BAB 12
Ivy duduk di salah satu meja kayu panjang di sudut perpustakaan kota Manchester. Udara di ruangan itu sejuk dan sedikit berbau campuran kertas tua, debu dan bau has buku tua. Cahaya sore yang redup masuk melalui jendela tinggi bergaya Victoria, menimpa permukaan buku tebal yang kini terbuka di depannya. Perpustakaan sedang cukup sepi—hanya ada suara lembut langkah pustakawan yang sesekali lewat, dan bisikan halus halaman yang dibalik dari meja lain.
Ia menatap buku itu dengan rasa ingin tahu bercampur cemas. Sampulnya keras, lusuh, dan warnanya sudah pudar seperti kain yang terlalu lama dijemur. Saat ia membuka halaman pertama, Ivy mendapati kertasnya sudah berubah menjadi kuning kecokelatan, permukaannya kasar, berdebu, dan mengeluarkan bau yang khas—bau yang membuatnya sadar kalau buku ini mungkin telah melewati puluhan, bahkan ratusan tahun. Hal itu membuat jemarinya ragu menyentuh terlalu keras, seolah buku itu bisa hancur jika ia salah memperlakukannya.
Tidak ada tulisan apapun di halaman pertama, hanya kesunyian yang terasa aneh dari lembar kosong itu. Tapi begitu ia membuka lembaran kedua, pandangannya langsung disambut deretan huruf yang tampak asing. Tulisan itu tidak seperti cetakan biasa, melainkan bergaya mirip huruf script atau tegak bersambung yang rapi, seolah ditulis dengan pena tinta oleh tangan yang ahli. Namun setelah memperhatikan lebih lama, Ivy menyadari ada sedikit ketidakteraturan—setiap huruf memiliki bentuk yang tak persis sama, menunjukkan bahwa ini benar-benar tulisan tangan, bukan cetakan mesin.
Matanya sedikit menyipit, bibirnya terkatup rapat. Rasa penasaran bercampur frustrasi mulai merayap di dadanya. Tulisan ini indah, tapi sulit dibaca. Jemarinya perlahan mengikuti lekukan huruf di udara, mencoba memahami alurnya. Ia sempat mencari petunjuk—tahun pembuatan, atau penerbit—namun tidak menemukannya, hanya nama penulis, Nama penulisnya: Cagatay Ulusoy. Lembar demi lembar seakan menghindar dari rasa ingin tahunya. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Fokusnya kembali pada halaman kedua yang berisi penjelasan tentang sihir. Kata-kata di sana menjabarkan sihir sebagai sistem konseptual—kekuatan supranatural yang memungkinkan manusia mengendalikan alam. Diuraikan bahwa dalam sejarah, sihir selalu berada di bawah tekanan ilmu pengetahuan dan agama, bahkan sering dianggap musuh dari keduanya. Ivy membaca pelan, membiarkan setiap kalimat membentuk gambaran di kepalanya—tentang perburuan penyihir, ritual-ritual kuno, dan bisik-bisik rahasia di balik tirai peradaban.
Paragraf berikutnya menyebutkan bahwa di dunia Arkais, manusia dibagi menjadi tiga golongan: manusia biasa, siluman, dan penyihir. Dari sana, penjelasan merinci bahwa penyihir sendiri terbagi menjadi dua jenis—penyihir murni dan penyihir kotor. Penyihir murni adalah mereka yang mewarisi kekuatan dari garis keturunan, sedangkan penyihir kotor lahir dari orang tua manusia biasa, sering dianggap darah lumpur dan dilecehkan oleh penyihir murni.
Ivy terdiam lama di bagian ini. Ia merasa ada semacam ironi dalam tulisan itu—tentang diskriminasi, garis darah, dan nilai seseorang yang diukur dari hal yang tak bisa mereka pilih sejak lahir. Matanya sedikit mengeras, seolah kalimat-kalimat itu menyinggung sesuatu yang lebih personal.
Ivy membaca lembar demi lembar halaman buku tua itu, jari-jarinya perlahan menyusuri tepi kertas yang kasar. Bau debu bercampur aroma kayu tua dari rak di sekitarnya terasa memenuhi hidungnya. Cahaya lampu gantung di perpustakaan itu temaram, membuat bayangan rak-rak buku menjulur panjang di lantai kayu yang berderit setiap kali ia bergeser posisi duduk.
Awalnya, rasa penasaran mengiringi setiap halaman yang ia buka, tetapi lama-kelamaan matanya mulai terasa berat. Tulisan-tulisan berderet rapat dengan huruf kuno membuatnya sedikit bosan. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membalik halaman lebih cepat, berharap menemukan sesuatu yang berbeda.
Tiba-tiba, jemarinya berhenti. Matanya tertuju pada sebuah gambar unik di tengah halaman. Itu adalah satu-satunya ilustrasi yang ia temukan sejak membuka buku ini. Gambar itu memperlihatkan sepasang tangan, terbuka ke atas, seolah sedang membuat sebuah buku melayang di udara. Di bawah gambar itu terdapat penjelasan singkat dengan tinta hitam yang warnanya sudah mulai pudar.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Ivy membacanya dalam hati:
"Jika kau ingin mengambil suatu benda, kau bisa menggunakan mantra sihir sederhana ini."
Alis Ivy terangkat, dan sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Ini terdengar konyol," pikirnya. "Tapi… apa salahnya mencoba?"
Suara jarum jam tua di dinding terdengar berdetak lambat, mengisi keheningan ruangan. Ivy menarik kursinya sedikit lebih dekat ke meja, lalu menunduk membaca panduan yang tertera di bawahnya. Mantra yang harus diucapkan adalah: "αιωρούμενο γυαλί."
Tulisan itu tercetak dengan huruf tegak bersambung, mirip aksara kuno berbahasa Inggris, namun berbaur dengan nuansa Yunani. Ivy menatapnya lama. Ia tak pernah belajar bahasa itu, bahkan belum pernah mendengarnya sebelumnya. Anehnya, entah mengapa lidahnya seperti tahu bagaimana melafalkannya, dan ia samar-samar merasakan arti dari kata-kata itu—meskipun tak sepenuhnya memahaminya.
Ia mencoba mengucapkannya perlahan. Suara itu terasa asing di mulutnya, seperti memaksa bibir dan lidahnya bergerak dengan cara yang berbeda dari bahasa ibunya. Beberapa kali ia tersendat, mengulang suku kata hingga terdengar benar. Nafasnya keluar sedikit berat ketika akhirnya ia merasa pengucapannya cukup tepat.
Ivy menegakkan punggung, pandangannya terarah pada sebuah buku tebal berwarna cokelat di rak tak jauh darinya. Jaraknya tak lebih dari 80 sentimeter. Ia mengangkat tangan, jemarinya membentuk gerakan seolah hendak meraih buku itu dari kejauhan.
Perlahan, ia mengucapkan mantra itu. Suaranya nyaris berbisik, namun terdengar jelas di tengah sunyi perpustakaan. Tidak ada yang terjadi. Buku itu tetap diam di tempatnya, seakan mengejek usahanya. Ivy mengerutkan kening dan menghela napas frustrasi.
"Oke, sekali lagi," gumamnya. Kali ini ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan konsentrasi. Saat membuka mata, ia tatap buku itu lebih fokus, bibirnya melafalkan mantra dengan lebih mantap.
Detik berikutnya—
BUUK!
Buku cokelat itu terlepas dari rak dan jatuh menghantam lantai kayu, mengeluarkan bunyi yang memecah keheningan ruangan. Ivy terkejut, tubuhnya sedikit tersentak. Matanya melebar, lalu bibirnya perlahan melengkung dalam senyum tak percaya.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
