BAB 38
Tiga jam kemudian, udara malam di tepi kota Manchester semakin menusuk tulang. Kabut tipis mulai turun, merayap di antara pohon-pohon yang menjulang. Di tanah yang lembab dan berlumut, Ivy tergeletak tak berdaya. Sementara itu, ketiga pria itu—Hugo, Je, dan Ken—sibuk merapikan baju seragam mereka yang kusut, mengancingkan kemeja sambil sesekali menatap tubuh lemah gadis itu.
Wajah mereka masih dipenuhi sisa keringat dan nafas terengah, namun tatapan mereka dingin, seakan tak ada sedikit pun penyesalan. Cahaya lampu jalan yang redup dari kejauhan hanya memberi siluet samar, membuat bayangan mereka jatuh panjang di tanah yang basah.
"Apa yang terjadi? Apa dia mati? Kenapa dia tidak bergerak?" tanya Danil dengan nada tegang, matanya menatap Ivy yang masih terbaring kaku. Ia maju selangkah, melihat goresan-goresan di kulit Ivy yang kini memar dan berdarah. "Dia bahkan punya banyak luka… apa kalian—memakannya, ha?" suaranya meninggi, amarahnya meledak.
Pertanyaan itu membuat Hugo dan Ken saling berpandangan, sedikit panik sekaligus tersinggung. Je, sebaliknya, terlihat paling tenang. Senyum tipis yang menghiasi wajahnya justru menambah suasana mencekam.
"Dia paling cuma pingsan," ucap Je santai. "Dan lagi, dia nggak akan bisa melakukan apa pun, bahkan kalau dia lapor polisi sekalipun. Natali sudah menjamin keselamatan kita semua… Jadi, sebaiknya kita pergi sekarang."
Danil menatap mereka tak percaya. "Kalian akan meninggalkannya?" tanyanya, memastikan ia tak salah dengar.
"Tentu saja," jawab Je datar, seolah keputusan itu adalah hal paling wajar di dunia.
"Kau tidak waras!" suara Danil pecah. Ia menghela napas berat, dadanya naik-turun karena marah. "Dia bisa mati di sini!"
Je mendekat, tatapannya berubah tajam seperti bilah pisau. "Terus kau mau apa?" ucapnya dengan nada rendah namun menusuk. "Membawanya ke rumah sakit, lalu masuk penjara karena tuduhan pemerkosaan? Lalu membuat masa depanmu hancur?"
Mendengar hal itu, Danil menggeretakkan giginya. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya kasar. Raut wajahnya penuh frustrasi, napasnya memburu. "Kau tahu ini akan terjadi, makanya aku tidak setuju dari awal kalian melakukan hal ini," katanya, suaranya berat menahan amarah dan penyesalan.
"Diamlah. Lagipula, kita sudah sepakat sebelumnya, dan kau juga termasuk orang yang memakan uang pemberian dari Natali!" potong Hugo cepat, nadanya penuh sindiran.
Danil terdiam. Kata-kata Hugo menusuknya dalam-dalam, membuat dadanya sesak. Ia tahu ia tak bisa membantah, meski rasa bersalah membakar pikirannya. Hugo menarik lengannya kasar, memaksanya untuk bergerak. Tanpa daya, Danil mengikuti langkahnya. Pada akhirnya, keempat pemuda itu meninggalkan Ivy yang tak berdaya di tengah hutan gelap yang mulai diselimuti kabut tipis sore hari.
Mereka bergegas keluar dari pepohonan menuju sebuah mobil sedan mewah berwarna putih yang terparkir di sisi jalan setapak. Nafas mereka masih terengah, seragam sekolah mereka kusut, ternoda lumpur dan bercak darah yang mulai mengering. Udara malam di pinggiran Manchester terasa lembap, disertai embusan angin yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Je langsung duduk di kursi kemudi, sementara yang lain masuk terburu-buru, saling pandang dengan wajah pucat.
"Apa kalian yakin meninggalkannya di sini? Bagaimana jika dia benar-benar mati?" tanya Danil, suaranya berat penuh keraguan, matanya sesekali melirik kaca spion ke arah jalan hutan yang semakin tertelan gelap.
"Danil! Justru kalau kita membawanya, kita yang akan terkena masalah. Apa kau lupa apa yang sudah kita lakukan padanya hari ini?!" bentak Je, nadanya meninggi, kedua tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih.
Danil menahan diri untuk tidak membalas. Di dalam hati, ia menggerutu, Kalian yang melakukannya, bukan aku! Tatapannya beralih ke Mak dan Hugo. Keduanya terdiam, wajah mereka kaku dan pucat, seolah menghindari beban yang menggantung di udara.
Hening menelan kabin mobil, hanya suara mesin yang menderu pelan. Mak, yang duduk di kursi penumpang depan, tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan nada datar namun penuh keyakinan, "Kalau untuk Ivy… aku rasa kita tak perlu khawatir. Kita pasti dilindungi oleh orang tua Cerestina dan Elena. Bukankah anak mereka yang memerintahkan kita melakukan ini pada Ivy? Kalau mereka tidak melindungi kita, kita hanya perlu menyeret nama mereka."
Ucapan itu membuat Je, dan Hugo saling pandang sejenak, lalu napas mereka terasa lebih lega, seolah beban di dada sedikit terangkat. Namun bagi Danil, kata-kata itu justru seperti menekan dadanya lebih keras. Ia memalingkan wajah ke jendela, menyaksikan pepohonan hutan yang semakin menjauh, terbungkus kabut tipis malam. Rasa bersalah itu menelannya hidup-hidup. Meskipun tangannya sendiri tak pernah menyakiti Ivy, diamnya—hanya berdiri dan membiarkan—membuatnya merasa sama kotornya dengan mereka. Jemarinya masih bergetar di pangkuan, dan dalam hati ia tahu, dosa ini akan terus mengikutinya. Mobil pun melaju, meninggalkan hutan.
Begitu suara mesin menghilang, hutan kembali tenggelam dalam kesunyian. Hanya suara dedaunan yang bergesekan diterpa angin sore, kicauan burung yang sesekali terdengar, dan dengungan serangga yang membentuk irama monoton. Namun, ketenangan itu pecah ketika terdengar suara isak tangis dari dalam hutan.
Di antara semak belukar, seorang gadis muda tergeletak lemah di tanah yang lembap. Kedua tangan dan kakinya terikat erat, seragam sekolahnya lusuh, kotor, dan penuh bercak darah. Robekan di beberapa bagian kain memperlihatkan luka-luka di kulitnya. Sepatu kirinya hilang entah kemana, meninggalkan kaki telanjang yang berlumur tanah.
Ia menangis tersengal, setiap isakan disertai rintihan kesakitan. Tubuhnya gemetar, namun matanya mulai terbuka perlahan. Tatapannya tajam, penuh kebencian yang mendidih di dalam dada. Di sekitarnya, buku, tas, dan barang-barang pribadinya berserakan, terinjak-injak lumpur. Jemarinya mencengkeram dedaunan kering hingga hancur, seolah mencoba mencatat rasa marah itu di tanah.
Tiba-tiba, ia menjerit—teriakan panjang yang menusuk, membelah keheningan. Burung-burung beterbangan panik dari pepohonan, meninggalkan ranting-ranting bergoyang liar.
Di dalam sedan putih yang sudah menjauh, Danil menoleh ke jendela belakang. Wajahnya menegang. "Apa kalian mendengar suara itu?" tanyanya, matanya menyipit menatap bayangan hutan yang semakin memudar di kejauhan.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
