapannya tajam namun penuh kepastian. Kata-katanya membuat jantung Ivy berdebar kencang, sekaligus menyentak kenangan akan bagaimana dia pernah memperlakukan Brayen dengan buruk setelah peristiwa laboratorium.
"Tapi bagaimana kalau wajahku rusak suatu hari nanti?" suara Ivy mulai serak, matanya sudah berkaca-kaca.
Tatapan Brayen melunak, ia mengelus lembut puncak kepala Ivy. "Aku memacari-mu tidak hanya melihat wajahmu, Ivy."
"Lalu apa? Kenapa kau mencintaiku? Apa yang membuatmu mau menjadi kekasihku?" suara Ivy terdengar sedikit kesal, karena Brayen selalu bersikap terlalu baik padanya.
"Entahlah, mungkin… itu dari hati," jawab Brayen, suaranya hangat.
"Aku merasa nyaman dan tenang saat berada di sampingmu," tambah Brayen, menatap Ivy dengan penuh kehangatan.
"Apa kau akan tetap di sisiku kalau wajahku seperti ini?" tanya Ivy, lalu perlahan membuka masker, memperlihatkan bekas luka bakar di wajahnya.
Brayen terkejut saat melihat bekas luka di wajah Ivy. Namun, ekspresinya tidak menampilkan jijik, malah ada kekaguman samar karena ia mengira itu hanya make-up.
"Bagaimana bisa? Apa ini make-up? Ini terlihat sangat nyata. Kau beli stiker tempel bekas luka ini dari mana, sayang?" tanya Brayen, matanya tak lepas menatap bekas luka Ivy dengan seksama.
Ia tertegun sejenak saat melihat mata Ivy berkaca-kaca. Sebuah rasa bersalah muncul di dadanya karena pertanyaan Ivy tak ia tanggapi dengan serius sebelumnya. Meski Ivy terlihat aneh hari ini, Brayen tetap menyukainya. Tanpa ragu, ia mencondongkan tubuh dan mengecup bekas luka itu. Ivy terkejut, tubuhnya membeku seketika.
Masih dalam keadaan kaget, Ivy menatap Brayen. Tatapannya bertemu dengan mata pria itu yang kini tersenyum lembut, membuat pipi Ivy memerah seperti tomat. Dadanya berdegup kencang, seakan ribuan kelopak bunga mekar di sana, mengisi hatinya dengan perasaan yang membingungkan dan hangat.
"Aku mencintaimu, bagaimanapun dirimu," ucap Brayen, terdiam sejenak seolah menimbang kata-katanya. "Lagipula, bekas luka bisa dihilangkan dengan operasi plastik sekarang. Ada banyak cara. Jadi, kenapa kau harus memikirkan masalah itu?"
Ucapan Brayen terdengar menenangkan, namun Ivy tahu di masa depan ia tetap tak mampu memperbaiki wajahnya karena keterbatasan finansial. Namun kata-kata itu sedikit menenangkan, dan Ivy tersadar akan hal penting.
"Oh tidak… aku harus mencegah diriku di masa kini!" gumam Ivy panik, wajahnya berubah serius.
"Aku harus pergi!" lanjut Ivy dengan terburu-buru.
"Kemana?" tanya Brayen sambil menahan pergelangan tangan Ivy, ekspresinya penuh kekhawatiran.
Ivy terdiam sesaat. Ia tidak mungkin mengatakan, “Aku akan menemui diriku di masa kini.” Itu terdengar gila bahkan baginya sendiri. Namun setelah berpikir ulang, ia memutuskan untuk meminta bantuan Brayen dengan cara yang lain—yakni mencari bukti tentang keburukan Natali dan anak buahnya terkait kebakaran laboratorium.
"Apa kau benar-benar mencintaiku, Brayen?" tanya Ivy dengan tatapan serius, matanya menatap lurus ke mata Brayen.
"Tentu saja. Bukannya tadi kau sudah menanyakannya?" jawab Brayen.
"Kalau begitu, kau harus putus denganku satu bulan lagi. Lalu dekati Natali, pacari dia, dan carilah bukti tentang kebakaran yang akan terjadi nanti," kata Ivy tegas, nada suaranya tidak bisa digoyahkan.
Brayen terdiam sejenak, kebingungan dan sedikit marah mendengar permintaan itu. Bagaimana mungkin dia harus berpacaran dengan Natali—padahal ia jelas tidak menyukainya—semua terdengar gila.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti! Dan kenapa aku harus pacaran dengan Natali? Kau tahu aku tidak menyukainya!" protes Brayen, suaranya campur aduk antara marah dan bingung.
"Kamu bilang kau mencintaiku. Berarti kau harus membantuku, karena hanya kau yang bisa aku percayai," balas Ivy, tatapannya penuh harap. Perlahan, tekanan itu membuat Brayen merasa terbebani, seolah tak ada pilihan lain selain menurutinya.
Brayen membuka mulut, ingin menolak dengan lembut, tapi Ivy cepat memotongnya.
"Setelah hari ini, mungkin aku akan berpura-pura menjauh darimu. Dan satu hal lagi, apapun yang terjadi, jangan bicarakan apa pun soal yang aku katakan ini pada siapa pun di masa depan!" tegas Ivy, suaranya mantap, matanya menatap Brayen tanpa berkedip.
Setelah mengatakan itu, Ivy mengecup bibir Brayen. Ciumannya lembut namun penuh gairah, tangan Ivy menyentuh tangan Brayen dengan rakus namun tetap lembut. Brayen terdiam, tak berkutik, namun ia merasakan kehangatan dan intensitas perasaan Ivy yang begitu nyata.
Saat mereka berpisah, Ivy menatap Brayen dengan tatapan penuh kepastian. "Kau milikku. Selamanya!" ucapnya tegas, lalu berlari menuruni tangga secepat mungkin, meninggalkan tangga darurat yang sepi, sementara Brayen hanya bisa menatapnya, campur perasaan kagum dan gelisah.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
