42.

63 6 0
                                        

BAB 42



Beberapa hari kemudian. Langit Manchester sore itu kelabu, awan tebal menggantung rendah, sementara kabut tipis merambat di antara batu-batu nisan tua yang berlumut. Gerimis baru saja reda, menyisakan tanah becek dan aroma tanah basah yang menusuk. Sekelompok orang berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi sebuah makam yang baru saja digali. Suasana begitu hening, hanya sesekali terdengar desir angin melewati pepohonan cemara di pemakaman tua itu.

Di barisan paling depan, seorang wanita hamil berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sebuket bunga lili putih. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi pipinya yang pucat. Sesekali ia menyeka wajahnya, namun tangisnya tetap tak bisa ia bendung. Pandangannya tertuju pada sebuah batu nisan yang baru dipasang, dengan nama terukir jelas: Elsie Cotton. Wanita itu tidak lain adalah Linda, ibu dari Ivy. Kesedihan begitu nyata di wajahnya; setiap helaan napas terasa berat, seolah separuh hidupnya ikut terkubur bersama nisan itu.

Di sekitar Linda, berdiri beberapa orang yang juga larut dalam kesedihan. Elena, Natali, Margaret, dan Sementa tampak menunduk, sementara Leo dan Brayen berdiri kaku, wajah mereka muram di bawah bayangan payung hitam. Kedua sahabat Ivy, Jini dan Rouni, juga hadir di sana, berdiri di sisi belakang bersama beberapa guru serta murid lainnya. Tangis lirih terdengar dari beberapa orang, namun di antara raut duka itu, ada pula yang menyimpan sesuatu di balik wajah murung mereka.

Natali, misalnya. Wajahnya tampak serius, matanya berkaca-kaca seolah ikut berduka, tetapi di balik itu, ada senyum samar yang sesekali muncul di bibirnya. Ia menyembunyikan kesenangan kecil-perasaan lega yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Kepergian Ivy memberinya rasa aman. Dengan terkuburnya jasad yang ia yakini sebagai mantan sahabatnya itu, ancaman akan terbongkarnya pembunuhan di masa lalu pun ikut terkubur.

Saat pendeta mulai membacakan doa pemakaman, suara lirihnya bercampur dengan desir angin. Natali tanpa sadar mengangkat pandangan, matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di bukit kecil di seberang pemakaman, dua sosok berdiri tegak, siluet mereka samar tertutup kabut. Salah satunya seorang pria dengan pakaian bergaya kuno, bertopi lebar. Di sisinya, seorang perempuan bergaun putih panjang, anggun, namun wajahnya tak terlihat jelas karena keduanya mengenakan topi dan kacamata hitam. Meski jarak mereka cukup jauh, Natali merasakan hal aneh: tatapan tajam perempuan itu seolah menembus kabut, langsung mengawasinya. Jantung Natali berdetak lebih cepat, senyum samar di bibirnya menghilang seketika.

Brayen, yang berdiri tepat di depannya, sempat menoleh sekilas ke arahnya. Tatapan Brayen begitu tajam, penuh kebencian, hingga tangannya mengepal kuat tanpa sadar. Serge, sahabat mereka, melihat gerakan itu dan mengernyit bingung. Ia tidak mengerti mengapa Brayen begitu membenci pacarnya sendiri, tapi ia memilih diam, hanya menyimpan rasa penasaran di dalam hati.

Sementara itu, jauh di atas bukit, angin berhembus lembut menerpa dedaunan kering. Pria bertopi itu menoleh pada perempuan bergaun putih, lalu perlahan menyentuh bahunya. Perempuan itu menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. Tanpa berkata banyak, pria itu mengeluarkan sebuah kalung berwarna hitam pekat, dengan liontin berbentuk kunci dan permata merah menyala di tengahnya.

"Ini... apa?" tanya perempuan itu pelan, suaranya terdengar bimbang namun penasaran.

"Itu untukmu," jawab pria itu tenang. "Di masa depan, kau akan mendapatkan banyak pertanyaan... dan kunci itu akan membawamu menemukan jawabannya, Ivy."

Nama itu membuat perempuan bergaun putih terdiam. Ivy menatap kalung itu lama, alisnya berkerut. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan yang tak pernah ia temukan jawabannya. Dan kini, mendengar ucapan pria itu-Cagatay, sang penjelajah waktu-hatinya makin diliputi kebingungan. Jika masa depan saja masih penuh dengan misteri, maka kalung ini hanyalah awal dari teka-teki yang lebih besar. Meski ragu, akhirnya Ivy meraih kalung itu dan mengalungkannya di leher, seolah takut kehilangan benda penting itu.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang