BAB 68
"Jaga ucapanmu! Aku tidak bodoh!" ucap Murray lagi dengan penuh penekanan, suaranya bergetar karena amarah yang memuncak.
Ivy menatap remaja laki-laki di hadapannya. Wajah Murray memerah hebat, seperti tomat yang terlalu matang. Sorot matanya berkilat penuh emosi, napasnya terengah-engah, dan jemarinya mengepal di atas meja. Ivy bisa merasakan betapa anak itu sedang menahan harga dirinya yang terkoyak.
Tak ingin membuat masalah semakin rumit, Ivy hanya menghembuskan napas kasar. Bahunya turun perlahan, seakan menandakan rasa lelahnya. “Hem... baiklah, terserah kau saja,” ucapnya datar, seolah menyerah pada sikap keras kepala Murray.
Namun, sebelum suasana menjadi semakin ricuh, Ivy dengan tenang mengucapkan sebuah mantra. Ujung jarinya bergetar pelan, lalu dalam sekejap seluruh barang yang sempat dibanting Murray kembali ke posisi semula. Piring kaca yang hampir retak tersusun rapi kembali, gulungan perkamen yang kusut merentang halus, bahkan botol cairan yang sempat terguling berdiri tegak di tepi meja.
Seluruh murid yang menyaksikannya terdiam sejenak, kemudian terpukau. Suara bisikan kekaguman bergaung di ruangan itu, sebab mereka tahu, sihir itu bukan sesuatu yang pernah mereka pelajari.
Murray sendiri juga terkejut, matanya melebar tak percaya. Tetapi rasa gengsinya jauh lebih besar daripada rasa kagumnya. Rahangnya mengeras, ia menunduk cepat, lalu tanpa berkata apapun lagi, ia meraih barang-barangnya dengan gerakan kasar. Dengan langkah terburu-buru, Murray meninggalkan Ivy dan memilih tempat duduk yang lebih jauh, seakan ingin melarikan diri dari rasa malu dan gengsi yang tercabik.
Ivy hanya menatap punggung Murray yang menjauh. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris dingin. Tak ada sedikitpun usaha untuk menahannya. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke depan kelas, menunggu sesuatu yang lebih penting.
Tak lama, pintu ruangan berderit terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Dentingan kecil dari hak sepatunya menggema di lantai batu, dan senyum merekah menghiasi wajah cantik serta terawatnya. Aura anggun sekaligus hangat seketika memenuhi ruangan. Semua siswa langsung menyapanya dengan ramah, ada yang menunduk, ada yang melambaikan tangan dengan penuh hormat.
Kecuali Ivy. Gadis itu terpaku di kursinya, matanya membelalak, dadanya terasa berdegup lebih cepat.
"Itu... bukannya Vivian? Wanita penjual tongkat sihir itu?" gumam Ivy, kaget bukan main.
Ya, wanita itu memang Vivian. Wanita yang pernah ditemuinya di toko tongkat sihir beberapa waktu lalu. Tak hanya Ivy yang menyadari pesonanya, seluruh ruangan seolah ikut terhisap ke dalam pancaran energinya. Vivian tersenyum lembut, matanya menyapu murid-muridnya. Saat tatapannya bertemu dengan Ivy, ia mengedipkan sebelah mata disertai senyum manis yang penuh arti.
Ivy semakin yakin—tidak salah lagi, wanita itu memang Vivian.
“Kenapa dia ada di sini? Apa dia guru kelas ini?” batin Ivy penuh tanda tanya, perasaan tidak tenang mulai bergejolak dalam dirinya.
“Nah, apa kabar kalian semua, para muridku?” sapa Vivian dengan suara lantang namun lembut. Nada bicaranya penuh semangat, membuat suasana kelas langsung mencair. Beberapa siswa bahkan tergelak ketika Vivian melontarkan candaan kecil, dan seisi ruangan mendadak terasa hangat serta bersahabat.
“Hari ini,” lanjutnya dengan suara jernih, “kita akan belajar ramuan obat penghilang ingatan. Atau biasa disebut dengan ramuan hijau. Ramuan ini wajib kalian pelajari, karena setiap penyihir harus mampu meraciknya dengan benar!”
Ucapan itu membuat Ivy terhenyak. Perlahan, keraguannya berubah menjadi kepastian—Vivian memang benar-benar guru kelas ini.
Sementara para murid menjawab dengan patuh, membuka buku ramuan mereka dan mencari komposisi bahan, Vivian berjalan anggun menuju lemari besar di sisi ruangan. Dari sana ia mengambil sebuah botol kaca bening berisi cairan hijau pekat. Botol itu berkilau memantulkan cahaya lilin-lilin gantung yang temaram.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
