27.

86 3 0
                                        

BAB 27



Sementa dan Margaret saling bertukar pandangan. Tatapan mereka singkat namun sarat makna—sebuah isyarat halus yang penuh rasa meremehkan ucapan Natali. Nada suara Natali memang terdengar berlebihan, nyaris sombong, seolah hanya dia satu-satunya gadis yang benar-benar kaya di ruangan itu. Padahal, baik Sementa maupun Margaret bukanlah gadis miskin yang tak mampu membeli barang-barang mewah. Orang tua mereka masih sanggup memenuhi hampir semua keinginan, meskipun tidak setiap permintaan dikabulkan. Bukan karena tak mampu, melainkan karena keluarga mereka memegang prinsip: membeli sesuatu hanya bila benar-benar dibutuhkan, bukan demi kepuasan sesaat. Di keluarga mereka, keputusan selalu ada di tangan orang tua—pemilik sesungguhnya dari dompet keluarga.

Di ruang tamu kafe bergaya Victoria tempat mereka duduk, aroma kopi hitam dan pastry hangat bercampur dengan suara hujan tipis yang membasuh jendela. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan meja kayu mengkilap, memberi suasana yang sedikit tegang namun tetap elegan.

"Memberikan apa? Kami bisa membeli apa pun yang kami mau, tuh," ucap Sementa sambil mengangkat dagunya sedikit, senyumnya tipis, nyaris menantang.

Natali tidak terlihat tersinggung. Sebaliknya, ia langsung condong ke depan, suaranya tenang tapi penuh percaya diri. "Bagaimana jika aku bisa menjadikan kamu seorang model di majalah ternama, Sementa?"

Ucapan itu membuat Sementa sedikit membeku. Menjadi model adalah impiannya sejak kecil—impian yang selalu ia kejar lewat berbagai kontes kecantikan. Namun hasilnya selalu sama: kalah. Orang tuanya tidak pernah memberikan dukungan penuh, lebih mendorongnya fokus pada sekolah daripada bekerja. Kata-kata Natali seperti memukul tepat di titik lemahnya, membuatnya terkejut sekaligus tersenyum tipis, meski di matanya masih ada keraguan.

"Kau bercanda?" Sementa akhirnya membuka suara, matanya menyipit meneliti wajah Natali.

"Aku punya kenalan yang bisa membantumu," jawab Natali cepat, nada suaranya semakin mantap. Ia lalu menatap langsung ke mata Sementa. "Selain itu… aku juga tahu kalau keluargamu sedang kesulitan finansial, kan? Aku akan membantumu—kalau kau mau melakukan apa yang aku suruh tadi."

Mata Sementa membesar sedikit. Bagaimana Natali bisa tahu kondisi keluarganya? Namun ucapannya itu terasa seperti setetes air di tengah padang pasir. Godaan itu terlalu besar untuk diabaikan, terlebih sejak beberapa bulan terakhir bisnis properti ayahnya tersendat. Perang di bagian lain benua Eropa telah memukul pasar, membuat harga properti anjlok dan bahan pokok melambung tinggi. Rumah keluarga Sementa di pinggiran Manchester memang masih terawat, tapi percakapan di meja makan mereka kini lebih sering membahas penghematan daripada rencana liburan.

"Tawaranmu memang menggiurkan," ucap Sementa pelan, senyumnya mencibir. "Tapi… kau pikir kau itu sekaya apa, Natali, sampai bisa membantu finansial keluargaku?" Margaret yang duduk di sampingnya mengangguk pelan, mendukung sikap temannya.

Natali hanya tersenyum samar. Ia merogoh tas kulitnya, lalu mengeluarkan selembar kertas panjang berwarna krem. "Dengan ini."

Sementa memicingkan mata. Begitu jarak di antara mereka terhapus, ia melihat jelas angka nol berderet di atas kertas itu. "I… ini cek!" serunya, hampir tak percaya.

Natali menaruhnya di meja sebentar—cukup lama untuk membuat Sementa ingin meraihnya—namun sebelum jemarinya menyentuh, Natali sudah menariknya kembali. "Ya, kau bisa mencairkannya. Tapi kau harus melakukan perintahku."

"Tentu!" Sementa hampir berseru, senyumnya melebar, matanya berbinar. Ia tak mencoba menutupi antusiasmenya.

Natali membalas dengan senyum sinis, lalu beralih menatap Margaret. Tatapan itu tajam dan menusuk, membuat Margaret spontan menegakkan punggung.

"Dan untukmu," suara Natali menurun, dingin, "aku punya video porno-mu dengan Danil. Kalau kau macam-macam, aku bisa menyebarkannya di media sosial."

"..."
Margaret hanya terdiam. Tatapan matanya kosong, tapi ada kilatan takut yang tak mampu ia sembunyikan. Napasnya terasa berat, seperti ada beban besar yang menghimpit dadanya. Tanpa sadar, pikirannya mulai mengembara ke masa lalu—ke sebuah malam yang seharusnya sudah ia kubur rapat-rapat.

Ingatan itu begitu jelas. Beberapa bulan setelah ia dan Danil masuk SMA, sebuah pesta besar digelar untuk merayakan ulang tahun sahabat mereka. Semua orang hadir malam itu, termasuk Margaret dan Danil. Musik berdentum dari speaker besar, lampu pesta berkelip-kelip, dan aroma alkohol bercampur parfum memenuhi ruangan. Namun, saat pesta semakin larut, entah bagaimana mereka malah terpisah dari keramaian.

Margaret tidak ingat detailnya, hanya potongan-potongan gambar buram di kepalanya. Mereka berdua terlalu mabuk untuk berpikir jernih. Namun satu hal yang pasti—malam itu tubuh mereka terjerat panasnya hasrat. Momen yang begitu intens, hingga Margaret sendiri sulit percaya itu benar-benar terjadi. Yang lebih mengejutkan, saat itu Danil masih berpacaran dengan Elena.

Margaret mencoba membenarkan semuanya di kepalanya—mabuk, kehilangan kendali, tak sadar diri. Ia tak pernah menganggapnya sebagai perselingkuhan. Setelah malam itu, mereka saling menjaga jarak, seolah kejadian tersebut hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar ada.

Namun kenyataan lebih kejam. Saat ia kembali sadar keesokan harinya, Margaret mendapati Danil merekam semua itu. Video vulgar mereka, Danil dan Margaret. Ia yakin sudah menghapusnya dari ponsel Danil, menghapus jejak aibnya. Tetapi pertanyaan besar kini menyesakkan dadanya—bagaimana Natali bisa mendapatkan video itu? Apakah ada salinan lain yang ia tidak ketahui?

"Baiklah," ucap Margaret dengan nada kesal, meski matanya menyiratkan kepasrahan. "Kami akan melakukan apa yang kau perintahkan. Tapi... apa alasannya?"

"Kalian tidak perlu banyak bertanya. Lakukan saja," jawab Natali singkat. Bibirnya melengkung membentuk senyum sinis—senyum yang membuat darah Margaret dan Sementa terasa dingin.

Dalam sekejap, bayangan ketiga gadis itu menghilang, seiring Ivy membuka matanya. Napasnya sedikit memburu. Semua yang baru saja ia lihat hanyalah potongan ingatan Margaret—potongan yang tersingkap karena sihirnya.

"Ternyata… selama ini ulah mereka," gumam Ivy, rahangnya mengeras.

Ia menatap ke arah tong sampah di sudut ruangan, tempat kotak paket penuh teror itu ia buang. Sebuah pikiran menghantui—apakah paket itu juga ulah Natali? Dari ingatan Margaret, gadis itu sama sekali tak tahu soal paket tersebut, sehingga misteri itu semakin membelit kepala Ivy.

Dari ingatan yang sama, Ivy juga mengetahui sesuatu yang mengejutkan: Emeli—gadis berambut merah yang selama ini menjadi tersangka utama pembunuhan Jessica—tidak pernah meninggalkan Inggris. Dia masih berada di London, tepatnya di rumahnya sendiri.

Margaret memang belum pernah melihat Elena secara langsung. Namun, ia tahu Elena berada di kota itu dari pesan yang masuk di ponsel Natali—pesan yang sempat ia intip saat bersama mereka.

"Kenapa dia bersembunyi? Apa dia ketakutan?" bisik Ivy pada dirinya sendiri.

Ia menghela napas panjang, lalu mengambil kembali kotak paket dari tong sampah. Tanpa membuang waktu, ia melangkah keluar rumah, angin Manchester yang dingin segera menyapu wajahnya. Tujuannya jelas—rumah Elena.

Langkah Ivy semakin cepat. Ada ketegangan yang mengalir di nadinya. Jantungnya berdetak keras, dan pikirannya dipenuhi ribuan kata yang saling bertabrakan. Marah, kesal, benci, kecewa, rindu—semuanya bercampur menjadi satu. Dulu, Elena bukan sekadar teman, tapi sahabat dekat. Meskipun persahabatan itu hanya bertahan beberapa bulan, mereka sudah berbagi banyak momen indah.

Bukan hanya Elena. Ivy juga pernah bersahabat erat dengan Natali, Margaret, dan Sementa. Namun semuanya hancur seketika sejak peristiwa kebakaran itu. Bersamaan dengan itu, mimpi Ivy ikut terbakar.

Bersambung ! 

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang