BAB 83
Ivy melihat ke atas meja makan. Meja kayu sederhana itu kini dipenuhi hidangan yang mengejutkan mereka. Ada sepanci besar sup kencang rebus yang masih mengepulkan uap panas, aromanya harum dan menggoda. Di sampingnya, tersaji daging bakar dengan potongan besar yang terlihat begitu lezat—permukaannya kecokelatan, berkilau oleh minyak alami yang keluar dari dagingnya. Hanya dengan menatapnya saja, perut Ivy dan Murray terasa semakin kosong. Mereka sudah lama tidak menyantap makanan hangat, apalagi daging, sehingga pemandangan itu hampir membuat air liur menetes tanpa sadar.
"Tidak, ini sudah lebih dari cukup," ucap Ivy dengan tulus. Senyumnya merekah indah, meski wajahnya masih tampak lelah setelah perjalanan panjang.
Murray, yang duduk di sampingnya, ikut terpesona oleh senyum itu. Pipi Murray merona, dadanya berdebar kencang. Senyum lembut Ivy baginya adalah cahaya kecil yang mampu menyingkirkan letih, meski hanya sekejap.
"Ini... daging apa?" tanya Ivy tiba-tiba, memecah lamunan Murray.
"Daging rusa," jawab Rayon singkat sambil mengulurkan tangannya mengambil potongan besar daging.
Murray menegakkan tubuhnya, penasaran. "Dari mana Anda mendapatkannya? Apa Anda berburu?"
"Aku berburu," jawab Rayon. Suaranya datar, namun mata pria itu terlihat serius. "Tidak ada yang bisa kuandalkan di tanah ini selain hasil buruan." Ia menaruh potongan daging rusa ke piring kayu di hadapannya, lalu menambahkan dengan nada getir, "Sebenarnya aku ingin beternak, tapi hewan-hewan peliharaan itu pasti lenyap dalam seminggu... dimangsa binatang buas."
Nada Rayon terdengar seperti keluhan lama yang sudah sering diulang dalam hati.
Ivy dan Murray saling menatap sekilas. Ada rasa waswas yang sama di mata keduanya. Murray lalu memberanikan diri bertanya, suaranya setengah berbisik, "Apa tempat ini benar-benar... sangat berbahaya?"
Rayon berhenti sejenak, sorot matanya tajam. "Ya. Sangat berbahaya," jawabnya perlahan. "Terutama saat malam tiba. Jadi, berhati-hatilah."
Jawaban itu membuat suasana meja makan sedikit menegang. Ivy menggenggam kedua tangannya erat di pangkuan, mencoba menenangkan diri. Ia tahu tempat ini dipenuhi monster, tapi mendengarnya langsung dari mulut orang lain membuat rasa takutnya semakin nyata.
Dengan hati-hati, Murray bertanya lagi, "Mohon maaf sebelumnya... apa Anda tinggal sendirian di sini?"
Rayon menghela napas panjang, lalu menatap nyala api obor di dinding yang temaram. "Ya, aku tinggal sendiri. Dulu aku hidup di gereja bersama beberapa rekanku. Tapi... empat tahun lalu, kerajaanku runtuh." Ada kilatan pahit di matanya. "Sejak itu aku datang ke sini, mencari perlindungan. Perang waktu itu... mengerikan. Darah, api, dan teriakan tak berkesudahan."
Ivy dan Murray terdiam, mendengarkan setiap kata dengan hati yang bergetar. Rayon menambahkan, "Meski begitu, aku tidak sepenuhnya sendiri. Ada tiga orang lain yang juga tinggal di wilayah ini. Mereka pemburu, sama sepertiku. Tapi tempat tinggal mereka jauh dari sini."
Ivy spontan teringat pada obrolan siang tadi tentang kota yang jauh dari tempat ini. Rasa penasaran membuatnya tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Oh ya," ucap Ivy, suaranya pelan namun penuh rasa ingin tahu. "Sebelumnya Anda bilang... kota terdekat butuh perjalanan seminggu, atau tiga hari lewat jalur laut. Lalu... apakah ada desa terdekat dari sini?"
Pertanyaan itu membuat Rayon menoleh cepat. Sorot matanya berubah. Ada kecurigaan jelas dalam tatapannya. Wajahnya menegang, seolah Ivy baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
